Kumpulan Silabus dan RPP berkarakter untuk SMA LENGKAP!!
Untuk Silabus nya anda bisa unduh dengan link dibawah ini, Semua contoh ini gratis lho!!
RPP DAN SILABUS SEJARAH SMA
1. RPP Sejarah SMA Kelas X
2. RPP Sejarah IPA SMA Kelas XI
3. RPP Sejarah IPS SMA Kelas XI
4. RPP Sejarah IPA SMA Kelas XII
5. RPP Sejarah IPS SMA Kelas XII
1. Silabus Sejarah SMA Kelas X
2. Silabus Sejarah IPA SMA Kelas XI
3. Silabus Sejarah IPS SMA Kelas XI
4. Silabus Sejarah IPA SMA Kelas XII
5. Silabus Sejarah IPS SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS SENI BUDAYA SMA
1. RPP Seni Budaya SMA Kelas X
2. RPP Seni Budaya SMA Kelas XI
3. RPP Seni Budaya SMA Kelas XII
1. Silabus Seni Budaya SMA Kelas X
2. Silabus Seni Budaya SMA Kelas XI
3. Silabus Seni Budaya SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS SOSIOLOGI SMA
1. RPP Sosiologi SMA Kelas X
2. RPP Sosiologi SMA Kelas XI
3. RPP Sosiologi SMA Kelas XII
1. Silabus Sosiologi SMA Kelas X
2. Silabus Sosiologi SMA Kelas XI
3. Silabus Sosiologi SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS TIK SMA
1. RPP TIK SMA Kelas X
2. RPP TIK SMA Kelas XI
3. RPP TIK SMA Kelas XII
1. Silabus TIK SMA Kelas X
2. Silabus TIK SMA Kelas XI
3. Silabus TIK SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS BAHASA INGGRIS SMA
1. RPP Bahasa Inggris SMA Kelas X
2. RPP Bahasa Inggris SMA Kelas XI
3. RPP Bahasa Inggris SMA Kelas XII
1. Silabus Bahasa Inggris SMA Kelas X
2. Silabus Bahasa Inggris SMA Kelas XI
3. Silabus Bahasa Inggris SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS BIOLOGI SMA
1. RPP Biologi SMA Kelas X
2. RPP Biologi SMA Kelas XI
3. RPP Biologi SMA Kelas XII
1. Silabus Biologi SMA Kelas X
2. Silabus Biologi SMA Kelas XI
3. Silabus Biologi SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS EKONOMI SMA
1. RPP Ekonomi SMA Kelas X
2. RPP Ekonomi SMA Kelas XI
3. RPP Ekonomi SMA Kelas XII
1. Silabus Ekonomi SMA Kelas X
2. Silabus Ekonomi SMA Kelas XI
3. Silabus Ekonomi SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS FISIKA SMA
1. RPP Fisika SMA Kelas X
2. RPP Fisika SMA Kelas XI
3. RPP Fisika SMA Kelas XII
1. Silabus Fisika SMA Kelas X
2. Silabus Fisika SMA Kelas XI
3. Silabus Fisika SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS BAHASA INDONESIA SMA
1. RPP Bahasa Indonesia SMA Kelas X
2. RPP Bahasa Indonesia SMA Kelas XI
3. RPP Bahasa Indonesia SMA Kelas XII
1. Silabus Bahasa Indonesia SMA Kelas X
2. Silabus Bahasa Indonesia SMA Kelas XI
3. Silabus Bahasa Indonesia SMA Kelas XII

RPP DAN SILABUS GEOGRAFI SMA
1. RPP Geografi SMA Kelas X
2. RPP Geografi SMA Kelas XI
3. RPP Geografi SMA Kelas XII
1. Silabus Geografi SMA Kelas X
2. Silabus Geografi SMA Kelas XI
3. Silabus Geografi SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS PKN SMA
1. RPP PKN SMA Kelas X
2. RPP PKN SMA Kelas XI
3. RPP PKN SMA Kelas XII
1. Silabus PKN SMA Kelas X
2. Silabus PKN SMA Kelas XI
3. Silabus PKN SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS KIMIA SMA
1. RPP Kimia SMA Kelas X
2. RPP Kimia SMA Kelas XI
3. RPP Kimia SMA Kelas XII
1. Silabus Kimia SMA Kelas X
2. Silabus Kimia SMA Kelas XI
3. Silabus Kimia SMA Kelas XII
RPP DAN SILABS MATEMATIKA SMA
1. RPP Matematika SMA Kelas X
2. RPP Matematika IPA SMA Kelas XI
3. RPP Matematika IPS SMA Kelas XI
4. RPP Matematika IPA SMA Kelas XII
5. RPP Matematika IPS SMA Kelas XII
1. Silabus Matematika SMA Kelas X
2. Silabus Matematika IPA SMA Kelas XI
3. Silabus Matematika IPS SMA Kelas XI
4. Silabus Matematika IPA SMA Kelas XII
5. Silabus Matematika IPS SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS PAI SMA
1. RPP PAI SMA Kelas X
2. RPP PAI SMA Kelas XI
3. RPP PAI SMA Kelas XII
1. Silabus PAI SMA Kelas X
2. Silabus PAI SMA Kelas XI
3. Silabus PAI SMA Kelas XII
RPP DAN SILABUS PENJASKES SMA
1. RPP Penjaskes SMA Kelas X
2. RPP Penjaskes SMA Kelas XI
3. RPP Penjaskes SMA Kelas XII
1. Silabus Penjaskes SMA Kelas X
2. Silabus Penjaskes SMA Kelas XI
3. Silabus Penjaskes SMA Kelas XII

Kumpulan Silabus RPP SMA berkarakter lainnya

DOWNLOAD SILABUS RPP KTSP SMA KELAS 1 / X 1. Sosiologi 2. PKN 3. Matematika 4. Sejarah 5. Seni Rupa 6. Fisika 7. Biologi 8. Bahasa Inggris 9. PAI 10. Ekonomi
DOWNLOAD SILABUS RPP KTSP SMA KELAS 2 / XI 1. Sosiologi 2. Ekonomi 3. PAI 4. Sejarah 5. Biologi 6. Bahasa Indonesia 7. Matematika 8. Seni Rupa 9. PKN 10. Bahasa Inggris
DOWNLOAD SILABUS RPP KTSP SMA KELAS 3 / XII 1. Sosiologi 2. Ekonomi 3. Fisika 4. Sejarah 5. Biologi 6. Bahasa Indonesia 7. Seni Rupa 8. PKN 9. Bahasa Inggris
10. TIK X – XI – XII
Kami juga menemukan link download lain untuk silabus dan rpp berkarakter, silahkan download dibawah ini
1. IPA, IPS DAN KETERAMPILAN
Download
2. MATEMATIKA, PENJAS DAN PKN
Download
3. PAI, BHS. INDONESIA DAN INGGRIS
Download
4. SENI BUDAYA DAN TIK
Download
5. FISIKA BERKARAKTER
Download
6. TIK BERKARAKTER
Download
7. TIK BERKARAKTER UNTUK SMP KELAS 7 S.D. 9 KUMPLIT BRO
Download
8. RPP SILABUS SMA BERKARAKTER
Download
Download







Kumpulan Tutorial Komputer dan Free Software.:
Sejarah Tanah Amali

Wali Tujuh dari Tanah Bugis
1)Syekh Yusuf (Toanta Salamaka), 2) Petta Lasinrang (Petta Lolo), 3). Arung Palakka (Petta to malampe'e gemmena), 4) KH. Harun, 5) Pettabarang, 6) Imam Lapeo, 7) Dt. Sangkala



Syekh Yusuf (Toanta Salamaka) Seorang Penyebar agama islam dari Tanah Mekkah sampai Banten, Petta Lasinrang Seorang Raja dari Tanah Pinrang yang arif nan bijak sana dan gencar menyebarkan agama islam. yang terpenting Beliau Pemberani, Arung Palakka. KH. Harun : Beliau berasal dari Kerajaan Tallo, Petta Barang atau Petta To Risappae konon beliau mallajang diatas kudanya dan penunggu kudanya hingga sekarang masih ada. beliau adalah keturunan raja Barru yang kuat akan agama, Imam Lapeo : seorang imam di Desa Lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama Islam sampai ketanah Bugis. sering memperlihatkan mukjisat dari Sang Kuasa, Dt. Sangkala :Hingga saat ini belum ada info detail tentangnya. Merekalah ke tujuh wali yang diyakini oleh Masyarakat di Tana Bugis .

Selain itu terdapat beberapa wali lagi yang di yakini oleh masyarakat Indonesia yakni Wali songo, dan Wali Pitu yang berada di Bali yakni 1) Mas Sepuh Raden Raden Amangkuningrat di Kabupaten Badung), 2)Chabib Umar Bin Maulana Yusuf Al Magribi di Tabanan, 3) Chabib Ali Bin abu Bakar Bin Umar Bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, 4) Chabib Ali Zaebal Abidin Al Idrus di Karangasem, 5) Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Magribi di Karangasem, 6) The Kwan Lie di Buleleng, dan 7) Chabib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih di Jembrana.
Seorang Raja Bone yang bisa membebaskan Masyarakat Bone dari penindasan kerajaan Gowa dan beliau di Juluki Sang Pembebas dengan gelar Pahlawan Kemanusiaan.

Mungkin menjadi pertanyaan, bahwa apakah masyarakat Tana Bugis telah memahaminya ? kalaupun belum, mungkin di sebabkan karena kurangnya publikasi akan wali pitue selama ini ataukan memang mereka baru tahu kalau memang kebudayaan kita juga memiliki Wali Pitue ?



SITUS SEJARAH BUGIS BONE, SULAWESI SELATAN
Bola Soba dan Bola Ade Pitue (?) (Rumah Adat) Bone

Rumah yang berbentuk panggung dan biasanya memiliki 3 bagian yaitu bagian atas, tengah dan bawah. RUmah ini menjadi inspirasi bagi pembangunan Rumah Besar (Saoraja). Bagian atas untuk menyimpan (lumbung) padi/makanan. Tempat tinggal ada di bagian tengah. Sejak jaman Belanda sudah jarang dibangun Rumah Adat Bone dengan kayu, lebih banyak dari semen. Sekarang masih tersisa di daerah Watampone.


Situs Perjanjian Tellu (Telu) Boccoi

Tempat perjanjian Raja Bone, Raja Wajo dan Raja Soppeng. Bunyi perjanjian itu "Barang siapa pihak kerajaan yang melihat cahaya titik cahaya terang, maka kerajaan itu yang berhak memberitahu saudara-saudaranya yang berjanji". Inilah kesepakatan ketiga kerajaan itu dalam menghadapi musuh-musuh yang ingin menghancurkan daerah tersebut. Mereka bekerjasama, sebuah perjanjian suci untuk saling bahu-membahu menghadapi musuh.

Patung Arung Palakka

Raja pemersatu rakyat Bugis dan wilayah Sulawesi, gagah berani dan mempunyai sifat terpuji. Pahlawan Bone, Pahlawan Kemanusiaan. Arung Palakka yang mengeluarkan masyarakat Bone dari garis kemiskinan dan tindasan kerajaan lain.

Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone

Merupakan salah satu jejak Islam di Tanah Bone. Berada di tengah-tengah kota Watampone. Mesjid ini masih asli dan merupakan salah satu dari jejak Islam di Sulawesi. Memiliki sebuah tembok pertahanan dengan tebal sekitar 1 meter.

Makam Raja-raja Bone

Makam Raja Bone ke 13 dan 21 Kalokkoe berada di belakang Mesjid Tua Al-Mujahidin. Makam Raja Bone memang tersebar di Lalebata, Naga Ulun, Luwu, Bukaka, Bantaeng, Makassar, bahkan ada di Tanah Kalibata.

Kawasan Tanah Bangkalae

Dahulu kerajaan di tanah Sulawesi sering terjadi selisih paham semisal antara Kerajaan Goa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Luwu. Untuk mempersatukannya dibentuklah simbol pemersatu ketiga kerajaan itu. Tanah Bangkalae itu merupakan penyatuan tanah dari 3 kerajaan tersebut dengan tujuan agar ke-3 kerajaan tersebut bersatu. Menjadi tempat pelantikan raja yang dimulai dari Raja Bone saat itu yaitu Raja Bone ke 16. Tanah Bangkalae adalah tanah tempat pelantikan raja, berwarna kemerah-merahan, dan dianggap sebagai Tanah Dewa.

Situs Manurunge (To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang atau Mata Silompoe)

Disinilah tempat terjadi kontrak pemerintah Rakyat Bone (Tujuh raja-raja kecil) dengan Manurung E.rimatajang Raja Bone Pertama pada tanggal 16 April 1330 dan menjadi hari lahirnya Kabupaten Bone. Berada di lokasi Kecamatan Tanete Riatan. Manurung merupakan manusia suci yang turun dari langit. Manurunge adalah pemersatu rakyat yang bertikai saat itu (matoa-mata) ke dalam Kerajaan Bone. Raja Manurung E.ri sebenarnya tidak diketahui asal usulnya sehingga di gelar Manusia Suci yang Turun dari Langit.
Berkata rakyat Tana Bone,

"agar menetaplah di Tanah Bone
dan engkau yang kami angkat menjadi
raja untuk memimpin kami, namun
anak dan istri kami, bila engkau
tidak menyetujuinya, kamipun
menurut kepadamu, asalkan engkau
.... keselamatan kami dan ....."
Maaf tulisan tidak lengkap


Dan berkata Manurung E.ri,

"Saya menjunjung tinggi di atas kepala saya dan menghargai kata-kata dan persatuanmu untuk mengangkat saya menjadi raja."


Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat

Soraja Petta Panggawae

Rumah Besar Bola Soba bertingkat 5 milik seorang raja Bone untuk panglimanya. Rumah ini adalah Istana Panglima Perang Bone dengan atap bertingkat 4, sedangkan rumah Raja memiliki atap bertingkat 5. Sekarang menjadi tempat pelestarian budaya Bugis Bone.


Museum Lapawawoi Saoraja

Merupakan rumah Raja Bone ke-31, Andi Mapparinggi bergelar LAWAWOWOI KARAENG SIGERI MATINROE RI BANDUNG, yang dijadikan sebagian rumahnya dijadikan museum Bugis Bone. Museum ini menjadi tempat penyimpanan benda-benda seni dan budaya tradisional Bugis Bone. Dahulunya pernah menjadi gedung DPRD Kabupaten Bone. Menyimpan gambar raja-raja Bone dan benda-benda duplikat upacara adat istiadat Bone.

Museum Arajang

Menyimpan benda-benda milik Arung Palakka yang juga merupakan benda-benda pusaka seperti Payung Emas, Payung Perak, Sarung dan Pegangan, serta Selempang/Salimpang Emas (Sembangengpulaweng) yang panjangnya 177 cm dengan berat 5 kg emas murni 24 karat. Setiap tahunnya dilakukan pembersihan benda-benda bersejarah dan sakral tersebut. Museum ini dibuka setahun sekali pada hari jadi Tanah Bone mengingat banyak benda bersejarah yang sangat perlu dilindungi.

DAFTAR RAJA-RAJA BONE

MANURUNGNGE RIMATAJANG MATASILOMPOE (1330 - 1365)
LA UMMASA PETTA PANRE BESSIE (1365 - 1368)
LA SALIU KERANG PELUA (1368 - 1470)
WE BENRIGAU MALLAJANGNGE RI CINA (1470 - 1510)
LA TENRI SUKKI MAPPAJUNGE (1510 - 1535)
LA ULIO BOTOE MATINROE RI ITTERUNG (1535 - 1560)
LA TENRI RAWE BONGKANGE MATINROE RI GUCINNA (1560 - 1564)
LA ICCA MATINROE RI ADDENENNA (1564 - 1565)
LA PATTAWE MATINROE RI BETTUNG (1565 - 1602)
LA TENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG (1602 - 1611)
LA TENRI RUWA SULTAN ADAM MATINROE RI BANTAENG (1611 - 1616)
LA TENRI PALE MATINROE RI RI TALLO (1616 - 1631)
LA MADDAREMMENG MATINROE RI BUKAKA (1631 - 1644)
LA TENRI WAJI ARUNG AWANG MATINROE RI SIANG ( PANGKEP) (1644 - 1645)
LA TENRI TATTA DAENG SERANG MALAMPEE GEMMENA ARUNG PALAKKA (1645 - 1696)
LA PATAU MATANNA TIKKA MATINROE RI NAGAULENG (1696 - 1714)
BATARI TOJA SULTAN SAINAB SAKIYATUDDING (1714 - 1715)
LA PADASSAJATI TO APPAWARE SULTAN SULAEMAN PETTA RI JALLOE (1715 - 1718)
LA PAREPPA TO SAPPEWALI SULTAN ISMAIL MATINROE RI SOMBA OPU (1718 - 1721)
LA PANAONGI TO PAWAWOI ARUNG MAMPU KARAENG BISEI (1721 - 1724)
BATARI TOJA DATU TALAGA ARUNG TIMURUNG (1724 - 1749)
LA TEMMASSONGE TO APPAWALI SULTAN ABDUL RAZAK MATINROE RI MALIMONGENG (1749 - 1775)
LA TENRI TAPPU SULTAN ACHMAD SALEH MATINROE RI ROMPEGADING (1775 - 1812)
TO APPATUNRU SULTAN ISMAIL MUHTAJUDDIN MATINROE RI LALENG BATA (1812 - 1823)
I MANI RATU ARUNG DATA SULTAN RAJITUDDIN MATINROE RI KESSI (1823 - 1835)
LA MAPPASELING SULTAN ADAM NAJAMUDDIN MATINROE RI SALASSANA (1835 - 1845)
LA PARENRENGI SULTAN AKHMAD MUHIDDIN ARUNG PUGI MATINROE RI AJANG BENTENG (1845 - 1857)
WE TENRI WARU SULTANAH UMMULHUDA PANCAITANAH, BESSE KAJUARA PELAINGI PASEMPE (1857 - 1860)
ACHMAD SINGKERUKKA SULTAN ACHMAD IDRIS MATINROE RI PACCING (1860 - 1871)
FATIMA BANRI DATU CITTA MATINROE RI BOLAMPARENA (1871 - 1895)
LAWAWOWOI KARAENG SIGERI MATINROE RI BANDUNG (1895 - 1905)
LAMAPPANYUKKI SULTAN IBRAHIM MATINROE RI GOWA (1931 - 1946)

Sejarah Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Bone

Selama tujuh pariama (diperkirakan kurang-lebih 70 tahun) yang disebut sebagai Bone pada awalnya hanya meliputi tujuh unit anang (kampung) yakni; Ujung, Ponceng, Ta’, Tibojong, Tanete Riattang, Tanete Riawang dan Macege, tenggelam dalam situasi konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah sianre bale, dimana yang kuat memangsa yang lemah. Luas Bone pada masa itu terbilang lebih kecil dari Ibukota Kabupaten Bone, Watampone sekarang.
Masing-masing anang dipimpin oleh seorang Kalula, gelar pemimpin kelompok. Situasi politik ini merupakan akibat langsung dari kondisi tidak adanya (lagi) tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin besar yang dapat mempersatujuan visi dan misi ke tujuh anang tersebut. Menurut lontara’, hal ini secara implisit dijelaskan dalam Sure’ La Galigo, lebih disebabkan oleh punahnya (sudah tidak terdeteksinya) keturunan-keturunan La Galigo di Bone. Ketujuh pemimpin (kalula) kelompok masyarakat (anang) saling mengklaim “hak” atas kepemimpinan wilayah Bone tersebut. Ada juga budayawan yang menyebut Kalalu Anang Cina, Barebbo, Awampone dan Palakka sudah turut dalam perjanjian ManurungE dengan orang Bone, namun karena kurangnya data/lontara’ yang mendukung, penulis menafikan pernyataan tersebut.
Konflik antar kalula berlangsung selama bertahun-tahun. Masing-masing mengkalim sebagai keturunan La Galigo yang, karena keterbatasannya tidak mampu menunjukkan bukti-bukti (mereka belum mengenal silsilah), merasa berhak atas kepemimpinan dikalangan kalula. Semangat kejahiliyahan membara untuk saling atas-mengatasi sehingga perang saudara (kelompok) tidak bisa dihindari.
.:Catatan:. ada yang menafsir satu pariama sama dengan seratus tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun; namun beberapa informasi dari lontara’ lebih rasional mengikuti yang sepuluh tahun).
::Manurung-E::
Manurung-E, berasal dari bahasa Bugis yang dalam terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian“. Dalam aturan bahasa bugis, khususnya Bugis-Bone, akhiran E dipakai untuk menunjuk kata kepunyaan, akhiran ‘nya’ dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhiran E pada kata Manurung yang diikutinya akan menunjukkan arti dialah orang yang turun dari ketinggian.
Kepercayaan Bugis-Makassar sebelum mengenal Islam, Manurung-E atau Tu Manurung (red. Makassar) dianggap sebagai perwujudan tuhan, dewa (Bugis-Bone: dewata seuwwaE); manusia yang turun dari langit, namun bukan sebagai manusia pertama (Adam). Namun seiring perkembangan zaman dan pengetahuan, sulit rasanya untuk menerima argumen-argumen to-riolo (nenek moyang). Sejumlah asumsi yang dibangun oleh ahli sejarah pun tidak cukup memberikan pemahaman yang memadai kepada kita dikarenakan kurangnya bahan kajian. Satu hal penting yang disepakati oleh para budayawan adalah bahwa Manurung-E merupakan manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan manusia lainnya; pandai dan mempunyai wawasan yang lebih luas dibandingkan masyarakat sekitarnya.
Hal ini juga dipertegas dalam lontara’ yang mengisahkan adanya sekelompok masyarakat yang menyambutnya kemudian memintanya untuk menjadi raja/mangkau’. Oleh sebab itu, disinyalir to manurung sebagai orang suci (saint) yang sedang dalam perjalanan spiritual. Namun, kemudian terdampar pada sebuah daerah (bugis) yang ‘kebutulan’ belum memiliki sosok pemimpin/raja.
Berbeda dengan di daerah lain, sebut misalnya di pulau Jawa, yang banyak meninggalkan jejak sejarah seperti prasasti yang informasinya dapat bertahan lama. Oleh sebab itu, lontara’ harus diletakkan pada posisi terdepan sebagai bahan kajian untuk mengungkap misteri perjalanan suku-suku di Sulawesi.
Selain di Nederland-Belanda, keberadaan lontara yang mempunyai informasi penting mengenai sejarah Kerajaan Bone, khususnya kebudayaan Bugis-Makassar, disinyalir masih banyak berserakan di tangan-tangan penduduk. Namun ada kepercayaan benda-benda sejarah ini memiliki “tuah” sehingga mereka enggan memberikan kepada peneliti. Mereka masih percaya bahwa dengan memegang lontara,kewibawaan mereka akan tetap terjaga dan senantiasa dihormati oleh masyarakat.
::Berdirinya Kerajaan Bone::
Dalam lontara’ disebutkan, ketika keturunan dari Puatta Menre’E ri Galigo malawini darana (bangsawan dan rakyat-biasa sudah tidak bisa dibedakan sebagai akibat perkawinan) terjadi kekacauan yang luar biasa karena ketiadaan sosok pimpinan yang berasal dari bangsawan (manurung). Keadaan Bone saat itu, chaos. Norma-norma hukum tidak berlaku, adat-istiadat dipasung, kehidupan ummat tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling memangsa dan saling membunuh. Bone butuh sosok pemimpin, namun dari kalangan mereka tidak ada yang saling mengakui keunggulan satu sama lain.
Ketika konflik tengah berlangsung, sebuah gejala alam yang mengerikan melanda wilayah Bone dan sekitarnya. Gempa bumi terjadi demikian dahsyatnya, angin puting beliung menerbangkan pohon beserta akar-akarnya, hujan lebat mengguyur alam semesta dan gemuruh guntur diiringi lidah kilatan petir yang menyambar datang silih berganti selama beberapa hari. Gejala alam seperti ini juga diceritakan dalam pararaton (Kitab Raja-raja) dan prasasti peninggalan kerajaan Majapahit.
Sesaat setelah hujan reda, dari ufuk timur muncullah bianglala. Tidak berapa lama, di tengah padang nampak segumpal cahaya yang menyilaukan mata, muncul sosok manusia mengenakan pakaian serba putih (pabbaju puteh). Karena tak seorang pun yang mengenalnya, orang-orang menganggapnya sebagai To Manurung, manusia yang turun dari langit. Cerita kemunculan To Manurung ini cepat menyebar di kalangan Kalula. Dan mereka pun mengunjungi Sang Misteri. Para kalula anang (pemimpin kelompok) kemudian mengorganisir diri berembuk untuk, dan sepakat, mengangkat To Manurung menjadi raja mereka. Bersama dengan orang banyak yang berkumpul tersebut, para kalula kemudian berkata,
Kami semua datang ke sini memintamu agar engkau tidak lagi mallajang (menghilang). Tinggallah menetap di tanahmu agar engkau kami angkat menjadi mangkau’. Kehendakmu adalah kehendak kami juga, perintahmu kami turuti. Walaupun anak isteri kami engkau cela, kamipun akan turut mencelanya asal engkau mau tinggal.
Orang yang disangka To Manurung menjawab,
”Bagus sekali maksud tuan-tuan, namun perlu saya jelaskan bahwa saya tidak bisa engkau angkat menjadi Mangkau sebab sesungguhnya saya adalah hamba sama seperti engkau. Tetapi kalau engkau benar-benar mau mengangkat mangkau’, saya bisa tunjukkan orangnya. Dialah bangsawan yang saya ikuti.”
Orang banyak berkata,
“Bagaimana mungkin kami dapat mengangkat seorang mangkau yang kami belum melihatnya?”.
Orang yang disangka To Manurung menjawab,
”Kalau benar engkau mau mengangkat seorang mangkau, aya akan tunjukkan tempat matajang (terang), disana lah bangsawan itu berada”.
Orang banyak berkata,
”Kami benar-benar mau mengangkat seorang mangkau, kami semua berharap agar engkau dapat menunjukkan jalan menuju ke tempatnya”.
Orang yang disangka To Manurung bernama Puang Cilaong, mengantar orang banyak tersebut menuju kesuatu tempat yang terang dinamakan Matajang (berada dalam kota Watampone sekarang). Gejala alam yang mengerikan tadi kembali terjadi. Halilintar dan kilat sambar menyambar, angin puting beliung dan hujan deras disusul dengan gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelah keadaan reda, nampaklah To Manurung yang sesungguhnya duduk di atas sebuah batu besar dengan pakaian serba kuning. To Manurung tersebut ditemani tiga orang yaitu; satu orang yang memayungi teddumpulaweng (payung berwarna kuning keemasan), satu orang yang menjaganya dan satu orang lagi yang membawa salenrang. To Manurung,
”Engkau datang Matowa?”
MatowaE menjawab,
”Iyo, Puang”.
Barulah orang banyak tahu bahwa yang disangkanya To Manurung itu adalah seorang Matowa. Matowa itu mengantar orang banyak mendekati To Manurung yang berpakaian kuning keemasan. Berkatalah orang banyak kepada To Manurung,
”Kami semua datang ke sini untuk memohon agar engkau menetap. Janganlah (lagi) engkau mallajang (menghilang). Duduklah dengan tenang agar kami mengangkatmu menjadi mangkau’. Kehendakmu kami ikuti, perintahmu kami laksanakan. Walaupun anak isteri-kami engkau cela, kami pun (turut) mencelanya. Asalkan engkau berkenan memimpin kami”
Manurung menjawab,
”Apakah engkau tidak membagi hati dan tidak berbohong?”
Setelah terjadi tawar menawar, semacam kontrak sosial, antara To Manurung dengan orang banyak (kalula anang), dipindahkanlah Manurung ke Bone untuk dibuatkan salassa (rumah). To Manurung tersebut tidak diketahui namanya sehingga orang banyak menyebutnya ManurungE ri Matajang. Salah satu kelebihannya yang menonjol adalah jika datang di suatu tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia langsung mengetahui jumlahnya, sehingga digelar Mata SilompoE. ManurungE ri Matajang inilah yang menjadi mangkau’ pertama di Bone.
Adapun yang dilakukan oleh ManurungE ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di Bone adalah – mappolo leteng (menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak), mappasikatau (meredakan segala macam konflik horisontal) dan pangadereng (mengatur tatacara berinteraksi sesama masyarakat). ManurungE ri Matajang pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama woromporong-E berwarna merah dan putih –mirip bendera Republik Indonesia sekarang.
Setelah genap eppa pariyama (empat dekade) memimpin orang Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan,
”Duduklah semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita (ketika menunjuk/ngangkat aku sebagai Mangkau’-Bone”.
Hanya beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar. Tiba-tiba ManurungE ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari tempat duduknya. Salenrang dan teddum-pulaweng (payung kuning keemasan) turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone heran. Oleh karena itu diangkatlah anaknya yang bernama La Ummasa menggantikannya sebagai Mangkau’ di Bone.
::Keturunan::
Manurung-E ri Matajang kawin dengan We Tenri Wale-ManurungE ri Toro. Dari perkawinan itu lahirlah La Ummasa, We Pattanra Wanuwa, dan We’ Samateppa (lima bersaudara, dua diantaranya tidak tercatat [belum] ditemukan dalam lontara’).
Namun, berdasarkan laporan penelitian dari tim Royal Ark diperoleh informasi bahwa hasil perkawinan Manurung-E ri Matajang dengan We Tenri Wale-Manurung-E ri Toro mempunyai dua orang putera dan empat orang putri yakni:
* Bolong-Lelang, meninggal masa kanak-kanak;
* La Ummasa To Mulaiye Panreng, yang selanjutnya menjadi Arumpone kedua;
* We’ Tenri Ronrong, meninggal masa kanak-kanak;
* We Pattanra Wanuwa, kawin dengan La Pattikkeng-Arung Palakka. Dari hasil perkawinan ini lahirlah Latenri Longorang, La Saliyu Karampeluwa Pasadowakki yang selanjutnya menggantikan pamannya menjadi Arumpone, We Tenri Pappa yang kawin dengan La Tenri Lampa-Arung Kaju, We Tenri Ronrong kawin dengan dengan La Paonro-Arung Pattiro;
* We Tenri Salogan kawin dengan La Ranringmusu-Arung Otting; dan
* We Arantiega kawin dengan La Patongarang-arung Tanete

Sekilas tentang Lontara’ Bugis

Di kalangan orang Bugis, sejak zaman dahulu lontara’ mempunyai peranan yang penting sekali dalam kehidupannya, karena lontara’ mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi yang menjadi pedoman hidup dan kehidupannya.

Lontara’ adalah suatu karya sastra orang Bugis yang sudah memasyarakat di tengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Lontara’ mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dan diperhatikan. Untuk memahami lontara’ perlu pengetahuan khusus, karena lontara’ juga merupakan naskah sastra budaya yang mempunyai sifat-sifat tertentu sebagaimana sastra budaya bahasa-bahasa lain.
Penulisan lontara’ sudah dilakukan sejak zaman dahulu sedang pencetakannya sudah dilakukan oleh pemerintah Belanda pada pertengahan abad yang lalu. Namun hasil tulisan dan cetakan itu sudah sukar didapati lagi. Hal ini disebabkan karena sudah mengalami pelapukan dan kehancuran setelah dimakan zaman. Lain lagi halnya karena dianggap keramat yang sukar dipinjam dan dibaca. Bahasanyapun sukar dipahami atau dimengerti karena bahasanya bahasa lama dengan aksara lontara’ klasik.
Jenis-jenis lontara’ di Sulawesi Selatan antara lain : Lontara’ Pappaseng (kata bijak), Paggalung (pertanian), Surek-surek, Pattaungeng (catatan harian), Adek (adat), Uluada, Allopi-loping (pelayaran), Pangoriseng (silsilah), Attoriolong (kebiasaan orang-orang dulu), Pau-pau Rikodong, Pangaja dan lain-lain sebagainya. Isi lontara’ antara lain mengandung aspek budaya yang terdiri atas beberapa aspek budaya: sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan tehnik, kesenian dan filsafat).

Sekilas tentang Lontara’ Bugis

Di kalangan orang Bugis, sejak zaman dahulu lontara’ mempunyai peranan yang penting sekali dalam kehidupannya, karena lontara’ mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi yang menjadi pedoman hidup dan kehidupannya.
Lontara’ adalah suatu karya sastra orang Bugis yang sudah memasyarakat di tengah-tengah masyarakat Bugis sejak zaman dahulu. Lontara’ mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dan diperhatikan. Untuk memahami lontara’ perlu pengetahuan khusus, karena lontara’ juga merupakan naskah sastra budaya yang mempunyai sifat-sifat tertentu sebagaimana sastra budaya bahasa-bahasa lain.
Penulisan lontara’ sudah dilakukan sejak zaman dahulu sedang pencetakannya sudah dilakukan oleh pemerintah Belanda pada pertengahan abad yang lalu. Namun hasil tulisan dan cetakan itu sudah sukar didapati lagi. Hal ini disebabkan karena sudah mengalami pelapukan dan kehancuran setelah dimakan zaman. Lain lagi halnya karena dianggap keramat yang sukar dipinjam dan dibaca. Bahasanyapun sukar dipahami atau dimengerti karena bahasanya bahasa lama dengan aksara lontara’ klasik.
Jenis-jenis lontara’ di Sulawesi Selatan antara lain : Lontara’ Pappaseng (kata bijak), Paggalung (pertanian), Surek-surek, Pattaungeng (catatan harian), Adek (adat), Uluada, Allopi-loping (pelayaran), Pangoriseng (silsilah), Attoriolong (kebiasaan orang-orang dulu), Pau-pau Rikodong, Pangaja dan lain-lain sebagainya. Isi lontara’ antara lain mengandung aspek budaya yang terdiri atas beberapa aspek budaya: sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan tehnik, kesenian dan filsafat).

Persaingan Kerajaan Bugis dan Makassar Hingga Akhir Abad Sembilan Belas

Di akhir abad sembilan belas, kemampuan bersaing dalam masyarakat Sulawesi Selatan merupakan gejala khas, baik mengenai hubungan antar kerajaan maupun antar pribadi. Para peserta utama dalam persaingan antar kerajaan di Sulawesi Selatan adalah Gowa, pusat politik orang-orang Makassar, dan Bone, pusat yang sama bagi orang-orang Bugis. Kedua-duanya mengakui Luwu sebagai kerajaan asal semenanjung itu, tetapi yang kekuasaannya telah memudar menjelang abad ketiga belas, sebelum catatan-catatan sejarah diselenggarakan. Diperkirakan bahwa Luwu mencapai puncak kebesarannya antara abad kesembilan dan ketiga belas.
Kekuatan ekonomi Bone didasarkan atas penguasaannya bersama-sama dengan sekutunya Wajo dan Soppeng, dari gudang beras di dataran tengah. Kekuatan Makassar semakin bersandar pada kedudukannya sebagai bandar utama dalam perdagangan rempah-rempah. Supaya dapat memainkan peranan penting sebagai satu kekuatan di kepulauan ini, adalah perlu untuk mempunyai persediaan beras guna memberi makan penduduk (dan para satria)-nya dan untuk mampu ikut serta dalam perdagangan, baik lewat pengapalan transito barang-barang dari bagian-bagian kepulauan yang tidak dapat dimasuki maupun lewat pengeksporan produk-produk dari daerah pedalaman sendiri. Persaingan antara Makassar dan Bone, untuk sebagian, merupakan persaingan dalam menggabungkan dan menguasai sumber-sumber daya semenanjung itu, agar dapat ikut serta dalam perdagangan yang menguntungkan dari kepulauan tersebut.
Raja Gowa pertama yang bersejarah, Tumapa’risi-kalonna, dianggap yang memerintah sekitar tahun 1512-1548, telah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangannya menjadi kerajaan yang paling kuat di semenanjung itu. Sekitar pertengahan abad berikutnya Goa menaklukkan Sumbawa (yang aristokrasinya masih berasal dari Makassar), menyerang Brunei, dan menduduki beberapa bagian pantai Sulawesi Utara. Peperangan antara Gowa dan kerajaan saingannya Bone, yang kedua-duanya dibantu oleh sekutu masing-masing dari kerajaan-kerajaan lain, tampaknya berlangsung hampir terus-menerus. Sekalipun perbatasan antara kedua kerajaan itu ditetapkan dalam suatu perjanjian tahun 1565 yang menyelesaikan konflik utama antara kedua kerajaan tersebut, persekutuan yang berubah-ubah dengan sejumlah besar kekuatan lebih kecil di daerah itu, dan perjuangan serta peperangan yang sering terjadi, senantiasa menjadi ciri hubungan politik di Sulawesi Selatan. Ini berlangsung sampai pemerintah Hindia Belanda menaklukkan seluruh daerah itu, dan menetapkan batas wilayah dari berbagai satuan dalam kurun waktu 1905-1910.
Gowa hampir berhasil menegakkan hegemoni nyata di daerah tersebut setelah perubahan agama raja keempat belas menjadi Islam pada tahun 1605, dan kemudian ditundukkannya dengan kekerasan Sidenreng, Soppeng, Wajo, dan akhirnya Bone kepada Nabi – dan kepada Raja Gowa -  selama tahun-tahun 1609-1611. Perubahan agama yang cepat dari kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan menjadi Islam segera setelah kedatangan tiga ulama terkemuka dari Minangkabau pada akhir abad keenam belas, tidak syak lagi telah dipermudah oleh perkenalan yang luas dari orang-orang laut Bugis-Makassar dengan orang-orang Islam di pelabuhan-pelabuhan pantai Jawa dan Sumatera. Selanjutnya, kenyataan bahwa kontak pertama Kerajaan Gowa dengan orang-orang Portugis dan VOC terjadi sekitar waktu yang sama, mungkin telah meningkatkan minat terhadap Islam sebagai satu sumber kekuatan spiritual untuk memperkuat kerajaan dalam menghadapi ancaman orang-orang asing yang agresif.
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 ada arus kedatangan pedagang-pedagang asing, khususnya pedagang Melayu dari Patani, Johor, Campa, dan Minangkabau ke Makassar. Perdagangan tampaknya tetap berada di tangan orang asing, untuk beberapa tahun. Tetapi, menjelang awal abad ketujuh belas, ketika orang Portugis sendiri diusir dari Malaka oleh orang Belanda dan datang ke Makassar untuk berdagang, kaum bangsawan Makassar secara langsung melibatkan diri dalam perdagangan. Orang Portugis memegang kedudukan yang sangat diistimewakan di Makassar pada tahun 1615-1665, sekalipun para pedagang dari semua bangsa disambut baik. Tetapi orang Belanda, yang mulai muncul di panggung selama kurun waktu ini, menuntut diakhirinya keikutsertaan Makassar dalam perdagangan rempah-rempah.
Gowa menolak tuntutan Belanda, tetapi ketegangan meningkat. Dan pertempuran di sana-sini terjadi dengan orang asing yang terus mendesak itu. Dalam pada itu, permusuhan lama dengan Bone berlanjut, dan pertempuran sengit meletus pada tahun 1640-an dan lagi pada tahun 1660-an. Dua musuh Gowa itu kemudian membentuk suatu persekutuan, dan pada tahun 1666, Bone di bawah pimpinan Arung Palakka, dan VOC di bawah Cornelius Speelman, menyerang dan menaklukkan Gowa dan rajanya yang gagah berani, Sultan Hasanuddin. Takluknya Gowa diresmikan dalam Perjanjian Bongaya (18 November 1667), yang mewajibkan Gowa melepaskan semua wilayah di luar wilayah kerajaan itu sendiri, tidak melakukan hubungan lebih lanjut dengan kekuatan-kekuatan asing lainnya, dan menerima monopoli VOC atas perdagangan. Menurut bentuknya, perjanjian itu merupakan perjanjian multilateral mengenai perdamaian, persahabatan, dan persekutuan, yang mencakup tidak hanya Gowa, Bone, dan VOC tetapi juga Ternate, Tidore, Bacan, Buton, Soppeng, dan Luwu; dan juga terbuka bagi kerajaan-kerajaan lain yang mungkin mau ikut serta. Tahun 1670 Wajo ikut serta dalam perjanjian itu.
Dalam kenyataan, pertempuran antara VOC dan Gow berlangsung satu tahun lamanya, dan berakhir dengan diturunkannya Sultan Hasanuddin dari singgasana dan dibuang ke Jawa. Belanda menghancurkan benteng-benteng besar Gowa, kecuali Ujungpandang, yang mereka duduki sebagai kantor pusat dan mereka ubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Perlawanan terhadap Belanda tidak pernah benar-benar berakhir. Dua orang pangeran sekutun Hasanuddin lari ke Jawa dan berperang melawan perluasan kekuasan Belanda di sana. Mula-mula dengan Sultan Banten dan kemudian dengan Pangeran Madura, Trunodjojo.
Di Sulawesi sendiri, Kerajaan Wajo memegang peran pemimpin dalam perlawanan terhadap Belanda selama pertengahan abad kedelapan belas. Gowa terus berusaha mendapatkan kembali wilayahnya yang hilang, dan agar Perjanjian Bongaya dibatalkan. Gowa gagal dalam usahanya, dan persetujuan diperbaharui tahun 1740 dan 1824 (yang tersebut belakangan adalah setelah pemerintah Belanda menggantikan VOC). Dengan merosotnya kekuasaan Gowa, Bone menjadi kerajaan yang dominan di semenanjung itu; dan selama abad kesembilan belas Belanda, dalam sejumlah ekspedisi penghukuman, berusaha membatasi kekuatan kerajaan yang dahulu pernah menjadi sekutunya itu. Pada tahun 1860 Bone dipaksa menandatangani suatu kontrak dengan pemerintah Hindia Belanda. Bone dijadikan dengan vasal, dan bagian dari wilayahnya di sebelah selatan dimasukkan ke dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda sebagai wilayah yang diperintah secara langsung.
Pada akhir abad kesembilan belas pemerintah Hindia Belanda mengakui tiga jenis wilayah di Sulawesi Selatan, yaitu : tanah-tanah yang diperintah langsung (Gowa dan Sinjai-Kajang-Bulukumba), negara-negara vasal (Bone dan Tanete), serta sekutu (yang paling penting adalah Luwu, Wajo, dan Mandar). Hubungan resmi diatur dengan berbagai perjanjian yang dikembangkan dari Perjanjian Bongaya yang asli. Banyak di antaranya sebagai perjanjian perdamaian setelah ekspedisi-ekspedisi militer, tetapi dalam hubungan antara kerajaan-kerajaan itu dan beberapa di antaranya dengan pemerintah Hindia Belanda, adanya berbagai jenis negeri tersebut hampir-hampir tidak terlihat.
Sekalipun Belanda-kadang-kadang menyatakan bahwa penguasaan mereka atas Sulawesi Selatan dimulai dengan Perjanjian Bongaya, pada umumnya diakui bahwa bahkan di Gowa sekalipun kekuasaan Belanda terutama adalah untuk mempertahankan monopoli dagang, dan tidak meluas ke kegiatan politik pemerintahan. Sedangkan di daerah Sulawesi Selatan lainnya, hanyalah setelah penaklukan militer 1905-1910, kekuasan Belanda secara efektif dapat diberlakukan di daerah pedalam

KONSEP SIRI Na Pesse BAGI BANGSA BUGIS

Siri na pessé (Bugis) adalah sebuah konsep yang sangat menentukan dalam identitas orang Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya. Konsep siri’ mengacu pada perasaan malu dan harga diri sedangkan pessé mengacu pada suatu kesadaran dan perasaan empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh setiap anggota masyarakat.

1. Sekapur Sirih

Bangsa Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan umumnya dikenal sebagai penganut adat-istiadat yang kuat. Meskipun telah berkali-kali menemui tantangan berat yang ada kalanya hampir menggoyahkan kedudukannya dalam kehidupan dan pikiran mereka, namun pada akhirnya adat-istiadat tersebut tetap hidup dan bahkan kedudukannya makin kukuh dalam masyarakat hingga kini

Keseluruhan sistem dan norma serta aturan-aturan adat tersebut dikenal dengan pangngadereng yang meliputi lima unsur pokok, yaitu ade’, bicara, rapang, wari, dan sara’. Unsur yang disebutkan terakhir ini berasal dari ajaran Islam, yaitu hukum syariah Islam. Kelima unsur pokok tersebut terjalin antara satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan organik dalam alam pikiran bangsa Bugis, yang memberi dasar sentimen dan rasa harga diri yang semuanya terkandung dalam konsep siri’. Hal ini tercakup dalam sebuah ungkapan dikalangan Bugis yang mengatakan “utettong ri ade’é najagainnami siri-ku”, artinya, saya taat kepada adat demi terjaganya atau terpeliharanya harga diri saya.

Ungkapan di atas memiliki makna yang sangat dalam dikalangan Bugis. Dengan melaksanakan pangngadereng, berarti seorang Bugis sedang berusaha mencapai martabat hidup yang disebut dengan siri’. Menurut Mattulada (1985:108), siri’ inilah yang mendorong orang Bugis sangat patuh terhadap pangngadereng karena siri pada sebagian besar unsurnya dibangun oleh perasaan halus, emosi, dan sebagainya. Dari sinilah timbul berbagai penafsiran atas makna siri’ seperti malu-malu, malu, hina atau aib, iri hati, dan harga diri atau kehormatan.

Siri’ dalam pengertian orang Bugis adalah menyangkut segala sesuatu yang paling peka dalam diri mereka, seperti martabat atau harga diri, reputasi, dan kehormatan, yang semuanya harus dipelihara dan ditegakkan dalam kehidupan nyata. Siri’ bukan hanya berarti rasa malu seperti yang umumnya terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat suku lain. Istilah malu di sini menyangkut unsur yang hakiki dalam diri manusia Bugis yang telah dipelihara sejak mereka mengenal apa sesungguhnya arti hidup ini dan apa arti harga diri bagi seorang manusia (Abdullah, 1985:40-41). Begitu pentingnya siri’ dalam kehidupan orang Bugis sehingga mereka beranggapan bahwa tujuan manusia hidup di dunia ini adalah hanya untuk menegakkan dan menjaga siri’.

Pada hakikatnya budaya siri adalah produk kecerdasan lokal untuk membangun kembali tatanan sosial orang Bugis di masa lalu yang kacau balau. Secara historis, kondisi tersebut digambarkan dalam kronik-kronik Bugis dengan pernyataan bahwa kehidupan manusia pada masa itu bagaikan kehidupan ikan di laut, yang besar memangsa yang kecil atau disebut dengan sianrè balè tauwè.

Bangsa Bugis juga mempunyai sebuah konsep lain yang disebut Pessé, yaitu semacam perangsang untuk meningkatkan perasaan setia kawan yang di kalangan mereka. Pessé adalah suatu perasaan ikut menanggung dan berbelas kasihan terhadap penderitaan setiap anggota kelompoknya, termasuk orang yang telah dibuat malu. Oleh karena itu, konsep pessé ini akan menjadi suatu sarana untuk memulihkan harga diri orang yang telah dibuat malu.

Konsep siri’ dan pessé hingga kini terus memberi pengaruh terhadap seluruh sendi-sendi kehidupan orang Bugis. Situasi siri’ akan muncul ketika seseorang ri pakasiri’ atau dibuat malu karena kedudukan sosialnya dalam masyarakat atau rasa harga diri dan kehormatannya dicemarkan oleh pihak lain secara terbuka. Jika hal ini terjadi, maka orang yang ri pakasiri’ dituntut oleh adat untuk mengambil tindakan untuk menebus atau memulihkan harga dirinya di matanya sendiri maupun di mata masyarakat, yaitu dengan cara menyingkirkan penyebab malu tersebut.

Orang yang ri pakasiri (dibuat malu) tetapi tidak mampu melakukan pemulihan terhadap harga dirinya yang tercemar akan dipandang hina dan dikucilkan oleh masyarakat. Jika hal ini terjadi, maka bagi orang itu pembuangan dianggap lebih baik daripada dikucilkan di tengah-tengah masyarakat. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya orang Bugis pergi merantau atau meninggalkan kampung halamannya karena tidak sanggup menanggung rasa malu di mata masyarakatnya. Berbagai pendapat, bahwa perkawinan adalah realitas sosial yang paling banyak bersinggungan dengan masalah siri ini. Jika pinangan seseorang ditolak, maka pihak peminang bisa merasa mate siri (kehilangan kehormatan) sehingga terpaksa menempuh siliriang (kawin lari). Tindakan ini merupakan perbuatan melanggar adat sehingga seluruh pihak keluarga laki-laki gadis itu merasa berkewajiban untuk membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga.

Orang yang ri pikasiri’ dapat melakukan jallo (amuk), yaitu membunuh siapa saja, bahkan orang yang tidak terlibat dalam masalah itu pun dapat menjadi sasaran amukannya. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa hal yang cukup ekstrem. Namun, sejak terintegrasikannya agama Islam ke dalam sistem pangngadereng bangsa Bugis, penebusan-penebusan siri berupa pembalasan dan penganiayaan tanpa pertimbangan kemanusiaan mulai berubah. Dengan kata lain, penebusan siri yang sering dianggap orang melampui batas tersebut menjadi lebih terarah penerapannya sejak kedatangan agama Islam. Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar menjauhkan diri dari kejahatan dan perbuatan maksiat seperti membunuh. Namun, jika terjadi kasus yang menyebabkan harga diri seseorang diinjak-injak, maka kasus tersebut diserahkan kepada pihak yang berwewenang, seperti lembaga adat atau pihak kepolisian.

2. Konsep Siri’

Siri adalah suatu hal yang abstrak dan berada di alam pikiran manusia Bugis. Pengertiannya hanya dapat diketahui melalui pengamatan dan observasi dengan melihat akibat konkret yang ditimbulkannya, yaitu berupa tindakan-tindakan. Oleh sebab itu terkandung pengertian-pengertian tertentu yang meliputi berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan masyarakat dalam kata siri’ ini. Para peneliti terdahulu telah mengkaji mengenai pengertian siri secara leksikal maupun pengertiannya secara luas menurut sudut pandang mereka masing-masing.

Batasan pengertian kata siri’ sebagai berikut:

1. Siri’ berarti malu, isin (Jawa), atau shame (Inggris).
2. Siri’ merupakan daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, mengusir dan sebagainya terhadap apa atau siapa saja yang dapat menyinggung perasaan atau harga diri seseorang.
3. Siri’ juga merupakan daya pendorong yang dapat ditujukan ke arah pembangkitan tenaga untuk membanting tulang dan bekerja mati-matian demi suatu pekerjaan atau usaha.
4. siri merupakan pembalasan yang berupa kewajiban moril untuk membunuh pihak yang melanggar adat.
5. siri’ sebagai perasaan malu yang dapat menimbulkan sanksi dari keluarga yang dilanggar norma adatnya .
Selain pendapat para peneliti, berbagai ungkapan dalam bahasa Bugis yang terwujud dalam kesusasteraan, paseng (nasehat), dan amanat-amanat dari leluhur dapat dijadikan petunjuk untuk memahami tentang pengertian siri’.Seperti ungkapan berikut:

a. Siriemmi ri onroang di lino, artinya hanya untuk siri-lah kita hidup di dunia ini. Pengertian siri’ dalam ungkapan ini merupakan hal yang memberikan identitas sosial dan martabat kepada seseorang. Hidup seseorang dianggap berarti jika pada dirinya terdapat martabat atau harga diri.
Dalam kehidupan bangsa Bugis, siri merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi ini selain daripada siri’. Bagi manusia Bugis, siri’ adalah jiwa mereka, harga diri mereka, dan martabat mereka. Oleh sebab itu, untuk menegakkan dan membela siri yang tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, maka manusia Bugis akan bersedia mengorbankan apa saja, termasuk jiwanya yang paling berharga demi tegaknya siri dalam kehidupan mereka.”

b. Mate ri sirina, artinya mati dalam siri atau mati karena mempertahankan harga diri. Mati dalam keadaan demikian dianggap mati terpuji atau terhormat. Dalam bahasa Bugis ada juga ungkapan mate rigollai, mate risantangi, yaitu menjalani kematian yang bergula dan bersantan, atau dengan kata lain menjalani kematian yang manis.

c. Mate siri, artinya orang yang sudah hilang harga dirinya tak lebih dari bangkai hidup. Agar tidak dianggap sebagai bangkai hidup, maka orang Bugis merasa dituntut untuk melakukan penegakan siri walaupun nyawanya sendiri terancam. Menurut mereka, lebih baik mati ri risi-na daripada mate siri, artinya lebih baik mati karena mempertahankan harga diri daripada hidup tanpa harga diri.

Pengertian–pengertian siri di atas memperlihatkan bahwa keberadaan konsep siri dalam kehidupan bangsa Bugis dapat juga menjadi pemutus tali kekeluargaan dan persaudaraan di antara mereka. Namun, dalam realitas sosial, keadaan demikian tidak terjadi karena dapat dinetralisir oleh keberadaan sebuah konsep yang disebut dengan pessé. Secara leksikal, pessé berarti pedis atau perih, sedangkan pessé dalam pengertian luas mengindikasikan perasaan haru (empati) yang mendalam terhadap tetangga, kerabat, atau sesama anggota kelompok sosial.

Pessé melambangkan solidaritas bukan hanya pada seseorang yang telah dipermalukan tetapi juga siapa saja dalam kelompok sosial yang sedang dalam keadaan serba kekurangan, berduka, mengalami musibah, atau menderita sakit keras. Jadi, rasa saling pessé antaranggota sebuah kelompok adalah kekuatan pemersatu yang penting. Oleh sebab itu, ada pepatah orang Bugis yang mengatakan “iya sempugi’ku, rekkua de-na sirina, engka messa pesséna”, artinya “kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak lagi menaruh siri’ atasku, paling tidak dia pasti menyisakan pessé”. Dengan demikian, antara siri’ dan pessé harus tetap ada keseimbangan agar bisa saling menetralisir keadaan-keadaan ekstrem yang dapat menjadi pemecah-belah persatuan dan kesatuan komunitas bangsa Bugis.

Peristiwa siri yang muncul dalam diri orang Bugis sebenarnya berasal dari aspek pangngadereng itu sendiri. Oleh karena itu, pemulihan siri tersebut dapat ditempuh melalui nilai-nilai pangngadereng juga. seperti ungkapan berikut:

1. Ada empat hal yang memperbaiki kekeluargaan (pergaulan hidup): (a) kasih sayang dalam keluarga, (b) saling memaafkan yang kekal, (c) tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan demi keluhuran, (d) saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan.

2. Bukankah dengan demikian berarti ade’ ada buat kasih sayang, bicara ada buat saling memaafkan, rapang ada buat saling memberi pengorbanan demi keluhuran, dan adanya wari buat mengingati perbuatan kebajikan?”

Tujuan hidup menurut pangngadereng adalah melaksanakan tuntutan fitrah manusia guna mencapai martabatnya, yaitu siri. Bila pangngadereng beserta aspek-aspeknya tidak ada lagi, akan terhapuslah fitrah manusia, hilanglah siri, dan hidup tidak ada artinya bagi orang Bugis. Oleh karena itulah orang Bugis sangat patuh terhadap pangngadereng demi siri atau harga diri. Orang yang memiliki rasa siri yang tinggi berarti orang yang mempunyai sifat yang mulia dan tinggi nilai atau martabatnya di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, maka perilaku setiap individu harus didasarkan pada sifat “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE,” artinya pandai mempertimbangkan dan jujur, berani dan teguh pendirian, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ungkapan ini menunjukkan bahwa esensi siri’ hanya mungkin diperoleh seseorang yang pandai dan jujur, berani dan teguh, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan demikian, konsep siri’ yang sampai sekarang diyakini secara konsisten oleh orang Bugis mempengaruhi tatanan kehidupan bagi masyarakat pendukungnya. Pengaruh-pengaruh tersebut di antaranya ketaatan kepada pangngadereng, penegakan harga diri atau martabat, identitas sosial, tradisi merantau dan motivasi kerja, dan kontrol sosial,yaitu

a. Ketaatan kepada pangngadereng. Konsep siri merupakan tuntutan budaya terhadap setiap individu untuk mempertahankan kesucian pangngadereng sehingga keamanan, ketertiban, dan kesejahtaraan masyarakat tetap terjamin. Pangngadereng adalah sistem norma dan aturan-aturan adat serta tata tertib yang berfungsi sebagai kontrol sosial, baik bersifat preventif maupun represif, dalam mengatur seluruh tingkah laku manusia. Sebagai langkah preventif, dalam sistem ini diajarkan bagaimana manusia mengenal perbuatan yang baik dan buruk. Dengan demikian, seseorang yang akan berbuat sudah mengetahui akibat-akibat dari perbuatannya. Jika terjadi sebuah pelangggaran terhadap tata tertib masyarakat, maka sistem ini akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya kepada siapa pun pelakunya, termasuk penguasa.

Pangngadereng menunjung tinggi persamaan dan kebjiksanaan namun menolak segala bentuk kesewenang-wenangan, pemerkosaan, penindasan, dan kekerasan. Sistem pangngadereng mengandung esensi yang sangat bernilai bagi pendukungnya, yaitu menjunjung tinggi martabat manusia. Oleh karena itulah setiap individu dituntut untuk menjunjung tinggi dan menaati adat tata kelakuan atau sistem pangngadereng yang berlaku. Dengan melaksanakan pangngadereng, berarti seseorang telah berusaha mencapai martabat hidup yang disebut dengan siri.

b. Penegakan harga diri dan martabat. Siri pada diri manusia Bugis dapat muncul dari berbagai realitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Jika seseorang telah dibuat tersinggung oleh kata-kata atau tindakan orang lain yang dianggapnya tidak sopan, maka seluruh anggota keluarganya akan ikut merasa tersinggung dan melakukan pembalasan terhadap orang itu demi menegakkan harga diri keluarga. Salah satu realitas sosial yang paling banyak bersinggungan dengan masalah siri adalah perkawinan. Jika seseorang telah ri pakasiri’ atau dibuat malu karena anak gadisnya ilariang atau dibawa lari oleh seorang pemuda, maka seluruh pihak keluarga laki-laki gadis itu merasa berkewajiban untuk membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga.

c. Identitas sosial. Siri adalah unsur yang sangat prinsipil dalam diri orang Bugis. Hidup seseorang dianggap berarti jika pada dirinya terdapat martabat atau harga diri. Menurut mereka, tak ada satu nilai pun yang berharga untuk dibela dan wajib dipertahankan selain daripada siri’ karena hanya untuk siri’-lah kita hidup di bumi ini (siri’ emmi ri onroang ri lino). Ungkapan ini menjadi identitas sosial yang dianut secara bersama-sama oleh golongan-golongan tertentu dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

d. Tradisi merantau dan motivasi kerja keras. Keberadaan konsep siri dapat menjadi motif penggerak banyak orang Bugis pergi merantau. Seseorang yang tidak mampu melakukan pembelaan untuk menegakkan harga dirinya, maka ia akan dicap oleh masyarakat sebagai tau de’ gaga siri-na (pengecut, tidak terhormat, atau tidak memiliki harga diri). Oleh karena itu, tidak ada jalan lain yang harus ditempuh kecuali meninggalkan kampung halamannya. Perantau yang berasal dari kelompok ini umumnya merupakan perantau abadi, artinya ia dan keluarganya tidak ingin kembali ke negeri asalnya.

Ada pula orang yang merantau terkait dengan masalah siri¸ yaitu para pemuda yang dibuat malu karena pinangannya ditolak akibat ketidamampuannya memenuhi mahar yang diminta oleh pihak keluarga perempuan. Dengan merantau, mereka akan berusaha bangkit untuk mengembalikan harga dirinya di perantauan, walau bagaimanapun keadaan yang dihadapinya. Mereka tidak akan mengeluh, memohon bantuan dan meratapi nasibnya sebagai perantau yang kalah dan cengeng dalam menghadapi berbagai tantangan berat. Mereka akan berusaha mencapai keberhasilan agar dapat memiliki kemampuan materi dan kemudian kembali ke negeri asalnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pemuda yang bertanggung jawab.

e. Kontrol sosial. Dalam realitas kehidupan orang Bugis, pengertian siri tidak melulu bersifat menentang dalam artian melakukan penebusan-penebusan demi tegaknya harga diri seseorang, tetapi siri’ juga dapat dimaknai sebagai perasaan halus dan suci. Seseorang yang tidak mendengarkan nasehat orang tua, suka mencuri dan merampok, tidak melaksanakan shalat, atau tidak tahu sopan santun juga dianggap sebagai orang yang kurang siri’-nya. Jadi, siri’ dapat menjadi sebuah kontrol sosial bagi setiap individu maupun masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari sehingga pelanggaran-pelanggaran adat, hukum, maupun tata kesopanan dapat terjaga dengan baik.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Siri yang dianut oleh orang Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk membangun ketertiban, keharmonisan, dan keamanan kehidupan sosial sehingga harga diri dan martabat manusia menjadi bernilai. Hingga sekarang, konsep ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat Bugis sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari. Hanya saja, nilai-nilai yang terkandung di dalam konsep siri sudah mulai luntur. Nilai-nilai siri yang semestinya didasarkan pada “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE” sudah banyak diabaikan oleh sebagian orang sehingga muncul berbagai multitafsir tentang mereka. Oleh karena itu, hendaknya pengertian siri tidak hanya dimaknai secara sempit sehingga dalam prakteknya tidak menyimpang dari makna yang sesungguhnya. Dengan demikian, tatanan kehidupan manusia di muka bumi ini menjadi tertib, harmonis, dan aman.

Tokoh Bugis

Faqih Ali Al-Malbari moyang dan ulama raja-raja Melayu

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

TOKOH yang diperkenalkan ini berbeza dengan beberapa tokoh bernama Ali yang pernah dibicarakan sebelum ini, iaitu Syeikh Wan Ali bin Ishaq al-Fathani, Syarif Ali Brunei dan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Faqih Ali al-Malbari yang akan diperkenalkan dalam rencana kali ini juga bernama Andi' Ali. Terdapat percanggahan pendapat mengenai negeri asalnya kerana ada pendapat mengatakan beliau berasal dari negeri Malabar (India) dan pendapat yang lain pula mengatakan berasal dari negeri Bugis (Sulawesi Selatan, Indonesia).

Dalam zaman yang sama, terdapat seorang lagi tokoh yang bernama Syeikh Faqih Ali yang berasal dari Patani yang dikatakan orang yang sama dengan Faqih Ali al-Malbari atau Andi' Ali, kerana sama-sama menjalankan aktiviti di Sulawesi Selatan, Johor, Kelantan dan Patani.

Namun demikian, penulis tidak dapat memastikan tentang perkara tersebut, apakah benar orang yang sama atau tokoh yang berlainan. Tetapi dapat dipastikan bahawa tokoh yang akan diperkenalkan ini adalah seorang tokoh besar dunia Melayu yang mempunyai zuriat yang ramai menjadi ulama dan raja dalam beberapa kerajaan di Patani dan Kelantan, bahkan terdapat juga di beberapa tempat-tempat lain dunia Melayu.

Asal Usul
Dalam buku yang bertajuk Ringkasan Cetera Kelantan oleh Datuk Nik Mahmud, Datuk Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan, ada menyatakan seperti berikut, “Syahdan pada suatu masa, bulan sedang mengambang, di tepi langit, tersebutlah anak raja Bugis lari daripada saudaranya. Menumpang sebuah bahtera sampai ke Johor dan tumpang duduk berkirim diri di rumah Laksamana Kota Tinggi. Dipanggil orang 'Andi' Ali'. Tatkala Laksamana memandang kepadanya, berasa kasihan belas, dan dipeliharakannya sebagai anak sendiri. Tidak berapa tahun kemudian daripada itu, dijodohkan dengan anaknya yang bernama 'Wan Tija'.

Tidak berapa lama lepas itu, Andi' Ali serta dengan isterinya pun beredar ke Patani. Menumpang di rumah Mekong Damit, Kampung Bira, pada tahun Hijrah 1049 (kira-kira 1640M). Maka kerana lemah lembut tingkah lakunya, dan berpelajaran, orang di Patani memanggilnya Faqih Ali. Di situ ia beristeri Cik Dewi anak Seri Biji Diraja. Faqih Ali beroleh beberapa anak laki-laki dan perempuan dengan kedua-dua isterinya (Wan Tija dan Cik Dewi)…”

Dalam salah satu salasilah yang penulis peroleh dari Terengganu ada tertulis seperti berikut, “Faqih Ali Malbari, asal anak raja Bugis keluar daripada negerinya pergi ke Malabar kerana menuntut ilmu agama dan tinggal di sana dengan menyembunyikan bangsanya. Dan menamakan dirinya Faqih Ali, kemudian masuk ke Johor dan ke Patani. Anak cucunya di Patani, di Kelantan, di Terengganu, dan seluruh negeri Melayu.”

Riwayat yang lain pula berdasarkan beberapa silsilah terutama yang ditulis oleh Haji Nik Ishak, Tingkat, Kelantan, yang menyatakan bahawa Andi' Ali itu namanya juga ialah Syeikh Ali al-Malbari. Namun begitu, riwayat tokoh ini masih kabur kerana dalam versi yang lain dikatakan beliau berasal dari negeri Bugis dan ada pula yang menyebut dari Malabar. Malahan yang lebih menyukarkan apabila dikatakan salasilah yang ditemui di Patani menyebut bahawa Syeikh Shafiyuddin Datuk Pujuk Pemerintah Patani adalah anak Faqih Ali al-Malbari.

Sekiranya Syeikh Shafiyuddin yang dimaksudkan adalah yang bergelar Tok Raja Faqih, maka cukup jelas bahawa ia tidak tepat. Namun jika yang dimaksudkan adalah orang lain, masih boleh diambil kira sebagai satu catatan salasilah yang betul.

Adapun gelaran Tok Raja Faqih yang dimaksudkan tersebut adalah seorang tokoh Patani yang bernama Faqih Ali, iaitu putera Wan Muhammad bin Syeikh Shafiyuddin. Beliau merupakan orang pertama yang menyusun Tarikh Patani dalam bahasa Melayu yang berdasarkan karya datuk/neneknya Syeikh Shafiyuddin yang ditulis dalam bahasa Arab. Faqih Ali ini adalah seorang pembesar Patani yang digelar Datuk Maharajalela. Beliaulah yang mencari bantuan kerajaan Bone di Sulawesi apabila terjadinya peperangan antara Patani dengan Siam tahun 1632 M.

Diriwayatkan bahawa beliau wafat di Sulawesi dan juga dikatakan beliau pulang ke Semenanjung dengan menggunakan nama Faqih Ali al-Malbari atau Andi' Ali itu. Namun, masih sukar untuk dipastikan apakah yang bernama Faqih Ali itu hanya seorang atau dua atau tiga orang yang bernama sama tetapi hidup sezaman. Oleh kerana Faqih Ali al-Malbari tidak diketahui nama orang tuanya, maka masih belum boleh disimpulkan pendapat bahawa tokoh yang dimaksudkan hanya seorang sahaja, iaitulah Faqih Ali, pembesar Patani tersebut. Nama orang tuanya ialah Wan Muhammad bin Syeikh Shafiyuddin, iaitu Tok Raja Faqih.

Terdapat pendapat yang lain pula, dikatakan bahawa Faqih al-Malbari adalah saudara kandung Ibrahim Datu Kelantan VI (1632-1637 M) yang digelar dengan Ong Chai Nyek Ong Brohim Po Nrp yang menjadi raja di Campa tahun 1637 - 1648 M. Namun masih timbul keraguan kerana dikatakan bahawa ayah Faqih Ali dan Ibrahim bernama Mustafa Datu Jambu bergelar Sultan Abdul Hamid Syah atau Ong Tpouo atau Po Rome yang kemudiannya bergelar Raja Sri Sarvasades, iaitu raja Campa tahun 1577 - 1637 M.

Ayahnya pula bernama Abdul Muzaffar Waliullah. Berpunca daripada Abdul Muzaffar inilah menurunkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh besar Patani, Kelantan, Terengganu dan lain-lain termasuklah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani dan ramai lagi.

Namun dalam penemuan penulis yang berdasarkan silsilah yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani di Makkah, nenek moyang mereka ialah Syeikh Ibrahim bin Abar al-Hadhrami. Perkara ini pertama kali penulis perkenalkan dalam Konvensyen Sejarah Kedah pada tahun 1996, dengan kertas kerja yang berjudul 'Hubungan Ulama Patani dan Kedah: Kekeluargaan, Pertalian Ilmu dan Karya.'

Apabila dibandingkan dengan catatan-catatan yang lain, beliau juga bernama Syeikh Ibrahim al-Hadhrami bin Saiyid Jamaluddin al-Kubra. Di Patani, beliau memperolehi lima orang anak yang menjadi tokoh dan ulama. Bermula kelima-lima anak beliau itu lahirnya ulama Patani dan Semenanjung yang sangat ramai.

Beliau pergi pula ke Kemboja dan memperolehi beberapa orang anak, salah seorang daripadanya ialah Raden Rahmatullah atau Raden Rahmat yang kemudiannya lebih masyhur dengan gelaran 'Sunan Ampel', iaitu salah seorang Wali Songo atau Wali Sembilan di Jawa.

Adapun Abdul Muzaffar Waliullah pula adalah bersaudara kandung dengan Syarif Hidayatullah atau lebih terkenal dengan gelaran Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di Jawa Barat. Melalui beliaulah berkembangnya ulama-ulama dan sultan-sultan Banten. Beliau juga adalah termasuk salah seorang dalam Wali Songo atau Wali Sembilan. Saudaranya pula ialah Sultan Babullah (Sultan Ternate). Ayah Abdul Muzaffar Waliullah, juga ayah kepada Sunan Gunung Jati dan Sultan Babullah ialah Sultan Abu Abdullah 'Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo (Bo Teri Teri) atau Maulana Israil iaitulah raja Campa tahun 1471 M. Manakala ayahnya pula ialah Saiyid Ali Nur Alam.

Terdapat Dua Kerajaan Patani
Yang dimaksudkan "terdapat dua kerajaan Patani" ialah sebuah Kerajaan Patani terletak di utara Semenanjung Tanah Melayu (sudah diketahui ramai) dan sebuah lagi yang terletak di Pulau Halmahera, Kepulauan Maluku, Indonesia. Sekiranya benar Sultan Babullah (Sultan Ternate) adalah putera Sultan Abu Abdullah 'Umdatuddin (Cam) yang asal usulnya dari Patani maka tidaklah mustahil bahawa kerabat Diraja Patani di utara Semenanjung Tanah Melayulah yang mengasaskan Kerajaan Patani di Ternate (Halmahera).

Dengan informasi di atas dapat dipastikan bahawa sejak lama ada hubungan antara Patani, Cam/Campa/Kemboja, Jawa, Ternate, dan tempat-tempat lainnya. Sehubungan dengan wujudnya dua Kerajaan Patani (di Segenting Kera dan Ternate) telah disebut mengenainya oleh Drs. Abdul Rahman Al-Ahmadi di dalam Pendidikan Islam di Malaysia (manuskrip) katanya, "...sebuah negeri bernama Patani di Halmahera, dalam daerah Tidore, di Timur Laut Semenanjung Halmahera berbatasan dengan daerah Maba dan Weda..." dan juga telah disebut oleh Pehin Orang Kaya Amar Diraja Dato Seri Utama(Dr.) Haji Awang Muhammad Jamil Al-Sufri di dalam bukunya Tarsilah Brunei tertulis ..." Sheikh Amin dan Sheikh Umar menyebarkan agama Islam di Halmahera Belakang, Maba, Patani dan sekitarnya...". Dengan terdapatnya informasi ini maka masih dapat diambil kira bahawa ada hubungan antara Patani (Segenting Kera) dengan Patani di (Ternate), dan dapat diterima akal bahawa melalui jalur dari Patani ke Cam sehingga melahirkan sekurang-kurangnya tiga orang bersaudara, iaitu: Abdul Muzaffar Waliyullah, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan Sultan Babullah (Sultan Ternate). Ketiga-tiganya adalah cucu Saiyid Ali Nur Alam, yang dibesarkan di Patani dan ramai keturunannya di sana. Baik salasilah Faqih Ali mahu pun salasilah Saiyid Ali nur Alam yang menurunkan tokoh-tokoh yang tersebut bercampur aduk dan membaur, masih sukar mencari titik temu secara pasti. Salasilah pila terdiri berbagai-bagai versi ada yang sama dan ada yang sangat jauh perbezaan antara satu dengan lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan demikian di antaranya ialah kadang-kadang seorang tokoh mempunyai dua nama atau tiga nama gelar.

Keturunan Faqih Ali al-Malbari
Menurut Datuk Nik Mahmud dalam buku Ringkasan Cetera Kelantan, bahawa Faqih Ali/Andi' Ali mempunyai anak yang ramai tetapi yang dijelaskan namanya dalam salasilah ialah :
1. Wan Derahman
2. Wan Namah
3. Wan Nik (Datuk Wan)
4. Wan Siti
Salasilah versi Patani pula menyebut anak-anak Faqih Ali al-Malbari seperti berikut :
* Syeikh Shafiyuddin (Datuk Pujuk Pemerintah Patani)
* Nik Din Menteri Lagi Pahlawan Bagi Datuk Pujuk 1
* Wan Ismail Tok Kaya Pandak/Pendek
* Tok Kaya Rakna Diraja
* Wan Faqih Husein
* Wan Nguk (isteri Tok Kaya Banggul)

Salasilah versi Terengganu pula adalah sama dengan versi Patani, tetapi tiada dinyatakan dua nama iaitu Syeikh Shafiuddin dan Nik Din. Manakala Wan Nguk pula ditambah namanya juga Wan Ngah, isteri Tok Kaya Banggul, anak cucunya keturunan kepada Wan Ahmad di Perlis.

Silsilah keturunan tokoh ini jika dijabarkan keseluruhannya memerlukan keterangan yang panjang dalam sebuah buku. Oleh itu, penulis dapat nyatakan beberapa keturunan beliau yang menjadi tokoh dan ulama penting dunia Melayu, antaranya adalah:

lSyeikh Abdul Qadir al-Fathani, seorang ulama yang mendidik ramai ulama Terengganu. Salasilahnya : Syeikh Abdul Qadir al-Fatani Bukit Bayas bin Tok Wan Abdur Rahim bin Tok Wan Deraman bin Tok Wan Abu Bakar bin Wan Ismail Tok Kaya Pandak/Pendek.

lSyeikh Nik Mat Kecil al-Fathani, penyusun Matla' al-Badrain yang terkenal. Silsilahnya : Syeikh Muhammad bin Wan Ismail bin Wan Ahmad bin Wan Idris bin Haji Wan Tih, ibunya Wan Nik/Tok Wan Ti suaminya Wan Zubeid/Tok Wan Dahit, Wan Nik binti Tok Wan Abu Bakar bin Wan Ismail Tok Kaya Pandak/Pendek.

lLong Yunus. Silsilahnya : Long Yunus bin Long, Sulaiman bin Tuan Besar (Long Baha) Datuk Kelantan bin Wan Daim (Datu Pangkalan Tua) Raja Patani bin Wan Nik (Datuk Wan).

Datuk Nik Mahmud, Datuk' Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan menulis bahawa tiga anak Datuk Pangkalan Tua Raja Patani (Wan Daim) telah menghadap Raja Umar Jembal dan ketiga-tiganya berkahwin di Kelantan. Mereka adalah:
* Tuan Sulung dikahwinkan dengan Cik Biru anak Penghulu Hitam Kampung Laut.
* Tuan Besar dikahwinkan dengan Raja Pah puteri Raja Umar.
* Tuan Senik dikahwinkan dengan Cik Seku anak Penghulu Deramat Kampung Geting, menjadi Raja di negeri Bukit Jarum Legih, kotanya bernama Kota Pasir Mas.

Huraian susur galur salasilah yang dinyatakan dalam rencana ini hanya sebahagian sahaja, ini kerana keturunan beliau sangat ramai yang menjadi tokoh sama ada yang menjadi ulama mahupun menjadi sultan. Tetapi penulis tidak dapat menyenaraikan kesemuanya sekali, hanyalah sebagai pengenalan ringkas mengenainya. Sebagai penutupnya, penulis menyimpulkan bahawa sekiranya ditulis salasilah yang lengkap, boleh dikatakan kebanyakan golongan raja-raja Melayu mempunyai kaitan sebagai keturunan Faqih Ali al-Malbari, baik dari pihak sebelah lelaki mahupun dari pihak sebelah perempuan.

Daeng Parani 5 bersaudara

PANDUAN Pelayaran berusia 300 tahun dipercayai digunakan Daeng Parani ketika menjelajah ke Tanah Melayu

Raja Kechil tolak cadangan damai menyebabkan berlaku peperangan selama setahun dengan Raja Kedah

PENEMUAN makam Daeng Parani, tokoh yang terbabit secara langsung dalam percaturan politik Kedah lama pada kurun ke-18 di Kampung Ekor Lubuk, Sidam Kiri dekat Sungai Petani, menambah satu lagi produk pelancongan bersejarah negeri itu.

Usaha menjejaki peninggalan Daeng Parani dikatakan dilakukan sejak lebih 30 tahun lalu oleh keturunannya yang ramai tinggal di kampung berkenaan.

Usaha lebih terancang dan agresif dengan kajian ilmiah berpandukan buku Sejarah Melayu yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Tuhfat al-Nafis, hanya dilakukan oleh Persatuan Keturunan Opu Dahing Parani sejak kira-kira dua tahun lalu.

Selain itu, cerita mengenai Daeng Parani juga disebut dalam buku sejarah lama lain seperti Salasilah Melayu dan Hikayat Siak.

Setiausaha persatuan itu, Roshaliza Abdul Razak, berkata kajian agresif dan ilmiah dimulakan pada 6 Ogos 2006 dengan tujuan untuk mengeratkan hubungan silaturahim sesama ahli keturunan tokoh berkenaan.


MAKAM Daeng Parani yang terletak di Kampung Lubuk Ekor dekat Sidam Kiri, Sungai Petani


Kemuncak kepada usaha menjejaki peninggalan Daeang Parani apabila forum yang dianjurkan oleh Persatuan Sejarah Negeri Kedah (PSNK) pada 13 Mei 2007 bersetuju dan menegaskan makam Daeng Parani terletak di kampung berkenaan.

Forum berkenaan yang khusus untuk membincangkan lokasi makam tokoh itu dipengerusikan oleh pensyarah sejarah Universiti Sains Malaysia (USM), Prof Madya Mohd Isa Othman dan panel dianggotai oleh Pensyarah Sejarah Universiti Malaya (UM), Prof Abdullah Zakaria Ghazali dan Pengerusi PSNK, Datuk Wan Samsuddin Mohd Yusof.

Pembabitan Daeng Parani serta empat saudaranya, Daeng Marewah, Daeng Menambun, Daeng Celak dan Daeng Kemasi, dalam politik Kedah lama bermula apabila dia dipanggil oleh Raja Kedah pada 1720-an untuk membantu dalam isu perebutan takhta.

Misi Opu Bugis Lima Bersaudara itu ialah membantu mengambil alih takhta daripada adinda Raja Kedah ketika itu dengan sokongan kuat orang Bugis dan Mengkasar.





ARTIFAK lama dipercayai milik Daeng Parani.
Abdullah Zakaria dalam kertas kerjanya pada forum berkenaan menyatakan pembabitan Daeng Parani dan saudaranya dalam politik Kedah apabila dia mengutus surat kepada Raja Kechil mengenai cadangan pembahagian kuasa dan tugas bagi mengelak sengketa.

Bagaimanapun, Raja Kechil menolak cadangan itu dan berlaku peperangan yang berlarutan selama setahun antara gerombolan Raja Kedah dan Raja Kechil.

Daeang Parani terkorban dalam pertempuran kali kedua walaupun angkatan Raja Kechil tewas, yang dikatakan berlaku dekat Kampung Ekor Lubuk dan dikebumikan secara adat raja-raja di situ oleh saudaranya.

Dia dikatakan meninggal dunia apabila dibedil dengan meriam oleh Raja Kechil ketika mahu melabuhkan perahunya dekat Sungai Muda untuk berdepan dengan Raja Kechil.

Selain Kedah, Daeng Parani lima bersaudara itu yang dikatakan tinggi ilmu agama dan pelayaran juga terbabit secara langsung dalam politik Johor, Selangor, Negeri Sembilan yang disebut Linggi dan Perak ketika itu.

Roshaliza berkata, sehingga ini PSNK mengiktiraf bahawa makam itu adalah pusara Daeng Parani manakala Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan dikatakan dalam proses untuk membaikpulih kawasan pusara supaya menjadi tapak lawatan orang ramai.

"Sehingga ini, kami berjaya mengumpulkan kira-kira 5,000 ahli keturunan Daeang Parani di beberapa negeri seperti Kedah, Perlis dan Pulau Pinang," katanya.

Pahlawan Melayu gunakan baju, topi besi ketika berperang

DAENG Parani disifatkan sebagai pahlawan yang mempunyai ilmu agama dan pelayaran yang tinggi sehingga membolehkan dia dan empat saudaranya mengembara dengan kapal kecil dari Kepulauan Sulawesi ke Tanah Melayu.

Setiausaha Persatuan Keturunan Opu Dahing Parani, Roshaliza Abdul Razak, berkata perkara itu terbukti dengan kewujudan sekeping jadual pelayaran yang mempunyai gambar haiwan tertentu, kapal dan simbol tertentu dan bertulisan Jawi tetapi amat sukar difahami yang dipercayai ada kaitan dengan jadual pelayaran Opu Bugis Lima Bersaudara itu.

Malah, lima bersaudara itu juga dikatakan mula menggunakan baju dan topi besi ketika berperang, peralatan yang dianggap maju ketika itu dan menggerunkan lawan.

"Mereka juga adalah keturunan Raja di kepulauan itu dan kecuali Daeng Parani, semua empat adik-beradiknya pernah menduduki takhta di beberapa kawasan di Indonesia," katanya.

Berdasarkan catatan dalam Tuhfat al-Nafis, lima bersaudara itu amat rapat antara satu sama lain dan keempat-empat beradik, Daeng Chelak, Daeng Marewah, Daeng Menanbung dan Daeng Kemasi amat patuh kepada arahan Daeng Parani.

Bukti kepada kesepakatan itu apabila Daeang Parani berangkat ke Siak untuk berbincang dengan empat saudaranya itu mengenai strategi apabila dia menerima surat daripada Raja Kedah memohon bantuan berkaitan perselisihan takhta.

Lima bersaudara itu adalah anak kepada Raja Bugis, Opu Tendriburang Daeng Rilaga, putera kepada La Maddusalat, yang memerintah Luwuk, Indonesia ketika itu.

Roshaliza berkata, jadual pelayaran itu disimpan oleh keluarganya sehingga turun temurun selain beberapa artifak lain seperti tempayan dan pedang.

Lima bersaudara itu dikatakan datang ke Kedah pada 1724 sekali gus terbabit dengan politik negeri itu ketika itu.

Selepas mangkat, makam Daeng Parani di Kampung Ekor Lubuk dekat Sungai Petani dikatakan disembunyikan manakala ahli keluarganya di situ tidak dinamakan dengan Daeng bagi mengelakkan daripada dijadikan mangsa dendam oleh angkatan Raja Kechil yang ditewaskan

PERKATAAN2 BAHASA BUGIS

Posted by Abd lah @ Abdullah Bin Awang Wednesday, August 11, 2010
Kaki=aje
Anunya lelaki=laso....anunyaperempuan=lesi/combi
mata=mata
rambut=geme
telinga=daculing
Kepala=ulu
tangan=lima
pusat=possi
pantat=uri
paha=poppang
mulut=timun/timung
gigi=isi
katiak=kalepa

satu= seddi
dua=dua
tiga=tellu
empat=eppa
lima=lima
enam=enneng
tujuh=pitu
lapang=aruah
sembilan=serah
sepuluh=seppuloh

bapa = ambo ..................indo = ibu
Lelaki=burane ................Perempuan=makkunrai
suami=lakkai..................isteri= baene

orang tua =taumatoa...........orangmuda=kallolo
penganggur = bambong..........pekerja=pajama
sepupu=sappok.................nure=anak kamanakang/anak saudara
pencuri=maling................polis=polisi
cewek =canrik/canring
macik/pakcik=mure
kawan=lago
pedagang=paddagang
orang = tau
pesawah=paggalung
pemuda=kallolo
dukun=sanro


panjat=kenre..................turun=nok
Makan = mandre................minum=winung/minung
buka= timpa...................tutup=tutuk
panas=pella...................sejuk=cekke/keccek
duduk = tudang................berdiri=tettong
Jalan = jokka.................tingal=monro
ketawa=cawa...................nangis = terri/kerra
banyak = mega.................sedikit=ceddek
malam =wenni/benni............siang = esso
ingat=inggereng...............lupa=lupa
putus=pettu...................ikat=siok
panjang= lampe................pendek=poncok
esok = baja...................hari ini= esso'e
tinggal = monro...............pindah=lessek
pandai = macca................bodoh=dongok/benggo/tolle
dalam = laleng................luar=saliweng
bersama = sibawa..............sendiri=cilale
tunggu = tajeng...............tinggalkan =sallai
bangun = motok................tidur=tinro
pegang = ketenni..............lepas=lepesanggi
marah=macai...................sabar=sabbara
rosak=solang..................bagus/baik=magellok /makanjak
berak=jambang.................kencing=teme

jauh=bela.....................dekat=cawe
pakai=pake....................buka/tangal=legga
belakang=monri/boko...........depan=riolo
kahwin=botting................lado=bujang lappok/andartu
mati=mate.....................hidup=tuwo
atas=ase......................dibawah=ewa
mahal=suli....................murah=sempo
jual=balu.....................beli=meli
hitam=bolong .................putih=pute
tiada = degage................ada=engka
hilang = lennye/tabbe.........jumpa= runtuk/lolongi
ambil=alah....................beri/kasi=arengi
simpan/letak = taro...........buang=abeang
angkat = rakka/akka...........letak/simpan=taro
gula=golla....................garam=pejje
besar=loppo...................kecik=biccuk
kering=rakko..................basah=maricak
sudah=pura....................belum=deppa
lapar=malupu..................kenyang=messok
gemuk=commok/bondeng..........kurus=kojok/tengkek
habis=cappu...................ada=engka
bukan=tania...................ya=eyek
tumbuk=jagru..................tampar=teleppak
selipar =sandala..............kasut=sepatu
basikal = sapeda..............motor=motoro
keluar = messu................masuk=mattama
mahu = melo...................janganlah/tak payahlah = ajana
terus=terru...................singgah = leppang
sekejap = cinampe.............lama=maita
pulang = lisu.................sampai=lettu
Naik =menre ..................turun=nok
cari=sappa....................jumpa=runtuk/lolonggi
manis=cenning.................pahit=paik
mintak=milau..................beri/kasi=arengi
sikit = pedih/malasa.........selesa=nyameng
pergi=lao/lokka..............sampai/tiba=lettu
pinjam=minreng...............kasi balik=palisu'e
kumpulkan =peddeppungi.......hambur/sepah=tale
sembunyi=sobbuh/tapo.........muncul=collong
bertanya= makkutana..........beritahu=podanggi/pidanggi

gunting=goncing
bantal=angkelung
kelambu=bocok
Piring = penne
Penyapu = pasering


Pintu = tangge
beras=berre
sawah=galung
Rumah =bola
Bola = golok
rokok = pelo/tolek
Air = wae
kereta = oto
parang = bangkung
cangkul = bingkung
sungai=sallo
basen= beskom
Jalanan = laleng
sarung=lipa
kapal terbang=kappala luttu
sikat rambut=jakka
obeng=pemutar skru
hujan=bosi
papan =papeng
gunung=bulu
pakain yang dijemur=care2
rambut panjang = gonrong
air minum= wae rinung
selang=hos getah
baldi=ember
kayu=aju
seluar=sulara
sudu=sanruk
ajinamoto=pissing
nasi=nandre
kuih=beppa/gadde
penumbuk=pajagru
tumpis=becok
cakap/kata=fau/asseng
belajar=magguru
sembahyang=sempajang
azan=bang
batuk=more
tetap=tette
megantuk=cakarudduk
tergantung2=taddoleng2
kerja = jama
jatuh=meddu/buang
nanti=matu
Main = cule
masak = nasu
mungkin=kapang/bara
tusuk=coddo
Terlampau=liwe ladde
selingkuh=curang
beritahu=podanggi
dahulu=jolok
henti=paja (paja ni majama e acok=berhenti sudah kerja si acok)
menginap/bermalam=mabenni
tumpang lalu= tabe

suka = puji
taubat = toba
kerja = jama
kuat = lessi
lalu/limpas=lalo
dongak=congak
maksudnya=bettuanna
kentut=mettu
menitis=mitti
melihat=makita
panggil=olli/obbe
sebab=nasaba
teriak = gora
berdarah = maddara
bukan = tania
namaku = asekku
Hajat = minasa
ludah=miccu
Habis =cappu
sebat=cambo
Pukul=peppek/bampa/calla
rupa = tappa
menjadi = mancaji
berita = kareba
bawa = tiwi
janji=janci
rompong=sippo
selalu=tuli
berhati perut=babbua
gayamu/perangaimu=kedomu/sifa
ku sangka = uwasenggi
kecewa=kacele
rezeki = dallek
sebelah=cuali
dekat = sedde


kaya=sogi
kutuk/hina = cecca
hujung=cappak
lihat=mita
koyak=sape
rakus = labuaja
Lanjik = calledak
kedekut=sekkek
Penipu =pabbelleng
malu=masiri /cinna
gembira=mario
terkejut= cakkitte/taseleng
penat=poso
nakal =betta
malas=kuttu
siapa= niga/ingga
Busuk = kebbong/ keppang
mana= kega/tega
terseliuh=tapasolla
tangkap=tikkeng
baik/bagus/sesuai=deceng
baling=rempe
hempap/tindis=timpa
terlalu=talliwe
garu=kakkang
ambil peduli=najampangi
ganti=selle
sedar = sedding
cuci=bissa
bising=marukka
merah=cellek
potong/sembelih=gerek
susahpayah=silanre
lompat=luppe
cium=cippok
bertiarap=mapalaka
makkianak=beranak
megandung=mattampuk
mandi=cemme
raba=makarawa
luas=maloang
lebar=lebba
kode=isyarat
jenama=mere
bengkak=boro
temberang= borro


boleh=naule
bakar=tunu
wuduk=jennek/wae sampajang
Apa kau buat=Aga mu pigau

buah=bua
sukun=baka
pisang=utti
ubi =lame
manga=pao
kelapa=kaluku
nangka=pinasa
jagung=berelle

kerbau = tedong
ayam=manuk
ikan = bale
kucing=coki/miong
anjing=assu
kuda=nyarang
kambing=bembek
tikus=belesu
lipas=kanjopang
monyat=lanceng

Bugis, Dayak dan Balikpapan

Balikpapan adalah salah satu kota di Propinsi Kalimantan Timur dan lebih jelas tentang profilnya dapat dilihat pada situs resmi pemerintah Kota Balikpapan atau di Wikipedia.
Data jumlah penduduk kota Balikpapan  559.126 jiwa dengan persentase berdasarkan suku :
  1. Suku Paser 8,77%
  2. Suku Kutai 10,43%
  3. Suku Banjar 12,19%
  4. Suku Bugis 14,44%
  5. Suku Jawa 29,76%
  6. Rumpun Tionghoa 16,76%
  7. Suku Minahasa 6,81%
  8. Suku Batak 3,21%
  9. Suku Aceh 2,08%
  10. Suku Gayo 1,08%
  11. Suku Gorontalo 0,06%
Kota Balikpapan dengan motto Balikpapan Kota BERIMAN; Bersih, Indah, Aman, Nyamman.  kebersihan dibuktikan dengan meraih setifikat kategori clean land dari Environmentally Sustainable Cities (AWGESC) pada 2-3 Mei 2011 di Yangon, Myanmar dengan posisi kedua setelah Kota Phitsanulok, Thailand.
Tidak berselang lama dengan penerimaan penghargaan tersebut kemudian keamanan pun menjadi salah satu ujian bagi Kota Balikpapan untuk membuktikan diri sebagai salah satu kota teraman di Indonesia dengan sebuah peristiwa yang bisa saja menjadi pemicu kerusuhan dan berujung pada pertumpahan darah antara sesama penduduk Kota Balikpapan.
Peristiwa ini berawal dari perseteruan dua kelompok organisasi massa yakni Gerakan Pemuda Asli Kalimantan Timur (Gepak) dan organisasi massa LaGaligo  yang kemudian condong menjadi isu sara; Bugis-Makassar versus Dayak.
Berdasarkan sumber penulis, Gepak adalah salah satu organisasi yang dibentuk pada saat pemilu gubernur Kaltim tahun 2008 yang lebih banyak berafiliasi atau memberi dukungan kepada Bpk. Awang Faroek Ishak (AFI) yang sekarang sebagai Ketua Partai Golkar Kaltim. Mungkin karena dibentuk pada saat mendekati pemilu gubernur maka Gepak tidaklah  membatasi keanggotaan atau kepengurusanya berdasarkan suku tertentu walaupun pada akhirnya setelah AFI terpilih maka mulai membatasi diri atas suku tertentu atau kelompok tertentu atau asli dan pendatang, berdasarkan dinamika organisasinya.
Lagaligo adalah salah satu organisasi yang baru yang belum seumur jagung dan hampir gagal mendeklarasikan diri pada tanggal 25 Juni 2011 karena kuatnya penentangan terhadap pendiriannya oleh orang-orang Gepak, organisasi Lagaligo inipun sebenarnya tidaklah jauh berberbeda dengan Gepak  karena Ketua Dewan Pembinanya adalah Andi Burhanuddin Solong yang sekarang adalah Ketua DPRD Kota Balikpapan dan terpilih melalui Partai Golkar, Pengurus serta keanggotaan Lagaligo  adalah orang Sulawesi yang didominasi oleh “Bugis-Balikpapan”
“Bugis-Balikpapan” yang penulis maksud adalah Bugis Paser (baca selengkapnya di sini ) dan para keturunan  orang sulawesi dari perkawinan campuran antara etnis di Kalimantan yang kemudian bermukim di Kota Balikpapan dan mayoritas merasa sebagai penduduk asli Kalimantan karena pada faktanya tidaklagi sekedar datang ke Kota Balikpapan karena tugas atau sekedar datang sebagai pencari nafkah namun hidup dan matinya di kota Balikpapan dan pada umumnya tidak mengenal tradisi mudik di saat hari-hari raya keagamaan (melebihi Bang Toyyib), hal ini mungkin disebabkan karena semua asset hidupnya ada di Kota Balikpapan  atau pada umumnya tidak lagi memiliki kampung sendiri di Sulawesi namun tradisi dan adat Bugis pada kegiatan-kegiatan tertentu masih menggunakan ciri bugis seperti pada kegiatan pernikahan, sunatan dan lain-lain.
Beberapa tuntutan atas pendirian ormas Lagaligo dari ormas Gepak (baca: Forum Komunikasi Masyarakat Suku Asli Kalimantan; FKMaSAK  sebagai berikut :
1. FKMaSAK menolak keberadaan ormas kesukuan Lagaligo untuk berkembang di bumi Kalimantan
2. FKMaSAK meminta kepada Pemkot Balikpapan, segera mencabut izin ormas Lagaligo
3.FKMaSAK  meminta Ketua DPRD kota Balikpapan diberhentiakan dari jabatan dan mundur sebagai Anggota DPRD
4. FKMaSAK meminta semua Anggota DPRD Kota dan Propinsi yang masuk anggota Lagaligo untuk diberhentikan
5. FKMaSAK yakin akan terjadi benturan/kerusuhan, maka aparat yang paling bertanggungjawab
6. FKMaSAK tetap akan melakukan perlawanan terhadap Lagaligo sepanjang izin belum dicabut
7. FKMaSAK menyatakan Kapolres sebagai pembohong publik karena tetap memberi izin pendeklarasian Lagaligo pada tanggal 25 Juni 2011
Terhitung sejak tanggal 4 Juli 2011, FKMaSAK memberi tenggang waktu 3 x 24 jam kepada Wwalikota untuk membubarkan Lagaligo, sehingga kondisi balikpapan cukup lengang hingga tanggal 4 Juli 2011 dan Polda pun sangat serius memberikan pengamanan.
yang menarik sekaligus menegangkan sehingga perlu pihak pemerintah dan pihak kepolisian cermati adalah perkembagan issu yang semakin membesar karena cerita ini semakin hari makin meruncingkan perseteruan dan daerah-daerah tertentu di Kota Balikpapan cukup lengang seakan saling menjaga satu sama lain dan menuggu serangan.
Dan berdasarkan informasi penulis pada malam hari tanggal 4 Juli 2011, ada utusan Gepak mendatangi rumah Ketua Umum Lagaligo dan tetap memberikan  tuntutan :
1. Lagaligo tetap harus membubarkan diri
2. Andi Burhanuddin Solong harus dipecat dan diberhentikan sebagai ketua dan Anggota DPRD kota Balikpapan
3. Apabila point 1dan& 2 tidak dipenuhi maka Bugis-Dayak  akan perang
Ketua Lagaligo H. Tunrung menanggapi bahwa dirinya tidak bisa  mengabulkan permintaan pada point 1 dan 2 karena  sama sekali bukan kewenangan dan kapasitasnya melainkan kapasitas pemerintah, dan untuk point 3 tidak mungkin dilakukan kecuali pihak Gepak datang dan melakukan serangan.
Yang mengherankan dari kasus ini adalah begitu gencarnya issu yang terbangun Bugis-Dayak akan berperang, cerita ini banyak berkembang antara penduduk kota balikpapan dan kabupaten/kota tetangga bahkan hingga ke Banjarmasin Kalimantan Selatan, dalam pandangan penulis issu ini ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu untuk mengarahkan pertentangan ini menjadi isu sara seperti kejadian Sampit beberapa tahun lalu dan Tarakan beberapa bulan lalu.
Hal ini dapat lihat dari surat-surat tuntutan yang mengatasnamakan Forum Komuniasi Masyarakat Suku Adat Kalimantan namun aktualnya disaat demonstrasi di Kantor Pemerinta Balikpapan hanya mengekeksploitasi kelompok atau sebagian suku Dayak yang didatangkan jauh-jauh  dari luar Kota Balikpapan dengan menggunakan konvoi kendaraan.
Pada faktanya ketika FKMaSAK bergerak dilapangan menurunkan atribut-atribut Lagaligo selalu mengatasnamakan Gepak. Artinya di kelompok Gepak pun sebetulnya tidaklah menyeluruh sependepat dengan issu tersebut atau minimal menghindari dituntut balik oleh Lagaligo karena sama-sama berstatus sebagai OKP/ormas/paguyuban dan lain-lain  sehingga harus menggunakan nama FKMaSAK dalam administrasi Aksinya.  .
Sementara Suku Paser, Banjar, Kutai  cenderung tidak melibatkan diri secara komunal dalam persoalan tersebut walaupun kita tahu bahwa Balikpapan dihuni Awal oleh Suku Paser.
Kita tunggu perkembangan selanjutnya, semoga pemerintah, pihak keamanan tetap jeli dan tidak memberi ruang untuk terjadinya perang atas dasar isu sara di Balikpapan karena derita baru akan datang dan selalu membekas untuk kedua kubu yang bertikai dan selalu ada orang yang tidak terkait menjadi korban.

Lagu Wajib Bugis Bone

Posted by Abd lah @ Abdullah Bin Awang Thursday, June 4, 2009
ONKONA BONE


O... Mate Colli
Mate Collini Warue
Ritoto Baja-baja
Alla ritoto baja-baja
Alla nariyala kembongeng
O... Macilaka
Macilakani Kembongeng
Nappai ribala-bala
Alla nappai ribala-bala
Alla namate Puwangna
O... Taroni mate
Taroni Mate Puwangna
Iyapa upettu rennu
Alla iyapa upetturennu
Alla usapupi mesana

Prinsip Bangsa Bugis


Bangsa Bugis


1. Keturunan yang diajarkan bagaimana mempertahankan kehormatan keluarga.
2. Keturunan yang dibesarkan dengan memandang perempuan sebagai simbol kehormatan keluarga.
3. Keturunan yang diajarkan untuk menjaga martabat orang lain dan dirinya sendiri.
4. Keturunan yang diajarkan untuk tidak tunduk kepada orang lain.
5. Keturunan yang ingin bebas merdeka berjuang dan berusaha untuk bertahan hidup.
6. Keturunan yang berabad abad mentalnya telah dibentuk dan ditempa dengan keras oleh gelombang
7. Keturunan yang diajarkan berani menghadapi masalah dan tidak lari dari kenyataan hidup.dan
8. Keturunan yang berani berbicara hanya jika ada BUKTI.
(SALAMA TOPADA SALAMA)

MAKASSAR TEMPO DOELOE

berikut ini foto-foto makassar zaman dulu..


De Javasche Bank te Makassar 1920

 

BANTIMURUNG 1830

De kust te Makassar 1920

 

 

 

1940

 

BOLEVAR MKSR1920
Celebesmuseum te Makassar



BALLO'...ALKOHOL CITA RASA MAKASSAR

Awal mula BALLO menjadi minuman Khas Tradisional Sulawesi Selatan.


Apapun alasannya, keberadaan minuman beralkohol tidak lepas dari konteks budaya suatu masyarakat. Hampir bisa dipastikan setiap komunitas budaya tertentu memiliki tradisi membuat atau mengkonsumsi minuman keras. Semisal, masyarakat Perancis yang begitu kental dengan tradisi pembuat anggur terkenal, atau tuak, jenis minuman beralkohol yang ditemukan di berbagai daerah dengan nama berbeda. Sopii untuk masyarakat Maluku, ballo', yang akrab di Sulawesi Selatan, atau ciu, yang dikenal di sekitar Jawa Tengah.

Minuman keras tradisional Bugis Makassar sejenis Tuak yang dikenal dengan nama BALLO terdiri dari beberapa macam sesuai jenis pohonnya yaitu Enau, Nipa dan Tala/Lontara. Jenis pohonnya tumbuh sesuai dengan kondisi daerahnya. Pohon Enau banyak tumbuh diwilayah yang dekat dengan perairan sungai dan pegunungan. Pohon Nipa banyak ditemui diwilayah pesisir Pantai sedangkan Pohon Tala atau Lontara banyak ditemui didaerah pedataran dengan jenis tanah kering bebatuan.

Produksi Tuak atau Ballo yang paling populer yaitu antara lain Inru dari pohon enau dimana hasil sadapan dari pohon enau ini dibuat produksi untuk Gula Merah. Jenis pohonnya banyak ditemui hampir disetiap daerah wilayah utara sampai ke Toraja. Sedangkan Pohon Tala atau yang dikenal dengan pohon Lontara. Jenis pohonnya lebih banyak ditemui diwilayah Gowa dan sepanjang wilayah daerah bagian selatan.

Di Tana Toraja, minuman tradisional tuak ini sudah menjadi jamuan standar terutama ditengah perhelatan besar. Ballo'menjadi salah satu sesajian yang harus ada dalam ritual adat Toraja. Iapun menjadi sarana pergaulan. Ballo', merupakan minuman hasil sadapan pohon enau, atau dalam bahasa Toraja disebut 'induk'. Dalam setiap pelaksanaan ritual adat atau pesta adat Toraja, ballo' selalu ada, baik sebagai kelengkapan upacara, maupun sebagai minuman buat para tamu. Masyarakat yang tinggal di pegunungan ini memiliki sudut pandang lain soal ballo'. Minum ballo', hanyalah untuk penghangat tubuh di saat hawa dingin menyerang. Ballo'-pun diyakini mampu menambah tenaga.

Ketika dimasa Kerajaan Gowa mengenal aksara, pada saat itu belum ditemukan media yang tepat untuk dijadikan tempat menorehkan aksara. Barulah terpikirkan memanfaatkan pelepah daun lontar untuk menulis fatwa-fatwa kerajaan. Dipilihnya daun lontar ketika itu (abad 14) karena kertas belum dikenal, sementara Pohon Lontar memang banyak tumbuh dikawasan wilayah Gowa. Aksara tersebut mulanya ditulis pada batang Pohon Katangka, batu dan kulit hewan, hanya saja kualitas tulisan tersebut tidak awet.

Barulah daun lontar dianggap efektif dan cocok untuk menuliskan aksara ini. Selain sebagai tumbuhan khas Gowa, Pohon Lontar juga dijadikan lambang kejantanan bagi kaum laki-laki. Pohon Lontar atau Talak termasuk tanaman multi guna. Hampir semua bagian pohonnya bermanfaar bagi kehidupan manusia. Misalnya batang, bisa dijadikan tiang rumah atau alat bajak sawah. Sementara seratnya dibuat topi atau anyaman lainnya. Buahnya bisa dimakan langsung dan buah yang sudah matang bisa dijadikan penganan. Selain itu buahnya pun bisa dijadikan gula, dan dari permentasi buah Tala inilah kemudian muncul minuman tuak tradisional khas Makassar yang juga disebut “ballo”. Ballo ini dijadikan sebagai minuman yang bisa memaksimalkan tenaga untuk bekerja dan beraktifitas.

Minuman Tuak atau Ballo ini telah menjadi semacam jamuan pelengkap pada kondisi tertentu dalam pola budaya masyarakat. disamping memang pohonnya banyak tumbuh disepanjang jazirah wilayah kekuasaan kerajaan Gowa, sudah tentu pemanfaatan bagian-bagian pohon Lontara yang berguna dijadikan mata pencaharian masyarakat, buah Tala pun diproduksi khusus untuk dijadikan Ballo. Konon pada zaman dahulu kala, minuman tradisional ini dijadikan sebagai simbol kejantanan bagi para pejuang. Menurut pengakuan para pejuang, setelah minum ballo, akan timbul keberanian dalam dirinya dan siap menghadapi lawan tanpa memikirkan risikonya

TAHUKAH ANDA SIAPA PENEMU COTO MAKASSAR ?
 PENEMU COTO MAKASSAR

Konon, warung coto pertama yang ada di Makassar adalah warung coto milik H. Dg. Sangkala. Warung itu dulunya berada di sudut Jalan Ranggong depan bioskop Istana. Warung coto yang tinggal nama itu dibangun sekitar tahun 1940-an. H. Dg. Sangkala di masa itu sangat terkenal di mana-mana, bahkan, beliau dulu sering diundang oleh beberapa pejabat penting di negara ini. Setiap ada perhelatan besar, maka cotonya dipesan khusus, bahkan mencapai angka ribuan mangkok.

Sayangnya, hanya 2 dari 12 anaknya mengikuti jejaknya merintis usaha coto. Kedua anaknya membuka warung coto di tempat yang berbeda. Anaknya yang bernama Patahuddin merintis warung coto Paris. Begitu juga, anaknya yang bernama Dg. Labbaing, pemilik warung coto Ranggong yang lokasinya berada di Jalan AP. Pettarani.

Menurut Dg. Jumatia, menantu H. Dg. Sangkala, yang pertama kali membuat bumbu coto adalah H. Dg. Sangkala dan ayahnya, Dg. Salli. Warung milik H. Dg. Sangkala ketika itu memang tak ada tandingannya, maka tak salah memang jika beliau dan ayahnya dinobatkan sebagai penemu dari masakan khas Makassar, yaitu Coto.


TANA TORAJA
– Perayaan malam Tahun Baru 2011 di Sulawesi Selatan (Sulsel) akan dipusatkan di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara dalam rangkaian kegiatan bertajuk Lovely December.

Menurut Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, pada malam Tahun Baru nanti,Tana Toraja bakal dimeriahkan pesta kembang api yang kolosal dan spektakuler. Dia mengklaim pesta kembang api ini merupakan yang terbesar di kawasan Asia. “Kami sengaja mengemas perayaan Tahun Baru digabungkan dengan perayaan Natal.Kami menyiapkan anggaran ratusan juta rupiah untuk semarak pesta kembang api terbesar,” kata Syahrul di Makale, Tana Toraja,kemarin. Acara Lovely December ini merupakan yang ketiga kalinya digelar di Tana Toraja dan salah satu agenda pariwisata terbesar di Sulsel. Dia berharap Lovely December tahun ini lebih bergaung dibanding tahun-tahun sebelumnya sehingga ajang tersebut menjadikan Toraja sebagai pusat aktivitas pariwisata di kawasan timur Indonesia.

“Budaya, kesenian, dan adat istiadat Toraja merupakan kekayaan berharga untuk pengembangan pariwisata,”ujar dia. Menurut Syahrul, ajang Lovely December akan menjadikan Toraja sebagai pusat aktivitas pariwisata di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia. Kendati begitu, biaya penyelenggaraan event ini cukup besar dan tidak mudah mendapatkan dana dari APBN. Tetapi dengan budaya, kesenian, dan adat istiadat yang dimiliki Toraja ditambah good will pemerintah dan keterlibatan masyarakat, merupakan modal besar dalam mengembangkan pariwisata di daerah ini. “Lovely December tahun depan harus lebih besar dari tahun ini.

Wisatawan dari berbagai penjuru dunia akan datang ke Toraja untuk menikmati budaya, kesenian, dan adat istiadat yang dimiliki masyarakat Toraja yang tidak akan dijumpai di daerah lainnya,”ungkapnya. Mantan Bupati Gowa ini menuturkan, pengembangan sektor pariwisata Toraja juga harus didukung dengan infrastruktur yang memadai.Termasuk tersedianya bandar udara internasional yang sementara dalam tahap pembangunan di Kecamatan Mengkendek. Pembangunan bandar udara internasional yang rencananya akan langsung dikoneksikan dengan sejumlah rute penerbangan luar negeri sudah harus selesai pada 2011. “Pembangunan bandara internasional di Toraja tergantung keseriusan pemerintah setempat.

Pemerintah provinsi hanya sebagai fasilitator saja.Kalau bandara tersebut tidak mampu diselesaikan tahun depan, pembangunannya saya akan alihkan ke daerah lain,”kata dia. Sementara itu,Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung menyatakan, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara sudah sepakat melanjutkan eventLovely December tahun depan. Lovely di Toraja tidak lagi hanya dilaksanakan pada Desember, tetapi setiap bulan sepanjang 2011. “Tahun depan, kegiatan Lovely di Toraja tidak lagi dilaksanakan pada Desember, tetapi sepanjang tahun. Pemerintah Tana Toraja dan Toraja Utara sudah siap melaksanakannya di bawah arahan Gubernur Sulawesi Selatan,” katanya.

Menyangkut pembangunan bandara internasional di Kecamatan Mengkendek,Pemkab Tana Toraja akan mempercepat penyelesaiannya guna mempermudah akses masuk wisatawan dari luar negeri ke Toraja.“Mudah-mudahan pembangunan bandara internasional di Toraja rampung pada 2011. Saat ini Pemkab Tana Toraja sudah melaksanakan proses pembebasan lahan untuk lokasi bandara,”ujarnya. Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jonathan L Parapak mengatakan, untuk mengembangkan sektor pariwisata Toraja harus didukung infrastruktur, fasilitas, dan kesiapan masyarakat setempat.“Pariwisata merupakan alat untuk menyejahterakan masyarakat.

Untuk itu, pariwisata perlu didukung infrastruktur, fasilitas,dan kesiapan masyarakat,”tandasnya. Anggota Komisi IV DPR Markus Nari yang juga hadir pada puncak Lovely December di Toraja menyayangkan ketidakhadiran Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dia meminta pemerintah pusat jangan hanya melihat pariwisata dalam skala nasional, tetapi harus memperhatikan dan mengembangkan semua potensi-potensi wisata yang dimiliki setiap daerah. “Sangat disayangkan Menbudpar tidak hadir pada puncak Lovely December.

Ini merupakan kelemahan pemerintah pusat yang hanya melihat sektor pariwisata dari skala nasional,” tandas legislator Golkar itu. Puncak Lovely December juga dihadiri Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang, Kapolda Sulselbar Irjen Pol Jhony Wainal Usman,serta Danlantamal VI Makassar Brigjen TNI (Mar) Chaidier Patonnory.

Trayek

Rute



KODE A


Berangkat
:
BTN Minasa Upa - Syech Yusuf - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Ratulangi - Jendral Sudriman (Karebosi Timur) - HOS Cokroaminoto (Sentral) - KH. Wahid Hasyim - Wahidin Sudirohusodo - Pasar Butung
Kembali

Pasar Butung - Sulawesi - Riburane Achmad Yani (Balaikota) - Jendral Sudirman - Ratulangi (MaRI) - Landak - Veteran - Sultan Alauddin - Syech Yusuf - BTN Minasa Upa



KODE B


Berangkat
:
Terminal Tamalate - Malengkeri - Daeng Tata - Abdul Kadir - Dangko - Cendrawasih - Arief Rate - Sultan Hasanuddin - Patimura - Ujungpandang - Riburane - Jendral Achmad Yani (Balaikota) - Pasar Butung
Kembali
:
Pasar Butung - Sulawesi - Achmad Yani - Kajaolalido (Karebosi Timur) - Botolempangan - Arief Rate - Cendrawasih - Dangko - Abdul Kadir - Daeng Tata - Malengkeri - Terminal Tamalate



KODE C


Berangkat
:
KH.Wahid.Hasyim - DR Wahidin Sudirohusodo- Buru - Bandang - Masjid Raya - Cumi-cumi - Pongtiku - Ujungpandang Baru - Gatot Subroto - Juanda - Regge - Rappokalling
Kembali
:
Rappokalling - Korban 40 ribu - Juanda - Gatot Subroto - Ujungpandang Baru - Pongtiku - Datok Ditiro - Sunu - Masjid Raya - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - KH.Wahid Hasyim - Makassar Mall



KODE D


Berangkat
:
Terminal Daya - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Bawakaraeng - Latimojong - Andalas - Laiya - Selatan Makassar Mall
Kembali
:
Selatan Makassar Mall - HOS Cokroaminoto - Bulusaraung - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Terminal Daya



KODE E


Berangkat
:
Terminal Panakkukang - Toddoppuli - Tamalate - Emmy Saelan - Mapala - AP. Pettarani - Maccini Raya - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Latimojong - Andalas - Laiya - KH.Agus Salim -Timur Makassar Mall
Kembali
:
KH. Agus Salim - Pangeran Diponegoro - Bandang - Masjid Raya - Urip Sumoharjo -AP. Pettarani - Mapala - Emmy Saelan - Tamalate - Todoppuli - Terminal Panakkukang



KODE F


Berangkat
:
Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Daeng Ngeppe - Kumala - Veteran - Bandang - Buru - Andalas - Satangnga - KH. Agus Salim - Timur Makassar Mall
Kembali
:
KH Agus Salim - Pangeran Diponegoro - Andalas - Buru - Bandung - Veteran - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Daeng Ngeppe - Daeng Tata -Mallengkeri - Terminal Tamalate



KODE G


Berangkat
:
Terminal Daya - Kima - TOL (Ir. Sutami) - Tinumbu - Cakalang - Yos Sudarso - Tentara Pelajar - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali
:
Pasar Butung - Kalimantan - Cakalang - Tinumbu - TOL (Ir. Sutami) - Kima - Terminal Daya



KODE H


Berangkat
:
Perumnas Antang - Antang Raya - Urip Sumiharjo - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - DR. Wahidin Sudirohusodo - Satando - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali
:
Pasar Butung - Kalimantan - Satando - DR. Wahidin Sudirohusodo - Tentara Pelajar - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Perumnas Antang



KODE I


Berangkat
:
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Borong - Batua Raya - Abdullah Daeng Sirua - AP. Pettarani - Pelita Raya - Sungai Sadang Baru -Sungai Saddang - Karungrung - Arif Rate - Sultan Hasanuddin - Pattimura - Pasar Baru
Kembali
:
Pasar Baru - Pattimura - Ujungpandang - Riburane - Ahmad Yani (Balaikota) - Kajaolalido - Botolempangan - Karungrung - Sungai Saddang - Sungai Saddang Baru - Pelita Raya - AP. Pettarani - Abdullah Daeng Sirua - Batua Raya - Borong - Toddopuli Raya -Terminal Panakkukang



KODE J


Berangkat
:
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Tamalate - Emmy Saelan - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - Ratulangi - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - Nusakambangan
Kembali
:
Nusakambangan - Ahmad Yani - Jenderal Sudirman - DR. Sam Ratulangi - Landak - Veteran - Sultan Alaudin - Emmy Saelan - Tamalate - Toddopuli Raya - Terminal Panakkukang



KODE K


Berangkat
:
Terminal Panaikang - Urip Sumoharjo - Taman Makam Pahlawan - Abdullah Daeng Sirua - Adiyaksa - Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Tamalate - Emmy Saelan - Sultan Alauddin - Terminal Tamalate
Kembali
:
Terminal Tamalate - Sultan Alauddin - Emmy Saelan - Toddopuli Raya - Terminal Panakkukang - Adiyaksa - Abdullah Daeng Sirua - Taman Makam Pahlawan - Urip Sumoharjo - Terminal Panaikang



KODE L


Berangkat
:
Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Daeng Ngeppe - Kumala - Mallong Bassang - Mappaoddang - Mangerangi - Baji Ateka - Baji Minasa - Nuri - Rajawali - Penghibur - Pasar Ikan - Ujungpandang - Nusantara - Butung - Pasar Butung
Kembali
:
Pasar Butung - Butung - Sulawesi - Riburane - Ujungpandang - Pattimura - Somba Opu - Rajawali - Gagak - Nuri - Baji Minasa - Cendrawasih - Dangko - Abd. Kadir - Daeng Tata - Mallengkeri - Terminal Tamalate



KODE M


Berangkat
:
Terminal Panaikang - Urip Sumoharjo - AP.Pettarani - Rappocini Raya - Veteran - Ratulangi - Kakatua - Cendrawasih - Tanjung Alang
Kembali
:
Tanjung Alang -Tanjung Rangas - Cendrawasih - Kakatua - Landak - Veteran - Sultan Alauddin - AP. Pettarani - Urip Sumoharjo - Terminal Panaikang



KODE N


Berangkat
:
Terminal Tamalate - Sultan Alauddin - Syeh Yusuf - Jipang Raya - SMA 9 - Tidung Raya - Tamalate - Toddopuli Raya - Terminal Pakkukang
Kembali
:
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya -Tamalate - Tidung Raya - SMA 9 - Jipang Raya - Tala Salapang - Sultan Alauddin - Terminal Tamalate.



KODE O


Berangkat
:
Terminal Panaikang - Urip Sumoharjo - Taman Makam Pahlawan - Batua Raya - Toddopuli Raya -Pengayoman - AP. Pettarani - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Veteran Utara - Bandang - Ujung - Yos. Sudarso - Tarakan - Kalimantan - Pasar Butung
Kembali
:
Pasar Butung - Kalimantan - Satando - Yos. Sudarso - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Panakkukang - Adiyaksa - Urip Sumoharjo - Terminal Panaikang



KODE P


Berangkat
:
Terminal Panaikang - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Landak Baru - Veteran - DR. Sam Ratulangi - Mappaoddang - Daeng Ngeppe - Daeng Tata - Mallengkeri - Terminal Tamalate
Kembali
:
Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Daeng Ngeppe - Kumala - DR. Sam Ratulangi - Landak - Landak Baru - AP. Pettarani - Urip Sumoharjo - Terminal Panaikang



KODE U


Berangkat
:
Pasar Pannampu - Tinumbu - Cakalang - Yos. Sudarso - Andalas - Latimojong - Bulukunyi - Rusa - Lanto Dg. Pasewang - DR. Sam. Ratulangi - Landak - Veteran - Sultan Alauddin - Terminal Tamalate
Kembali
:
Terminal Tamalate - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - DR. Sam Ratulangi - Lanto Dg. Pasewang - Rusa - Bulukunyi - Latimojong - Andalas - Yos.Sudarso - Cakalang - Tinumbu - Pasar Pannampu



KODE R


Berangkat
:
Pasar Baru - Ujungpandang - Nusantara - Pasar Butung - Tentara Pelajar - Kalimantan - Satando -Yos. Sudarso - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali
:
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - Bawakaraeng - Kartini - Botolempangang - Usman Jafar - Sultan Hasanuddin - Pattimura - Pasar Baru



KODE V1


Berangkat
:
Terminal Daya - Paccerakkang - Mangga Tiga
Kembali
:
Mangga Tiga - Paccerakkang - Terminal Daya



KODE V2


Berangkat
:
Sudiang - KNPI - Terminal Daya
Kembali
:
Terminal Daya - KNPI - Sudiang



KODE V3


Berangkat
:
Pasar Daya - Paccerakang - Mongcongloe - Pangnyangkallang
Kembali
:
Pangnyangkallang - Mongcongloe - Paccerakang - Daya



KODE W


Berangkat
:
Terminal Daya - KIMA - Kapasa - SMA 6 - Ir. Sutami - Salodong - Desa Nelayan
Kembali
:
Desa Nelayan - Salodong - Ir. Sutami - SMA 6 - Kapasa - KIMA - Terminal Daya



KODE B1


Berangkat
:
Teminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - Abd. Kadir - Dangko - Cendrawasih - Arif Rate - Sultan Hasanudin - Sawerigading - Botolempangan - Karunrung - Sungai Saddang - Latimojong - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali
:
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - Bawakaraeng - Kartini - Botolempangan - Arif Rate - Cendrawasih - Dangko - Abd. Kadir - Daeng Tata - Mallengkeri - Tamalate



KODE C1


Berangkat
:
Korban 40 ribu - Ujungpandang Baru - Pongtiku - Cumi-cumi - Laccukang - Sunu - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali
:
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - Bawakaraeng - Jenderal Sudirman - HOS Cokroaminoto - DR. Wahidin Sudirohusodo - Tentara Pelajar - Ujung - Bandang - Masjid Raya - Sunu - Teuku Umar - Gatot Subroto - Korban 40 ribu



KODE E1


Berangkat
:
Terminal Panakkukang - Toddopuli Raya - Perumnas - Hertasning - AP. Pettarani - Kampus IKIP - Gunung Sari - AP. Pettarani - Pelita Raya - AP. Pettarani - Abdullah Daeng Sirua - PLTU - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali
:
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip SUmoharjo - PLTU - Abdullah Daeng Sirua - AP. Pettarani - Kampus IKIP - Gunung Sari - AP. Pettarani - Hertasning - Perumnas - Toddopuli Raya - Panakkukang



KODE F1


Berangkat
:
Terminal Tamalate - Mallengkeri - Daeng Tata - M. Tahir - Kumala - Veteran - Masjid Raya - Urip Sumoharjo - Perintis Kemerdekaan - Kampus Unhas
Kembali
:
Kampus Unhas - Perintis Kemerdekaan - Urip Sumoharjo - AP. Pettarani - Abubakar Lambogo - Veteran - Sultan Alauddin - Andi Tonro - Kumala - M.Tahir - Daeng Tata - Mallengkeri - Terminal Tamalate









POLISI
NO. TELEPON
1.
Polda Sulawesi Selatan
+62.411.515201
2.
Polwiltabes Makassar
+62.411.319277
3.
Polresta Makassar Timur
+62.411.423183
4.
Polresta Makassar Barat
+62.411.335935
5.
Polsekta Wajo
+62.411.319267
6.
Polsekta Mariso
+62.411.873753
7.
Polsekta Makassar
+62.411.449345
8.
Polsekta Ujung Tanah
+62.411.436781
9.
Polsekta Mamajang
+62.411.872777
10.
Polsekta Tallo
+62.411.449326
11.
Polsekta Bontoala
+62.411.453123
12.
Polsekta Panakukang
+62.411.442302
13.
Polsekta Biringkanaya
+62.411.510108
14.
Polsekta Tamalate
+62.411.868496

RUMAH SAKIT
NO. TELEPON
1.
RSU Wahidin Sudirohusodo
+62.411.584677
2.
RSU Pelamonia
+62.411.319381
3.
RSU Labuang Baji
+62.411.873482
4.
RS Akademis Jaury
+62.411.317343
5.
RS Bhayangkara
+62.411.836344
6.
RS Grestelina
+62.411.458546
7.
RS Stella Maris
+62.411.873346
8.
RS Islam Faisal
+62.411.853364

DARURAT
NO. TELEPON
1.
Pemadam Kebakaran
+62.411.113
2.
Ambulans
+62.411.118
3.
Gangguan Telepon
+62.411.147
4.
Gangguan Listrik
+62.411.123
5.
Gangguan Air Minum
+62.411.876777
6.
SAR Makassar
+62.411.554111
7.
SAR Unhas
+62.411.585967
8.
Palang Merah Indonesia
+62.411.854221




Makassar, Sekitar 1.300 wisatawan mancanegara (wisman) yang berkeliling Samudera Pasifik dengan menumpang kapal pesiar Costa Romantica akan mengunjungi Kota Anging Mammiri Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (10/11). Direktur Eksekutif Badan Pengembangan dan Promosi Pariwisata Makassar, Nico B Pasaka di Makasar, Selasa, mengatakan, kunjungan kapal pesiar Italia itu merupakan kunjungan kesekian kalinya dari beberapa kapal pesiar lainnya.

"Kapal pesiar asal Italia Costa Romantica yang berkeliling Samudra Pasifik akan berlabuh di Pelabuhan Makassar, Rabu pagi dan rencananya akan membawa sekitar 1.300 wisman dari Eropa, Amerika dan Asia," ujarnya. Kapal pesiar berkapasitas sekitar 1.300 penumpang dan kru kapal sebanyak 600 orang itu merupakan kapal pesiar terbesar yang mengangkut penumpang lebih dari 1.000 orang wisatawan. Kapal pesiar itu diperkirakan berlabuh di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar sekitar pukul 08.00 Wita dari Singapura. "Mereka setelah dari Singapura langsung ke Pelabuhan Makassar dan ini pelabuhan pertama yang dikunjungi setelah berkeliling di Singapura. Selanjutnya, pada pukul 19.00 Wita, kapal itu akan berangkat menuju Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT)," katanya.

Menurut dia, sebagai ibukota Provinsi Sulsel, Makassar mempunyai potensi yang besar untuk menjadi tujuan wisata kapal pesiar. Potensi ini tidak terlepas dari banyaknya objek wisata yang menarik perhatian para penumpang kapal pesiar.

Dengan menjadi tujuan wisata kapal pesiar, katanya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memaksimalkan pelayanan kepada para penumpang kapal pesiar. Misalnya pengembangan fasilitas dermaga yang baik untuk kapal ataupun fasilitas sandar untuk perahu kecil, memenuhi standar internasional yakni kode ISPS serta mengidentifikasi dan mengembangkan daerah tujuan wisata.

"Jika kami melakukan hal itu, Makassar akan menjadi perhatian kapal pesiar untuk menjadi tujuan wisata mereka," katanya. Ia menambahkan, fasilitas dermaga Pelabuhan Makassar saat ini sudah baik dan sudah termasuk dalam rute dari Singapore dan Australia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Makassar Rusmayana Majid mengaku jika kunjnungan wisatawan mancanegara asal Jerman, Italia, Prancis dan Amerika serta beberapa wisman Asia lainnya itu menjadi sangat spesial karena kunjungannya bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Makassar ke 403.

"Beberapa persiapan sudah kami lakukan untuk kunjungannya, termasuk menyiapkan tarian penyambutan seperti tari Ganrang Bulo dan Pa'duppa. Penyambutan dengan tari-tarian itu akaN
Awal Kota dan bandar makassar berada di muara sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada dibawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene, akan tetapi pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, yang bahkan menyerang dan menaklukan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang untuk selanjutnya seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.


Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI ini didirikan pula Benteng Rotterdam di bagian utara, Pemerintahan Kerajaan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Gowa, pada masa itu terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan Internasional, sektor politik serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa ini merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, namun selanjutnya dengan adanya perjanjian Bungaya menghantarkan Kerajaan Gowa pada awal keruntuhan. Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan Saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting Saudagar Melayu dalam perdagangannya yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor itu. Dengan menaklukkan kerajaan¬kerajaan kecil disekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi itu dengan berarti, bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil tainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-tawannya itu, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru itu.

Dalam hanya seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (dan dengan ini termasuk ke-20 kota terbesar dunia Pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, kota terbesar musuh utamanya, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang) yang bersifat kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan¬-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotak-kotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, sekian banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar.

Sampai pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam Dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan¬-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.

Hubungan Makassar dengan Dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma'mur Khatib Tunggal atau Dato' Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I¬MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN (memerintah 1593-1639), dan dengan Mangkubumi I- MALLINGKAANG DAENG
MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja ini, yang mulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 9
Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakanlah sembahyang Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo tetah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan sembahyang Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Makassar sejak tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar jatuh pada tanggal 1 April.

Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu me¬nyebabkan sebuah "creative renaissance" yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus
dari Eropa. Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memper-luas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda VOC berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Baru pada tahun 1669, akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu.

Bagi Sulawesi Selatan, kejatuhan Makassar di tangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing, sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain.
Pada beberapa dekade pertama setelah pemusnahan kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru di sebelah utara bekas Benteng Ujung Pandang; benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada tahun 1673
ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan dan diberi nama barunya Fort Rotterdam, dan 'kota baru' yang mulai tumbuh di sekelilingnya itu dinamakan 'Vlaardingen'. Pemukiman itu jauh lebih kecil daripada Kota Raya Makassar yang telah dihancurkan. Pada dekade pertama seusai perang, seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa; pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang, setengah di antaranya sebagai budak.

Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang tertupakan. “Jan Kompeni” maupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah Sulawesi Selatan yang sampai awal abad ke-20 masih terdiri dari selusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus mempertahankan diri terhadap serangan militer yang ditancurkan kerajaan-kerajaan itu. Maka, 'Kota Kompeni' itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempah-rempah tanpa hinterland - bentuknya pun bukan 'bentuk kota', tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.
Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama di beras Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta menyuplai beras kepada kapal¬kapal VOC yang menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC.

Sebaliknya, barang dagangan Cina, Terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di Negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara untuk men¬carinya; bahkan, sejak pertengahan abad ke-18 para
nelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, di mana mereka tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar.
Setetah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya menyaksikan kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater menjadi kembali suatu bandar internasional.
Dengan semakin berputarnya roda perekonornian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki "kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda" (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Potandia terkenal),dan menjadi salah satu port of call utama bagi baik para pelaut-pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Pada awal abad ke-20, Belanda akhirnya menaklukkan daerah¬daerah independen di Sulawesi, Makassar dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Indonesia Timur. Tiga-setengah dasawarsa Neerlandica, kedamaian di bawah pemerintahan kolonial itu adalah masa tanpa perang paling lama yang pernah dialami Sulawesi Selatan, dan sebagai akibat ekonominya berkembang dengan pesat. Penduduk Makassar dalam kurun waktu itu meningkat sebanyak tiga kali lipat, dan wilayah kota diperluas ke semua penjuru. Dideklarasikan sebagai Kota Madya pada tahun 1906, Makassar tahun 1920-an adalah kota besar kedua di luar Jawa yang membanggakan dirinya dengan sembilan perwakilan asing, sederetan panjang toko di tengah kota yang menjual barang-barang mutakhir dari seluruh dunia dan kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kosmopolitan.
Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indo¬nesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asingnya pada tahun 1949 dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an menjadi¬kannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar-pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca¬ revolusi. Antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada tahun 1971. Baru pada tahun 1999 kota ini dinamakan kembali Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar dan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah luas wilayah bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut 10.000 Ha, menjadi 27.577Ha
 dilakukan hingga 45 menit," katanya

Sejarah Kota Makassar














LATAR BELAKANG
Makassar adalah kota terpenting, tidak hanya Sulawesi Selatan, melainkan juga di Indonesia dan bahkan, dunia. Ada dua alasan utama yang sering dikemukakan para ahli dalam menempatkan Kota Makassar sebagai penting. Pertama, secara historis sebagaimana ditunjukkan dalam kajian-kajian sejarah bahwa di masa lalu kotini memainkan peran besar, baik dalam dinamika sosial maupun dalam aktivitas perdagangan (ekonomi). Pada abad ke 16-17 keberadaan Makassar disejajarkan dengan Penang di Malaysia yang merupakan pusat perdaganga Asia Selatan, dan kota Hamburg di Jerman yang merupakan pusat perdagangan di Eropa ketika itu. Dalam dinamika sosial-politik, pada awal bad ke-17, kota ini menjadi kerajaan Gowa, sebuah kerajaan besar yang kekuasaan dan pengaruh politik yang luas di jazirah selatan Sulawesi Selatan.

Demikian pula dalam sektor ekonomi melalui peran pelabuhan Makassar, kota ini berperan sebagai kota niaga terpenting di bagian timur Indonesia. Kota ini hanya menjadi satu mata rantai perdagangan regional melakukan kontak dengan kota-kota penting di Eropa, tetapi juga menyediakan pasar baqi perdagangan hasil bumi Hingga pada awal abad ke-20, setelah ekspedisi Belanda tahun 1905, Makassar telah berkembang pesat sebagai kota modern. Kedua, semenjak kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945, Makassar menjadi kota penting, di mana keberadaan pelabuhan Makassar berperan sebagai ruang tamu Kawasan Timur Indonesia (KTI), menjadi pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan dan pendidikan.

Selain kedua alasan tersebut, saat ini, Makassar semakin mengalami perkembangan yang pesat dan telah, menjelma menjadi kota metropolis, yang dapat disejajarkan dengan beberapa kota-kota besar di Pulau Jawa. Tentu saja, kemajuan yang telah dicapai, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun aktivitas ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan, serta pendidikan tidak lepas dari keinginan yang kuat dari warga kota ini untuk berubah, kapasitas sumber daya manusia yang dipunyainya dan terutama kemajuan dan kerja keras pemerintah setempat.
Kota Makassar sebagai lbukota Propinsi Sulawesi Setatan sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia telah membentuk Dinas Penanaman Modal (DPM) untuk memberikan pelayanan dan kemudahan kepada dunia usaha baik PMA/PMDN maupun Non PMA/PMDN.

KEBIJAKAN NASIONAL
Memahami, pentingnya investasi sektor swasta menuju pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, mengembangkan sumberdaya strategis nasional, implementasi dan transfer keahlian dan teknologi, pertumbuhan ekspor dan meningkatkan neraca pembayaran.
Menghargai, bahwa memberikan kerangka hukum yang pasti adalah syarat untuk menciptakan stabilitas, lingkungan bisnis yang atraktif dan terencana yang akan mendukung aktifitas ekonomi swasta, baik investor Indonesia maupun asing.
Menyatakan, bahwa memberikan kejelasan kerangka hukum yang pasti untuk investasi harus memiliki prinsip utama, diantaranya: (1) kesetaraan perlakuan dimanapun berada terlepas dari kewarganegaraannya; (2) perlindungan terhadap pengambilalihan, penyitaan investasi dan pembatalan sepihak atas perjanjian; (3) kebebasan pengembalian modal investasi dan seluruh prosesnya; (4) dan akses keadilan, mekanisme yang cepat dan efektif dalam penyelesaian perselisihan/ sengketa dunia usaha.
Sadar, bahwa prinsip tersebut semakin diadaptasi sebagai standar internasional dan telah dimasukan kedalam peraturan nasional dibanyak negara, baik regional maupun global, dan telah dikenal dalam beragam dokumen internasional termasuk GATT/WTO Agreements, APEC Non Binding Investement Principle, dan banyak lagi perjanjian bilateral investasi antar negara.
Mengambil langkah kebijakan perbaikan investasi, peraturan dan perundang-undangan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan investasi swasta yang memenuhi prinsip diatas, aktif mempromosikan dan memfasilitasi investasi, transparansi izin masuk dan penanaman investasi, transparansi prosedur dan administrasi oleh pemerintah, dan meminimalisasi aturan atas larangan sesuai daftar negatif investasi yang tertutup.
Pemerintah telah oleh karena itu menetapkan suatu perubahan kebijakan investasi yang mempunyai sasaran untuk memberikan kemudahan dan mendorong investasi sektor swasta melalui implementasi dan perubahan yang transparan, terprediksi, kebijakan yang berorientasi pasar, perlakuan yang sama baik investor domestik maupun asing. Pemerintah baru-baru ini telah mengadopsi perubahan kebijakan utama, termasuk liberalisasi aturan atas investasi asing. Pemerintah berkomitmen terhadap penghapusan pembatasan atas investasi lokal maupun asing.
Pernyataan ini telah diadopsi pada Kebijakan Pemerintah untuk mempromosikan dan memudahkan sektor swasta berinvestasi di Indonesia. Pemerintah secara penuh tanggung jawab merasa terikat dengan kebijakan ini dan akan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu untuk memastikan implementasinya. Pernyataan ini akan menjadi lampiran petunjuk investasi yang terperinci yang akan dikeluarkan mendatang.
Untuk mendorong dan memudahkan investasi swasta, Pemerintah telah mengadopsi kebijakan berikut.

HUKUM INVESTASI NASIONAL

Pemerintah sedang menyiapkan suatu landasan hukum Investasi yang akan menggantikan laperaturan Penanaman modal domestik dan peraturan Investasi asing skaligus mengatur sektor investasi. Peraturan ini akan menyertakan prinsip kebijakan investasi yang berorientasi pasar, menetapkan jaminan atas perlakuan yang sama bagi investor asing maupun dalam negeri dimanapun dan kapanpun, perlindungan atas pengambil alihan investasi. Kebebasan pengembalian investasi asing dan penggajian yang layak yang sesuai standar internasional. Peraturan dan Keputusan bidang investasi yang lebih telah ada akan diefektifkan dan diperbaiki untuk memperkecil daftar negatif dan larangan investasi local maupun asing.
Untuk sementara waktu dalam masa persiapan peraturan undang-undang, segala administrasi investasi terkait fungsi aparatur dan pelayanan pemerintah akan dibaharui, dan ditingkatkan untuk menciptakan kebijakan dan prosedur yang mudah sebagaimana dinyatakan dalam Pernyataan Investasi ini
KEBEBASAN UNTUK BERINVESTASI
Investor diijinkan untuk menanamkan modal dalam sektor manapun sektor ekonomi kecuali pada sejumlah kecil aktivitas, yang masuk dalam "Negatif List". Tidak pembatasan atas ukuran investasi, sumber dana atau jenis produk yang diperuntukkan sebagai keperluan ekspor atau untuk pasar yang domestik dalam negeri. investor Asing diperkenankan menanamkan modal dalam aktivitas selain dari yang masuk dalam "Negatif List".
BENTUK PERUSAHAAN
Perizinan industri masih diperlukan berdasar pada prinsip-prinsip kewajaran, mekanisme yang sederhana, prosedur yang transparan dan cepat. Prosedur untuk pendirian perusahaan dan badan usaha masih sebagai izin pendirian pendiriannya.




COTO MAKASSAR

Masakan khas daerah berupa sop berkuah dengan bahan-bahan dasar yang terdiri dari usus, hati, otak, daging sapi atau kuda, dimasak dengan bumbu sereh, laos, ketumbar, jintan, bawang merah, bawang putih, garam yang sudah dihaluskan, daun salam, jeruk nipis, dan kacang. Pada umumnya Coto Makassar disajikan/dimakan bersama ketupat.
Nikmati makanan ini disekitar jalan Gagak

SOP KONRO

Masakan khas daerah yang disajikan berupa sop berkuah maupun dibakar dengan bahan-bahan dasar seperti tulang rusuk sapi atau kerbau, dimasak/dibakar dengan bumbu ketumbar, jintan, sereh, kaloa, bawang merah, bawang putih, garam, vitsin yang sudah dihaluskan. Sop Konro pada umumnya disajikan/dimakan bersama nasi putih dan sambal.
Nikmati makanan ini disekitar Karebosi dan jalan Ratulangi

SOP SAUDARA

Masakan khas daerah yang berupa sop berkuah dengan bahan-bahan dasar seperti daging sapi/kerbau yang dimasak dengan aneka bumbu dan disajikan bersama nasi putih atau ketupat dengan Ikan Bakar sebagai tambahan lauknya.
Nikmati makanan ini disekitar jalan DR. Wahidin Sudirohusodo
Selain masakan khas tersebut diatas, masih banyak lagi masakan khas Makassar lainnya, seperti Pallu Mara, Pallu Basa (bisa dinikmati malam di jalan Onta dan siang di jalan Serigala), Pallu Ce'la, Pallu Kaloak (Sop Kepala Ikan, nikmati di jalan Tentara Pelajar), aneka Seafood, dan lain sebagainya.
PISANG EPE'

Makanan khas daerah yang terbuat dari pisang kepok yang mengkal, dibakar dan dipipihkan. Pisang Epe' disajikan dengan kuah air gula merah yang biasanya telah dicampur dengan durian atau nangka yang aromanya dapat membangkitkan selera.

ES PALLU BUTUNG

Terbuat dari pisang yang sudah dipotong-potong, dimasak dengan santan yang diberi tepung terigu, gula pasir, vanili, serta sedikit garam dan disajikan dengan es serut dan sirop merah.

ES PISANG HIJAU

Terbuat dari pisang raja, dibungkus dengan tepung terigu yang sudah diberi santan dan air daun pandan sebagai pewarna dan pengharum sehingga berwarna hijau, disajikan dengan saus yang diberi es serut dan sirop.

BARONGKO

Barongko adalah makanan penutup khas daerah Bugis-Makassar yang dibuat dari buah Pisang Kepok matang yang dikukus dengan daun pisang. Dahulu pada masa pemerintahan kerajaan di Sulawesi Selatan, Barongko merupakan makanan penutup yang mewah, dan hanya disajikan untuk Raja-raja, dan disajikan pada moment-moment tertentu, seperti acara perkawinan, ulang tahun, dan lain.
Untuk menambah cita rasa dan selera, bahan dasar Barongko biasanya ditambah dengan irisan buah Nangka atau Kelapa muda.

Kota Makassar Menuju Kota Dunia

Kamis, 08 Juli 2010 19:55
Makassar, Staf ahli Bidang Perekonomian Pemerintah Kota Makassar, Abdul Madjid Sallatu, mengatakan, untuk menjadi kota dunia, Makassar harus merevitalisasi perencanaan pembangunannya. Makassar bisa mengambil referensi dari India dan Cina.

Hal tersebut diungkapkan oleh Madjid di ruang pola kantor Wali Kota Makassar saat memaparkan hasil pertemuan 43 wali kota
sedunia dalam World Cities Summit di Singapura pekan lalu. Dalam acara yang berlangsung pada 27 Juni hingga 1 Juli itu, Makassar dan Jakarta menjadi wakil Indonesia.

Madjid mengatakan revitalisasi tersebut harus memperhatikan empat indikator penting, yakni arus manusia, bagaimana fungsi kota bekerja, geliat bisnis, serta organisasi yang terakomodasi dalam kehidupan perkotaan. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan lingkungan serta keharmonisan warga. "Makassar sudah on the track dalam pembangunannya menuju kota dunia," ujar Madjid.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengatakan Makassar akan mengadopsi banyak hal dari beberapa kota besar yang dinilai maju dalam menerapkan kota berwawasan lingkungan. Hasil ini kemudian akan dikomunikasikan dengan seluruh satuan kerja perangkat daerah.

Pantai Losari dinilai sangat berpeluang besar menjadi ikon kota pantai dunia. Namun, menurut Ilham, program pemerintah Makassar untuk membangun kota ini selalu mendapat pertentangan dari warga. Contohnya dalam program reklamasi Pantai Losari seluas 1 hektare.

Menurut Ilham, di Singapura, pemerintahnya melakukan reklamasi pantai seluas 4.800 hektare tanpa ada gejolak warga. "Karena pada prinsipnya masyarakat mereka sadar bahwa apa yang dilakukan pemerintahnya adalah untuk kepentingan mereka," ujar Ilham.

Kota Makassar juga terhambat oleh ketidakseimbangan pembangunan yang tidak memperhitungkan wawasan lingkungan. Untuk itu, Ilham mengatakan pemerintah akan segera merevisi Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar.

Namun, Madjid mengingatkan, sebaik apa pun konsep yang digunakan, tidak akan membawa pengaruh positif jika tanpa disertai konsistensi pemerintah dan warga Makassar dalam menjalankannya


Kamis, 11 November 2010
COTO MAKASSAR

BAHAN:
500 gram daging sapi
500 gram babat, rebus matang
300 gram hati sapi, rebus matang
200 gram jantung sapi, rebus matang
5 batang serai memarkan
4 sm lengkuas memarkan
2 cm jahe memarkan
5 lembar daun salam
250 gram kacang tanah, goreng haluskan
2,5 liter air cuci beras/tajin
1 sdm bumbu kaldu bubuk rasa sapi
6 sdm minyak sayur
Haluskan :
10 siung bawang putih
8 butir kemiri sangrai
1 sdm ketumbar sangrai
1 sdt jintan sangrai
1 sdt garam dan 1 sdt merica butiran
Pelengkap : bawang goreng, irisan daun bawang dan irisan seledri, sambal taoco
Haluskan : 10 bawang merah, 5 siung bawang putih, 10 cabai keriting rebus sebentar, 100 gram taoco, tumis dengan 6 sdm minyak sayur hingga matang, haluskan tambahkan garam dan gula merah.
CARA MEMBUAT:
1. Rebus daging sapi, babat, hati dan jantung, beri serai, lengkuas, jahe dan salam setelah matang angkat, tiriskan, potong dadu. Jerohan sapi matang, potong dadu. Sisihkan.
2. Panaskan minyak, tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum, masukkan kedalam kaldu, tambahkan kacang tanah goreng, didihkan.
3. Penyajian, siapkan mangkuk, isi dengan daging dan jerohan beri kuahnya, taburi bawang goreng, irisan daun bawang dan seledri sajikan dengan buras dan sambal taoco.
4. Sajikan hangat.
Untuk : 6 orang



Makassar (Ujung Pandang) Travel Guide
Makassar is the provincial capital of South Sulawesi. It started to become an important trading port beginning in the early sixteenth century as part of the kingdom of Gowa. The Kings who ruled Gowa were strong believers in free trade, which proved a hindrance to the Dutch plans to monopolize the spice trade when they arrived. The Dutch sponsored a revolt by some of the other kingdoms under Gowa's rule, and eventually forced a treaty which allowed them to effectively occupy Makassar in 1667.
The people of South Sulawesi are staunchly independent, and resistance to the Dutch continued into the 1930s. There has even been some resistance to central Indonesian rule.

Click on an icon to see more information.
From 1971 to 1999, Makassar was known as Ujung Pandang, and you still see this name used sometimes. The city's name is also sometimes spelled Macassar.

Makassar Sights
Makassar is actually a rather large, sprawling city, but most of the hotels and sights of the city are on or near the waterfront. The most notable sight in Makassar is probably Fort Rotterdam, said to be one of the best preserved Dutch buildings in Indonesia. The fort was originally built around 1667, after the Treaty of Bungaya gave the Dutch access to South Sulawesi. The Gowa kingdom had a fort on this land, but nothing of it remains. The fort is open every day, but the museum inside is only open mornings, Tuesday to Sunday.
Behind Fort Rotterdam is Museum Kota, housed in an old but rather unkempt building. A bit further north is the grave of Prince Diponegoro of Yogyakarta. The Prince led a rebellion against the Dutch in the nineteenth century, but he was tricked into meeting with the Dutch, who captured him and exiled the prince to Sulawesi, where he was imprisoned in Fort Rotterdam. His grave is in a small cemetery on Jalan Diponegoro, just off Jalan Andalas

2010-2030
Adanya revisi Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Makassar dari RTRW 2005-2010 menjadi RTRW 2010-2030 tidak lahir begitu saja. Revisi ini muncul dengan pertimbangan bahwa peraturan dalam undang-undang tersebut dinilai sudah tidak sesuai dengan kebutuhan pengaturan dan penataan ruang, yang didasarkan pada pertambahan jumlah penduduk hingga 20 tahun kedepan. Akibatnya lahir Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang yang mengatur hal ini. Pemkot Makassar yang patuh pada peraturan ini turut pula merevisi Perda No.6 tahun 2006 agar sesuai dengan amanat dan peraturan yang dikandung dalam undang-undang baru tersebut.

Secara prinsip perbedaan antara RTRW 2005-2015 yang direvisi menjadi RTRW 2010-2030 terletak pada perbedaan prinsip waktu, penekanan mitigasi, sektor informal, sanksi yang diberikan bagi pemberi dan penerima izin serta ruang terbuka hijau. Prinsip-prinsip inilah yang harus diakomodasi dalam RTRW baru. Sedangkan secara struktur ruang dan pola ruang hampir tidak mengalami perbedaan, hanya saja pada RTRW terdahulu terdapat 13 kawasan terpadu kini dipadatkan menjadi 12 kawasan terpadu. Mengapa? Karena di tata ruang Maminasat, kawasan Lakkang yang menjadi lokasi Kawasan Penelitian Terpadu dijadikan hutan lindung yang mana tidak boleh ada kegiatan apapun di daerah tersebut, sehingga Kawasan Penelitian Terpadu digabungkan menjadi Kawasan Riset dan Pendidikan Tinggi Terpadu.

Dikarenakan bentang waktu yang harus diakomodir menjadi 2 kali lipat, maka fasilitas dan infrastruktur metro sudah disiapkan hingga 100 tahun kedepan, meskipun waktu hukumnya hanya 20 tahun. Tetapi, telah dibangun pondasi tata ruang yang dapat digunakan hingga 100 tahun kedepan. Ruang Terbuka Hijau yang menjadi salah satu syarat wajib dalam setiap RTRW persentasenya ditingkatkan menjadi 30 persen dari luas keseluruhan area, yakni RTH Publik 20 persen dan RTH privat 10 persen.

Undang-undang tentang RTRW yang baru lahir ini pula, dikeluarkan pemerintah bersama dengan regulasi yang mengikat seluruh pelaku dengan sanksi pidana. Tidak itu saja, juga didasarkan pada Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mengatur tentang mitigasi dan reklamasi pantai.

Dalam RTRW 2010-2030 ini secara prinsip terbagi atas struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang merupakan pergerakan fisik dan penempatan struktur secara fisik bangunan dan transportasi, sedangkan pola ruang yaitu bagaimana memanfaatkan dan memfungsikan ruang-ruang tersebut. Adapun pola ruang terbagi atas 12 kawasan terpadu, yaitu Kawasan Pusat Kota, Kawasan Pemukiman Terpadu, Kawasan Pelabuhan, Kawasan Bandara Terpadu, Kawasan Maritim Terpadu, Kawasan Industri, Kawasan Pergudangan Terpadu, Kawasan Riset dan Pendidikan Tinggi Terpadu, Kawasan Budaya Terpadu, Kawasan Bisnis Olahraga Terpadu, Kawasan Bisnis Pariwisata Terpadu, serta Kawasan Bisnis Global Terpadu.

Sedangkan struktur ruang terbagi pula atas 12 kawasan strategis, yaitu Kawasan Strategis Wisata Pulau Terpadu, Kawasan Strategis Koridor Pesisir Terpadu, Kawasan Strategis Pelabuhan, Kawasan Strategis Sungai Jeneberang Terpadu, Kawasan Strategis Sungai Tallo Terpadu, Kawasan Srategis Lindung Lakkang, Kawasan Strategis Energi Centre, Kawasan Strategis, Kawasan Strategis Bandara, Kawasan Strategis Maritim, Kawasan Strategis Bisnis Karebosi, Kawasan Strategis BIsnis Losari dan Kawasan Strategis Bisnis Global Terpadu.


Awal Kota dan bandar makassar berada di muara sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada dibawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene, akan tetapi pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, yang bahkan menyerang dan menaklukan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang untuk selanjutnya seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.

Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI ini didirikan pula Benteng Rotterdam di bagian utara, Pemerintahan Kerajaan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Gowa, pada masa itu terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan Internasional, sektor politik serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa ini merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, namun selanjutnya dengan adanya perjanjian Bungaya menghantarkan Kerajaan Gowa pada awal keruntuhan. Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan Saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting Saudagar Melayu dalam perdagangannya yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor itu. Dengan menaklukkan kerajaan¬kerajaan kecil disekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi itu dengan berarti, bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil tainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-tawannya itu, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru itu.

Dalam hanya seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (dan dengan ini termasuk ke-20 kota terbesar dunia Pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, kota terbesar musuh utamanya, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang) yang bersifat kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan¬-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotak-kotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, sekian banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar.


Sampai pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam Dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan¬-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.

Hubungan Makassar dengan Dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma'mur Khatib Tunggal atau Dato' Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I¬MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN (memerintah 1593-1639), dan dengan Mangkubumi I- MALLINGKAANG DAENG

 
MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja ini, yang mulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 9

Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakanlah sembahyang Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo tetah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan sembahyang Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Makassar sejak tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar jatuh pada tanggal 1 April.



Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu me¬nyebabkan sebuah "creative renaissance" yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus
dari Eropa. Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memper-luas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda VOC berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Baru pada tahun 1669, akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu.


Bagi Sulawesi Selatan, kejatuhan Makassar di tangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing, sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain.

Pada beberapa dekade pertama setelah pemusnahan kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru di sebelah utara bekas Benteng Ujung Pandang; benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada tahun 1673

ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan dan diberi nama barunya Fort Rotterdam, dan 'kota baru' yang mulai tumbuh di sekelilingnya itu dinamakan 'Vlaardingen'. Pemukiman itu jauh lebih kecil daripada Kota Raya Makassar yang telah dihancurkan. Pada dekade pertama seusai perang, seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa; pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang, setengah di antaranya sebagai budak.



Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang tertupakan. “Jan Kompeni” maupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah Sulawesi Selatan yang sampai awal abad ke-20 masih terdiri dari selusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus mempertahankan diri terhadap serangan militer yang ditancurkan kerajaan-kerajaan itu. Maka, 'Kota Kompeni' itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempah-rempah tanpa hinterland - bentuknya pun bukan 'bentuk kota', tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.
Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama di beras Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta menyuplai beras kepada kapal¬kapal VOC yang menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC.



Sebaliknya, barang dagangan Cina, Terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di Negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara untuk men¬carinya; bahkan, sejak pertengahan abad ke-18 para
nelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, di mana mereka tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar.

Setetah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya menyaksikan kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater menjadi kembali suatu bandar internasional.
Dengan semakin berputarnya roda perekonornian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki "kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda" (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Potandia terkenal),dan menjadi salah satu port of call utama bagi baik para pelaut-pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.


Pada awal abad ke-20, Belanda akhirnya menaklukkan daerah¬daerah independen di Sulawesi, Makassar dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Indonesia Timur. Tiga-setengah dasawarsa Neerlandica, kedamaian di bawah pemerintahan kolonial itu adalah masa tanpa perang paling lama yang pernah dialami Sulawesi Selatan, dan sebagai akibat ekonominya berkembang dengan pesat. Penduduk Makassar dalam kurun waktu itu meningkat sebanyak tiga kali lipat, dan wilayah kota diperluas ke semua penjuru. Dideklarasikan sebagai Kota Madya pada tahun 1906, Makassar tahun 1920-an adalah kota besar kedua di luar Jawa yang membanggakan dirinya dengan sembilan perwakilan asing, sederetan panjang toko di tengah kota yang menjual barang-barang mutakhir dari seluruh dunia dan kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kosmopolitan.

Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indo¬nesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asingnya pada tahun 1949 dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an menjadi¬kannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar-pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca¬ revolusi. Antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada tahun 1971. Baru pada tahun 1999 kota ini dinamakan kembali Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar dan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah luas wilayah bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut 10.000 Ha, menjadi 27.577Ha

Hamparan pulau-pulau karang yang berada disebelah barat jazirah Sulawesi Selatan, membentang selatan-utara, mulai Kabupaten Takalar di Selatan hingga pulau-pulau Kab. Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di Utara, dikenal sebagai dangkalan Spermonde (Spermonde Shelf), dengan jumlah pulau ± 120 pulau dan duabelas diantaranya merupakan bagian wilayah Kota Makassar.

Secara umum daya tarik kepulauan Spermonde adalah kondisi pulau yang sebagian besar masih asri, perairan yang jernih, hamparan pasir putih, dan pada sore hari dapat menikmati sunset sepanjang tahun, pemandangan bawah laut (terumbu karang dan berbagai jenis ikan karang), beberapa lokasi kapal tenggelam (wreck), menyaksikan gerombolan burung camar yang berburu ikan, serta kehidupan nelayan tradisional yang dapat dijumpai setiap hari.

Pulau-pulau yang menjadi tujuan utama wisatawan adalah Pulau Kayangan, Pulau Samalona, Pulau Kodingareng Keke, dan Pulau Lanjukang. Telah tersedia fasilitas resort permanen di Pulau Kayangan, sedangkan pada Pulau Kodingareng Keke hanya tersedia Resort Non Permanen, penduduk di Pulau Samalona menyediakan rumahnya sebagai resort, sedangkan pada Pulau Lanjukang sudah memiliki fasilitas resort. Sementara pulau-pulau lainnya menjadi pendukung kegiatan wisata pulau, karena memiliki daya tarik tersendiri yang tidak dijumpai seperti keadaan sosial budaya masyarakat itu sendiri, seperti Apparoro (upacara penurunan kapal di P. Barrang Caddi).

Untuk menjangkau pulau-pulau Spermonde, khususnya yang termasuk dalam wilayah Pemerintahan Kota Makassar, telah tersedia 3 dermaga penyeberangan yang saling berdekatan, yaitu : dermaga Kayu Bangkoa, dermaga wisata Pulau Kayangan dan dermaga milik POPSA (Persatuan Olahraga Perahu motor dan Ski Air) Makassar. Belum semua pulau-pulau kecil di Kota Makassar memiliki angkutan reguler dengan jadwal yang tetap. Pulau-pulau yang memiliki transportasi reguler, adalah P. Barrang Lompo, P. Barrang Caddi, Kodingareng Lompo, P. Lae-Lae dan P. Kayangan.




PULAU LANJUKANG


Pulau Lanjukang, atau disebut juga Pulau Lanyukang, atau Pulau Laccukang, merupakan pulau terluar yang berjarak 40 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Untuk menuju pulau ini dari kota Makassar, belum ada transportasi reguler, namun bagi wisatawan dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) dengan mesin 40 PK untuk 10 penumpang dengan biaya sewa Rp. 1.OOO.OOO,- (pulang-pergi) 

Bentuk pulau ini memanjang baratdaya - timurlaut, dengan luas mencapai lebih 6 ha, dengan rataan terumbu yang mengelilingi seluas 11 ha. Pada timur merupakan daerah yang terbuka dan terdapat dataran yang menjorok keluar (spit). Sedangkan di sisl barat bagian tengah, terdapat mercusuar. Vegetasi di pulau ini cukup padat, dengan sebaran pohon merata, didominasi oleh pohon pinus dan pohon kelapa serta pohon pisang dibagian tengah pulau.

Sarana umum yang tersedia masih relatif sangat terbatas. Fasilitas pendidikan dan kesehatan belum tersedia. Instalasi listrik dengan 2 buah generator hanya beroperasi antara pukul 17.30 - 21 .00 Wita. Terdapat sebuah sumur air payau di bagian tengah pulau untuk kebutuhan sehari-hari. Kita juga dapat menjumpai 2 buah warung kecil dengan barang dagangan yang sangat terbatas. Selain itu terdapat sebuah mushallah semi permanen. Pemukiman penduduk terkonsentrasi di sisi utara pulau yang relatif lebih aman pada musim timur dan barat.

Pulau ini belum dilengkapi dengan fasilitas dermaga kapal. Disisi bagian barat, pada surut terendah terdapat rataan terumbu karang yang mencapai jarak 1 km dan pada jarak 2 km terdapat daerah yang mempunyai kedalam yang curam hingga lebih 100 m. Wilayah perairan disisi selatan, timur, dan utara pulau ini merupakan alur pelayaran kapal.

Fasilitas resort sudah tersedia berupa 2 buah bangunan rumah batu semi permanen sebagai guest house bagi wisatawan ke pulau ini. Walaupun fasilitas sangat terbatas, bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini ini salah satu tempat yang ideal bagi mereka yang ingin melakukan camping atau sekedar berjemur di pantai pasir putih yang indah dan bersih, atau bagi mereka yang gemar bersnorkling disekitar perairan pulau ini, panorama taman laut dan keanekaragaman biotanya dengan laut yang bersih menjadi daya tarik tersendiri.

Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang, karang lunak, ikan karang, dan ikan hias, serta biota lautnya. Umumnya, pulau ini dimanfaatkan oleh wisatawan pemancing sebagai tempat transit, sebelum meneruskan ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (wilayah perairan Kabupaten Pangkajene Kepulauan) untuk kegiatan "sport fishing".


PULAU LANGKAI


Pulau Langkai berjarak 36 km dari kota Makassar, merupakan salah satu dari tiga pulau terluar Makassar dan termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Posisi pulau ini berada 5,5 km di selatan Lanjukang, dan luas mencapai lebih dari 27 ha., dengan rataan terumbu yang mengelilingi seluas 142 ha.

Sebuah dermaga perahu tendapat di sebelah utara pulau ini. Belum tersedia transportasi rejuler untuk menuju pulau ini, dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) dengan biaya sebesar Rp. 750.000.,- (pergi-pulang). Pulau ini cukup padat penduduknya, dengan jumlah mencapai 430 jiwa (127 KK), berasal dari suku Bugis (Maros, Pangkep) sebanyak 80%. dan 20% sisanya dibagi merata dari suku Mandar, suku Makassar (Takalar, Makassar, Gowa). Mata pencaharian utama penduduk Pulau Langkai adalah sebagai nelayan pancing 55%, nelayan dengan menggupakan pukat/jaring 31%, dan sebagai pengrajin perahu 5%, serta sebagian kecil sebagai pedagang/kelontong, guru dan Pegawai Negeri.

Untuk mendukung kebutuhan listrik penduduk pulau ini, tersedia instalasi listrik dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 17.30 - 21.00 Wita. Fasilltas sanitasi dan kebersihan di pulau ini agak terbatas, sedangkan fasilitas kesehatan, tersedla puskesmas pembantu (pustu) dengan bangunan permanen terdiri atas 3 ruangan. Pustu ini dllayani oleh seorang mantri yang berasal dari deerah itu juga, Secara periodik dokter Puskesmas Pattingalloang, Ujung Tanah Makassar sebagai induk pustu ini mengunjungi pulau ini. Sarana pendidikan berupa sekolah Dasar sudah permanen, sejumlah siswanya berasal dari pulau-pulau sekitarnya. Fasilitas transportasi reguler ke pulau ini belum tersedla.

Peralran Timur pulau ini merupakan alur pelayaran kapal dari dan ke Dermaga Soekano-Hatta Makassar, dengan kedalaman besar dari 30 m, dibeberapa tempat dijumpai kedalaman kurang dari 10 m. Pada perairan barat, dengan jarak kurang darl 2 km dari dataran terumbu, kita dapat menjumpai perubahan kedalaman yang drastis mencapai lebih dari 200m. Ditempat ini banyak diminati oleh wisataman pemancing untuk menjalankan aktifitasnya.

Kondisi terumbu karang yang masih baik di sekitar pulau sangat terbatas, namun demikian, ikan kerapu dan napoleon masih umum dijumpai di sekitar pulau ini. Kita juga dapat menjumpai ikan Kaneke, udang mutiara, ikan cakalang, tinumbu, bambangang, hiu, lamuru, cepa (kuwe), sunu, kerapu dan ikan terbang. Pulau ini dapat dijadikan sebagai salah satu obyek wisata bahari alternatif untuk melihat kehidupan sehari-hari nelayan pancing, termasuk cara pengrajin perahu membangun dan merawat perahunya.


PULAU LUMU-LUMU

Pulau Lumu-lumu berjarak 28 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Posisi pulau ini berada di sebelah timur P. Lanjukang, dan merupakan pulau terdekat dari tiga pulau terluar Makassar. Untuk menuju pulau ini, belum tersedia transportasi reguler, hanya tersedia perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

Pulau ini berbentuk bulat, memanjang barat laut-tenggara. Sebaran terumbu karang yang mengelilingi pulau ini dengan kedalaman kurang dari 1 m, dan sebagian besar berubah menjadi daratan pada kondisi surut minimum. Perairan sebelah timur dan utara, merupakan alur pelayaran dengan kedalaman besar 30m, sedangkan perairan sebelah selatan sekitar 2 km dari pulau merupakan daerah gosong dengan kedalaman 5 m, kedalaman perairan antara gosong dan perairan sebelah barat P. Lumu-lumu hingga mencapai besar dari 30 m.

Walaupun luas pulau ini hanya 3,75 ha, atau hampir setengah dari luas P. Lanjukang, namun jumlah penduduknya mencapai 984 jiwa atau 30 kali dari P. Lanjukang. Pulau ini merupakan pulau terpadat penduduknya dengan tingkat kepadatan 262 jiwa setiap ha dan tersebar merata di seluruh pulau. Tidak banyak pohon dijumpai di pulau ini. Pohon yang terdapat di pulau ini: pohon kelapa, pohon kayu cina yang menempati sisi utara, barat dan selatan.

Jumlah masyarakat sejahteranya mencapai 90%, dengan mata pencarian utamanya sebagian nelayan, yang hanya menangkap ikan yang memiliki nilai jual tinggi seperti ikan sunu (grouper) dan ikan karang lainnya. Tingkat kesejahteraan masyarakat pulau ini juga tercermin dari peralatan tangkap yang digunakan sudah lebih maju dibanding nelayan tradisional, dengan menggunakan jaring insang (gill net).

Sebuah dermaga kayu terletak pada sisi timur untuk menunjang aktifitas keluar masuknya perahu. Terdapat sebuah masjid permanen, sebuah Sekolah Dasar dan sebuah puskesmas pembantu dengan satu orang suster, pos yandu 1 buah dan dukun beranak sebanyak 2 orang. Banyak dijumpai sumur dengan air payau dan hanya digunakan untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sementara rumah penduduk belum banyak dilengkapi dengan jamban. Instalasi listrik dari PLN dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 18.00 - 22.00 Wita, dan tersedia fasilitas telekomunikasi.

Biota yang terdapat di pesisir pulau, adalah: padang lamun, rumput laut, kepiting, keong laut, cacing pasir, teripang, sedangkan diperairan sekitar pulau.terdapat beberapa jenis ikan, karang lunak, karang keras, dan padang lamun.


PULAU BONETAMBUNG

Pulau ini berbentuk bulat, dengan luas 5 Ha, atau berjarak 18 km dari Makassar. Posisinya berada di sebelah timur P. Langkai. Perairan sebelah utara dan timur merupakan alur pelayaran pelabuhan, dengan kedalaman lebih dari 40 meter (± 900 meter dari pantai), perairan sebelah barat terdapat rataan terumbu karang, pada bagian luar sekitas 1 km terdapat kedalaman besar dari 20 m, dan pada sebelah baratdaya sekitar 1 km terdapat daerah yang sangat dangkal dengan kedalaman kurang dari 5 meter. Belum tersedia transporatasi reguler ke pulau ini, dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya sebesar Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

Pemukiman penduduk tersebar merata di pulau ini, dengan jumlah 481 jiwa. Vegetasi umum dijumpai adalah pohon kelapa. Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat, adalah upacara Lahir bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, Upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, dan upacara Pa’rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, serta upacara karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Kondisi ekonomi masyarakat relatif baik dimana mata pencaharian utamanya adalah sebagai nelayan (90%) khususnya nelayan ikan kerapu Untuk mendukung sarana transportasi laut dipulau ini, telah dibangun dermaga pada sisi selatan pulau, selain fasilitas dermaga, terdapat 1 buah sekolah dasar (SD) dan 1 buah Puskesamas pembantu dengan tenaga medis 1 orang mantri, 1 orang suster dan 1 orang dukun, sanitasi lingkungan di pulau ini belum tersedia.

Kita juga dapat menjumpai sebuah masjid hasil swadaya masyarakat dan fasilitas olahraga yakni lapangan bola dan volley. Sebuah instalasi lidtrik dengan generator yang beroperasi padad pukul 18.00 – 22.00 wita melengkapi fasilitasv di pulau ini. Kepiting, crustasea, molusca, cacing pasir, kerang-kerangan, bintang laut, bulu babi, beberapa jenis ikan, seperti ; cumi-cumi, baronang, papakulu (ayam-ayam), mairo (teri), katamba, dan banyar merupakan biota yang umumnya dijumpai diperairan pulau ini. Sejumlah terumbu karang telah rusak, namun masih dapat dijumpai panorama bawah laut yang masih asri untuk lokasi snorkling. Disamping itu, upacara ritual masyarakatnya dapat menjadi atraksi wisata budaya bagi wisatawan.


PULAU KODINGARENG LOMPO
Pulau ini termasuk dalam Kelurahan Kodingareng, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, dan berjarak 15 km dari Makassar. Bentuknya relatif memanjang Utara - Selatan, pada sisi Selatan tedapat dataran yang memanjang menjorok keluar (spit), pulau ini mempunyai luas 14 Ha. Untuk menuju pulau ini dari Makassar, tersedia transportasi regular dengan biaya Rp. 6.000,- per penumpang sekali jalan dengan menggunakan Kapal motor. Tersedia juga perahu motor carteran (sekoci) 40 PK, dengan biaya Rp.400.000,- (pulang-pergi).

Jumlah penduduk di pulau ini t 4170 jiwa, dengan mata pencaharian 90% sebagai nelayan, 9% pa'balong dan sisanya usaha lainnya. Alat tangkap yang dominan adalah pancing dan purse. Konsentrasi penyebaran penduduk merata, dengan jenis bangunan rumah panggung dan rumah batu. Pada sisi timur terdapat 2 buah dermaga yang berdekatan, yaitu : dermaga kayu buat kapal motor (regular) dan Speed Boat.

Fasilitas di pulau ini cukup maju dibandingkan dengan pulau- pulau lainnya. Instalasi listrik dengan generator yang beroperasi selama 12 jam. Terdapat 2 buah Sekolah Dasar, 1 buah taman kanak-kanak, sarana ibadah : 2 buah mesjid dan 2 buah musalla, dengan Fasilitas kesehatan berupa 1 buah posyandu bantu, juga terdapat pos obat desa (POD) melalui program NGO Plan Internasional dan terdapat 1 buah lapangan sepak bola. Perairan sebelah Timur, Utara dan Selatan memiliki kedalaman diatas 20 m pada jarak antara ± 0,2 mil sedangkan perairan disebelah Barat pada jarak ± 4,5 mil dari pantai mempunyai kedalaman 20 m.

Panorama bawah air yang asri masih dapat dijumpai di beberapa spot di wilayah perairan pulau ini. Sejumlah jenis biota yang dapat kita jumpai diperairan ini, adalah : bulubabi, ubur-ubur, kepiting, bintang laut, beberapa jenis ikan, seperti: beseng-beseng giru, leto-leto, cepa, belawas (sejenis baronang)


PULAU KODINGARENG KEKE

Pulau ini terletak disebelah utara P.Kodingareng Lompo, dan berjarak 14 km dari Makassar. Bentuk pulaunya memanjang timurlaut - baratdlaya, dengan luas ± 1 Ha. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikilan, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh pasir putih yang berukuran sedang-halus dan bentuknya berubah mengikuti musim barat dan timur. Tidak tersedia transportasi reguler menuju pulau ini, namun dapat menngunakan perahu motor carteran (sekoci), 40 PK dengan biaya Rp. 500.000,- (pergi-pulang)

Tidak tercatat adanya penduduk di pulau ini, namun dalam 7 tahun terakhir ini  terdapat beberapa bangunan peristirahatan semi permanen bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini. Bangunan dikelola oleh seorang warga negara Belanda, dan telah menanam kembali beberapa pohon pinus. Pada sisi barat terdapat dataran penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi yang tersusun atas material pecahan koral. Ada pasang terendah, terdapat dataran yang cukup luas dibagian barat pantai. Perairan sebelah baratlaut merupakan daerah yang cukup luas dengan kedalaman kecil dari 5 meter hingga mencapai 2,5 km dari garis pantai, sedangkan di perairan sebelah timur dan selatan merupakan alur pelayaran masuk dan keluar dari pelabuhan Samudera Makassar.

Tersedia fasilitas resort standar bagi wisatawan, dan perairan di sekitar pulau ini merupakan tempat yang ideal bagi mereka yang menyenangi snorkeling. Kondisi terumbu karangnya umumnya terjaga dengan baik, dengan ikan-ikan karangnya yang cantik membuat panorama bawah lautnya semakin asri. Bagi anda yang tidak menggemari snorkling/diving, dapat anda menikmati hamparan pasir putihnya.


PULAU BARRANG LOMPO

Pulau Barrang Lompo termasuk wilayah Kecamatan Ujung Tanah, dan berada di sebelah utara P. Barrang Caddi, dan berjarak 13 km dari Makassar. Pulaunya berbentuk bulat, dengn luas 19 Ha. Vegetasi yang umum tumbuh di pulau ini adalah pohon asam, pohon pisang dan pohon sukun, sedangkan pohon kelapa hanya dijumpai disisi timur dan barat pulau ini.

Konsentrasi pemukiman penduduk berada pada sisi Timur, Selatan, dan Barat dengan jumlah penduduk mencapai 3.563 jiwa dari 800 KK. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan, dilengkapi kurang lebih 50 kapal kayu motor dan sekoci. Kondisi ekonomi masyarakatnya relatif sejahtera.

Fasilitas umum di pulau ini cukup maju dibanding pulau lainnya, tersedia transportasi reguler dari dan ke Makassar dengan kapal motor, biayanya Rp. 6.000,- per orang sekali jalan, sanitasi yang cukup baik, fasilitas pendidikan : 1 buah Taman Kanak-kanak (TK), dan 2 buah Sekolah Dasar. Pulau ini dilengkapi juga dengan fasilitas kessehatan berupa 1 buah Puskesmas dan sebuah lagi puskesmas pembantu dengan tenaga medis yang terdiri dari 1 orang dokter, 1 orang perawat, 1 orang mantri, dan 1 orang bidan. Instalasi listrik dengan 2 generator yang berkapasitas 360 KVA yang beroperasi pada pukul 18.00 - 06.00 WITA. Jalan-jalan utama dibuat dari paving blok. Fasilitas air yang baik dan memiliki 2 buah dermaga (tradisional dan semi permanen), dan di pulau ini terdapat "Marine Field Stasiun Universitas Hasanuddin". 

Tradisi masyarakat yang masih dijumpai di pulau ini adalah upacara Lahir Bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, upacara Pa'rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, dan upacara Karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Selain makam-makam tua dari abad ke XIX yang terdapat di pulau ini sebagai obyek wisata budaya yang menarik dikunjungi, juga kios tempat pembuatan cindera mata dari kerang laut, berada tepat didepan dermaga utama. Pada beberapa spot di perairan pulau ini, kehidupan karang dan ikan karang umumnya masih baik, walaupun ada sebagian karangnya sudah ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.


PULAU BARRANG CADDI

Pulau ini terletak di sebelah timur P. Barranglompo, berbentuk memanjang timurlaut – baratdaya, dengan luas 4 ha. Berjarak 11 km dari Makassar dan termasuk pulau yang padat penduduknya, dengan jumlah 1263 jiwa. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan tradisional, hal ini tercermin dari peralatan tangkap yang mereka gunakan masih sederhana, seperti bubu, pancing, rengge, dan lepa-lepa.

Fasilitas umum yang tersedia berupa instalasi listrik, penyaringan air laut menjadi air tawar (bantuan jepang) dan sebuah dermaga di sisi barat pulau ini. Untuk kesehatan, dapat dijumpai 1 Puskesmas Pembantu dan 1 Posyandu dengan seorang tenaga kesehatan dan seeorang dukun terlatih, sedangkan untuk pendidikan, terdapat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Tersedia sarana transportasi reguler dari Makassar dengan biaya Rp. 6.000 per orang sekali jalan. Kedalaman perairan disekitar pulau ini umumnya besar dari 25 meter, sehingga menjadi bagian dari alur pelayaran masuk-keluar Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar.

Konsep zonasi sudah diterpkan pada pemanfaatan ruang laut di perairan pulau ini. Seperti pada perairan sisi baratnya, merupakan daerah perlindungan yang dibagi atas beberapa zona, antara lain zona yang paling dekat dengan pulau disebut zona inti dan yang kearah laut lepas merupakan zona penyangga yang dicanangkan sekitar bulan Desember 2003 lalu. Kegiatan ini juga, merupakan usaha perlindungan terhadap ekosistem terumbu karang disekitar pulau Barrang Caddi yang diinisiatif oleh forum kemitraan bahari Sulaweai Selatan.

Obyek wisata budaya yang menarik di pulau ini adalah mengunjungi tempat pembuatan perahu tradisional pada sisi barat pulau ini, ataukah hanya sekedar melihat kehidupan sehari-hari masyarakat P. Barrang Caddi. Kalau kita beruntung, maka kita dapat menjumpai upacara penurunan kapal (apparoro), atau upacara pembuatan rumah atau kegiatan mesyarakat duduk bersama untuk membicarakan suatu hal.

Pada beberapa spot, kehidupan kondisi terumbu karangnya dijumpai dalam kondisi baik, beberapa spesies karang dan ikan perairan bagian barat. Tempat ini juga menarik bagi mereka yang hanya sekedar untuk melakukan snorking, walaupun sebagian karangnya ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.


PULAU SAMALONA


Pulau Samalona, secara administratif termasuk Kecamatan Mariso, berjarak 7 km dari kota Makassar, selain terkenal dengan pantai pasir putihnya juga memiliki tempat pemancingan. Pulau ini relatif berbentuk bulat, luas lebih 2 ha, dengan jumlah penduduk mencapai 82 jiwa. Belum tersedia transportasi reguler ke pulau ini, namun demikian para wisatawan dapat menyewa kapal motor 40 PK dengan jumlah penumpang 10 orang, sebesar Rp. 300.000,- (pergi-pulang).

Konsentrasi penduduk merata di tengah pulau, dengan bangunan rumah panggung. Pulau ini cukup rindang dengan sejumlah pohon besar yang terdapat di pulau ini, seperti pohon cina, tammate, dan pohon kelapa sedangkan pada sisi baratlaut terdapat hamparan pasir putih yang cukup luas, oleh pengunjung dimanfaatkan sebagai tempat bermain pantai. Di pulau ini, dapat dijumpai juga sebuah kompleks makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat Samalona, letaknya di sisi Utara pulau.

Kondisi ekonoml masyarakat setempat bergantung dari sektor pariwisata yang berkunjung ke Pulau Samalona. Fasilitas Yang tersedia di Pulau ini berupa instalasi listrik dari PLN dengan 4 buah mesin Pembangkit listrik yang beroperasi antara pukul 18.00-22.00 Wita, dan bila hari libur hingga pukul 24.00 Wita. Di pulau ini terdapat pula satu buah mushallah yang merupakan bantuan dari wisatawan lokal. Terdapat sebuah sumur dengan kondisi air yang payau di bagian tengah pulau, beberapa rumah panggung milik penduduk yang disewakan, dilengkapi dengan MCK.

Perairan di sekitar pulau mencapai kedalaman diatas 10 m, pada sisi Barat Laut terdapat mercusuar, gosong terdekat berada pada perairan sisi Tenggara yaitu Taka Bako (± 2 km). Bagi mereka yang menyenangi kegiatan berenang, pantai Samalona merupakan salah tempat ideal, namun sejumlah spot snorkling dapat dijumpai di perairan bagian barat P. Samalona. Pulau ini, sehingga pulau ini menjadi salah satu tempat yang paling digemari oleh masyarakat kota Makassar untuk sekadar menikmati putih atau berenang.


PULAU LAE-LAE

Pulau ini berhadapan langsung dengan pantai Losari, berjarak 2 km depan pantai Makassar, dengan luas 11 ha. Secara administrasi, Pulau Lae-Lae termasuk Kecamatan Biringkanaya. Pulau ini berbentuk persegi empat dan terdapat bangunan penghalang gelombang yang memanjang relative Utara – Selatan pada sisi barat pulau. Konsentrasi penduduk merata, dengan jenis bangunan rumah panggung dan rumah batu. Dibangun tanggul mengelilingi pulau, menyerupai bentuk segiempat, dan pada sisi selatan terdapat bangunan pemecah gelombang yang memanjang relative utara-selatan. Pada perang Dunia II, pulau ini difortifikasi oleh tentara Jepang sebagai pertahanan udara dan laut.

Masyarakat mulai mendiami pulau Lae-lae  pada tahun 1950-an. Penduduknya telah mencapai lebih 1500 jiwa, umumnya sebagai pelaut dan nelayan. Sejak ikan jenis kerapu menjadi komoditi ekspor yang bernilai tinggi, semakin banyak nelayan Lae-lae mengusahakan penangkaran kerapu untuk ekspor. Tersedia fasilitas transportasi reguer yang menghubungkan pulau ini dengan kota Makassar, dengan biaya Rp. 5.000 per orang sekali jalan.

Fasilitas umum yang dapat kita jumpai di pulau ini, sudah cukup memadai, seperti sebuah instalasi listrik dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 17.30-21.00 Wita, sebuah dermaga kayu, mesjid permanen, Sekolah dasar, Puskesmas dan Posyandu serta saluran sanitasi untuk sebagian pemukiman penduduk. Kebutuhan akan air bersih, masih disuplai dari kota Makassar, sedangkan untuk kebutuhan sehari mereka masih menggunakan air dari beberapa sumur di pulau ini.

Perairan sekitar Pulau Lae-Lae relatif dangkal, atau mempunyai kedalaman kurang dari 7.5 meter, kecuali pada bangunan Pemecah gelombang di sisi Timur Laut dengan kedalaman perairan hingga mencapai lebih 9 meter. Bagi mereka yang menyenangi untuk sekedar berjemur dan memancing untuk hiburan, Pulau ini sebagai salah satu tempat ideal untuk dikunjungi. Walaupun di pulau ini tidak tersedia resort, tetapi beberapa rumah penduduk menawarkan untuk dijadikan guest house.


PULAU LAE-LAE KECIL

Pulau ini dikenal dengan nama P. Gusung oleh masyarakat Makassar. Berjarak kurang dari 1,6 km dari kota Makassar, dengan luas 2 ha dan berbentuk memanjang utara-selatan. Posisi pulau ini berada diantara Pulau Lae-lae dan Pulau Kayangan. Sebelumnya pulau ini hanya merupakan sand barrier (pulau gosong) dan dibangun oleh Pengelola Pelabuhan Makassar sebagai pemecah gelombang, sekaligus melindungi kawasan Pelabuhan selama musim Barat (Desember-Maret).

Pulau ini todak berpenghuni, dan tidak ada dijumpai pohon besar, kecuali rumput laut dan jenis tanaman perdu pantai lainnya. Pulau ini sekarang, telah berkembang menjadi salah datu tujuan lokasi wisata bahari bagi penduduk Makassar, seperti wisata pemancingan, atau tempat berenang atau sekedar tempat bersantai. Tersedia fasilitas ttransportasi reguler dengan biaya Rp. 7.500 per orang sekali jalan.


PULAU KAYANGAN

Pulau Kayangan merupakan pulau koral yang paling dekat dengan Makassar, berbentuk bulat, berpasir putih, tidak berpenghuni, dengan luas mencapai 2 ha, termasuk dalam wilayah Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang. Berjarak 800 m dari Pelabuhan Soekarno Hatta, dan waktu tempuh ±15 menit dari dermaga Kayangan, dilengkapi dengan pelabuhan penyeberangan yang khusus diperuntukan bagi wisatawan yang akan berlibur di pulau ini, dengan biaya transportasi Rp. 20.000 perorang pulang. Perahu penyeberangan tersedia setiap 20 menit ke pulau dan membawanya kembali ke Makassar. Pulau ini dibuka hingga pukul 24.00 Wita.

Dulunya, pulau ini bernama Marrouw atau Meraux, dan dikelola sebagai resort dan tempat wisata bahari favorite sejak tahun 1964, Pulau ini juga mempunyai sistem keamanan 24 jam, didukung dengan fasilitas air tawar yang khusus didatangkan dari Kota Makassar. Pada tahun 2003 sempat ditutup, namun berselang beberapa bulan dibuka kembali. Saat ini, pulau kayangan telah direnovasi kembali dan dilengkapi sejumlah fasilitas tambahan agar memenuhi standar internasional.

Bagi masyarakat kota Makassar, pulau Kayangan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kota ini. Tersedia berbagai fasilitas di pulau ini, seperti tempat penginapan, pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, ruang pertemuan, tempat bermain bagi anak-anak, sarana olah raga, dan anjungan memancing serta kolam renang. Tempat ini merupakan salah satu alternatif utama bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata bahari di Kota Makassar.

Rabu, 27 Oktober 2010

Sejumlah lokasi di Kota  masih kerap mengalami banjir saat musim hujan turun. Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin diminta serius mencari solusi masalah yang kerap dikeluhkan warga tersebut.
    Sedikitnya ada 19 lokasi titik rawan banjir di kota ini saban hujan turun. Kesembilan belas titik rawan banjir itu adalah Jl Cenderawasih III, Jl Baji Pamai, Jl Sharif Alqdri, Jl Monginsidi, Jl Tinggimae, Jl Gunung Lokong, Jl Gunung Lompo Battang, Jl Yos Sudarso, Jl Nusantara dan Jl Gatot Subroto yang berada pada wilayah barat dan utara Kota
    Sedang lokasi yang rawan banjir pada wilayah selatan dan timur kota adalah Jl Malengkeri III, Jl Andi Tonro, Jl Rappo-rappo, Jl Bontomene, Jl Pelita Raya, Kompleks IKIP, Jl Racing Center, Jl  Perintis Kemerdekaan, Jl Antang.
    Kepala Bidang Bangunan Air Dinas Pekerjaan Umum (PU), Bahar, nmengaku telah mengindentifikasi hal itu. Menurut Bahar, untuk mengantisipasi terjadinya banjir, dinas PU rutin melakukan pengerukan sedimentasi saluran got di titik rawan ini.
    "Dalam kurun tiga tahun terakhir, Pemerintah Kota mengawasi sedikitnya 19 titik yang merupakan lokasi rawan banjir," kata  kepada Tribun, Selasa (26/10).
    "Ada pendangkalan saluran sekunder yang menuju ke kanal. Jika tidak dilakukan pengerukan rutin berpotensi menjadi banjir besar," lanjut Bahar.
    Dinas PU menyebut banjir di  sebagai "banjir musiman". Selain itu, dinas ini juga aktif melakukan sosialisasi agar masyarakat membersihkan saluran air maupun kanal.
    Pasalnya penanganan kebersihan kanal ataupun saluran limbah rumah tangga pada 143 kelurahan dari 14 kecamatan di, membutuhkan perhatian khusus, sementara sarana dan prasarana penanganan banjir sangat terbatas.
Penyebab Banjir
    Berdasarkan data Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makasasr, ketinggian air pasang di kawasan pantai bisa mencapai 160 cm.
    Sementara permukaan kota  dari laut hanya 120 cm. Ketika bersamaan curah air hujan tinggi dan air pasang, banjir terjadi.
    Banjir surut setelah air laut juga surut.  Dalam rencana tata ruang pemkot, perbaikan saluran drainase termasuk salah satu prioritias. Pemkot akan membangun drainase sistem tertutup mulai 2011 mendatang. (sur)

Legislator Protes Dana Banjir Kurang
POLITISI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota  Asriadi Samad mempertanyakan anggaran penanganan banjir yang  berkurang Rp 1 miliar. Tahun ini, Dinas hanya mengalokasikan anggaran Rp 2 miliar untuk penanganan banjir.
"Apa pemerintah menjamin  sudah bebas banjir," kata Asriadi di DPRD, kemarin.
Terpisah, Kabid Pembangunan Air Dinas PU, Bahar, mengakui terbatasnya anggara membuat pihaknya kesulitan melakukan pengerukan sedimentasi saluran air secara menyeluruh di 143 kelurahan di.
Untuk kali kedua, kolektor mainan Perkumpulan Kolektor Mainan  (Pertamaks) akan menggelar pameran mainan, Toys Fair 2010. Selama tiga hari, mulai Jumat (29/10) hingga Minggu (31/10) para kolektor di Mall GTC Tanjung Bunga,.
"Kita baru akan tinjau lokasi besok," kata Jun Garage, salah seorang panitia kepada Tribun, Selasa (26/10) siang.
Jun, adalah seorang anggota komunitas yang berdiri sejak 9 Februari 2009 ini. Ada ratusan koleksi tapi dia henya menyebutkan koleksi 1/64 Jada Toys, Hot Toys Military, dan figur-figur militer lainnya.
Ajang pameran yang digelar pertama tahun 2009 ini sebatas kumpul-kumpul. Akhir pekan, lalu mereke menyebar selebaran di sejumlah sudut kota. "Kita saling bertukar informasi antar sesama kolektor mainan di," katanya seraya menambahkan ada bursa jual beli mainan koleksi.
Endy Iskandar, salah seorang anggota Petramax, yang beberapa kali menjadi event organizer Surabaya Toys, tak kuasa memuji indiatif dan kegigihan kolektor. "Ada belasan kolektor mainan di Indonesia, Jakarta, Surabaya, bandung, dan Medan, tapi di Makasar inilah yang paling solid," katanya. (cr3)
Senin, 25 Oktober 2010
10. MAKASSAR
Ibukota dari: Provinsi Sulawesi Selatan
Koordinat:. 5°8
LS 119°25 BT
Luas: 128,18 km²
Penduduk: 1,25 juta jiwa

Kota terbesar di Pulau Sulawesi ini berada di pesisir barat daya, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah. Makassar berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan. Kota ini termasuk kota kosmopolis, banyak suku bangsa tinggal di sini- suku Makassar,Bugis,Toraja, Mandar, dan komunitas Tionghoa yang cukup besar. Makanan khas Makassar adalah Coto Makassar, Roti Maros, Kue Tori', Palabutung,Pisang Ijo, Sop Saudara, dan Sop Konro.

9. DENPASAR (DAN KOTA-KOTA DI BALI)
Ibukota dari: Provinsi Bali
Koordinat: Denpasar- 8°39’ LS 115°13’
Luas: Denpasar- 123,98 km²
Prov. Bali- 5.561 km²
Penduduk: Denpasar- 600.000 jiwa
Prov. Bali- 4.500.000 jiwa



Bali adalah salah satu provinsi yang memiliki pulau secara utuh di Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Denpasar sendiri terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Seluruh masyarakatnya telah mengenal dan bangga akan budaya asli mereka seperti tari Pendet dan tari Kecak. Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata, di mana penduduknya sangat tekun untuk beragama.









8. MEDAN
Ibukota dari: Provinsi Sumatra Utara
Koordinat: 3°30’- 3°43’LU 98°35’-98°44’BT
Luas: 265,10 km²
Penduduk: 2.036.018 jiwa


Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba, serta Pantai Cermin, yang dilengkapi dengan Waterboom Theme Park. Kota Medan terkenal dengan kerukunan penduduknya yang multietnik: Batak, India, Arab, Tionghoa dan transmigran dari Pulau Jawa.



7. MALANG
Letak: Provinsi Jawa Timur
Koordinat: 7°54’-8°03’LS 112°34’-112°41’BT
Luas: 110,06 km²
Penduduk: 814.000 jiwa



Kota Malang merupakan tempat persinggahan dan tujuan perbelanjaan serta kerajinan rakyat bagi turis domestik dan mancanegara. Kebanyakan lokasi wisata di Jawa Timur berada di wilayah eks Karesidenan Malang, namun fasilitas pariwisata terlengkap ada di Kota Malang. Sebagai Kota Kenangan bagi turis Eropa terutama Belanda Kota Malang masih tetap sebagai primadona karena banyak peninggalan gedung / bangunan, taman khas warisan kolonial serta tempat bersejarah lainnya tetap dilestarikan oleh Pemda.






6. SURABAYA
Ibukota dari: Provinsi Jawa Timur
Koordinat: 7°16’ LS 112°43’ BT
Luas: 374 km²
Penduduk: 3.282.156 jiwa
Kota Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya). Jawa adalah suku mayoritas (83,68%), diikuti berbagai suku bangsa di Indonesia, termasuk suku Madura (7,5%), Tionghoa (7,25%), Arab (2,04%), dan suku bangsa lain.









5. BOGOR
Letak: Provinsi Jawa Barat
Koordinat: 6°26’ LS 106°48’BT
Luas: 118,5 km²
Penduduk: 834.000 jiwa



Kota Bogor terletak 54 km sebelah selatan Jakarta. Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg yang berarti "tanpa kecemasan". Hari jadi Bogor diperingati setiap 3 Juni karena merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Pajajaran. Bogor dijadikan pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Di sinilah berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi berdiri sejak abad ke-19. Institut Pertanian Bogor, berdiri sejak awal abad ke-20.



4. SOLO
Letak: Provinsi Jawa Tengah
Luas: 44,04 km²
Penduduk:552.542 jiwa





Solo adalah kota yang pandai memelihara budaya lokal. Bahasa Jawa dari Solo digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional. Tarian daerah Bedhaya dan Srimpi masih dilestarikan di Keraton Solo. Usaha batik terkenal Batik Keris dan Batik Danarhadi berasal dari Solo. Penduduk Solo memang bangga dengan batik, bahkan label kota Solo selain " Solo, The Spirit of Java" adalah “the City of Batik”. Makanan khas Surakarta: Nasi liwet, nasi timlo, cabuk rambak, serabi Notosuman, intip, bakpia Balong, roti Orion, wedang asle, dll. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Jogja juga akan singgah di Solo, atau sebaliknya.





3. SEMARANG
Ibukota dari: Provinsi Jawa Tengah
Luas: 373,67 km²
Penduduk: 1.268.292 jiwa



Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat. Kota Semrang diwarisi peninggalan Belanda, kota Lama, dengan Gereja Blenduk sebagai maskotnya. Kawasan Gajah Mada-Simpang5- Pahlawan merupakan kawasan yang cocok untuk perut lapar karena di sana makanan asli Semarang bertebaran. Jalan Pandaran juga disediakan sebagai tempat khusus oleh-oleh khas Semarang.







2. BANDUNG
Ibukota dari: Provinsi Jawa Barat
Koordinat:
Luas: 167,3 km²
Penduduk: 2.771.138 jiwa



Kota ini pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java. Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk sebab terletak di dataran tinggi. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata. Sedangkan keberadaan perguruan tinggi negeri dan banyak perguruan tinggi swasta di Bandung membuat kota ini dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Indonesia. Bandung juga dikenal dengan outlet factory nya yang menjamur, dengan harga murah, namun tetap berkualitas.








1. JOGJA
Ibukota dari: Provinsi D.I. Yogyakarta
Luas: 32,8 km²
Penduduk: 511.744 jiwa



Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa revolusi. Jogja adalah satu-satunya kota yang pimpinan dari kerajaan (keraton) yakni Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Pangeran Pakualam. Makanan khas kota ini adalah gudeg. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Yogyakarta memiliki panorama alam yang indah- sawah nan hijau menyelimuti pinggiran dengan Gunung Merapi sebagai latar, pantai-pantai alami mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja. Atmosfir seni begitu terasa di Yogyakarta. Malioboro, yang merupakan urat nadi Yogyakarta, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan.

Dalam hadith riwayat Attabarani, Rasulullah SAW perintah seorang sahabat supaya membangun sebuah masjid di taman bernama Bathan di daerah San'ayg terletak di negeri Yemen. Baginda mengarahkan supaya qiblat masjid itu menghadap ke puncak gunung Deyn yg terletak sekitar 30km dari San'aa.

14 abad kemudian, Google Earth membuktikan kebenaran Rasulullah SAW. Melalui rakaman satelit, dapat di lihat dengan jelas bagaimana qiblat masjid ini yang di perintahkan oleh Nabi SAW menghadap ke puncak gunung Deynn, apabila di lanjutkan, ia langsung mengarah ke tengah Kaaba di Baitullah Al Haram.

Tiada manusia yg dapat mengetahui perkara ini tanpa bantuan alat2 canggih. Benar lah Muhammad SAW.


Seorang tokoh agama besar Yahudi di Israel telah menyamakan non-Yahudi dengan keledai dan binatang pengangkut beban, mengatakan alasan utama keberadaan mereka adalah untuk melayani orang-orang Yahudi.  Rabbi Ovadia Yosef, pembimbing rohani dari pihak fundamentalis agama, Shas, yang mewakili orang-orang Yahudi Timur Tengah, dilaporkan mengatakan dalam homili Sabat awal pekan ini bahwa "satu tujuan non-Yahudi adalah untuk melayani orang-orang Yahudi."  Shas merupakan mitra koalisi utama dalam pemerintahan Israel saat ini.  Yosef, juga mantan Kepala Rabbi Israel, seperti dikutip oleh surat kabar sayap kanan, Jerusalem Post, yang mengatakan bahwa fungsi dasar dari seorang Goy, sebuah kata menghina untuk orang non-Yahudi, adalah untuk melayani orang-orang Yahudi.  "Non-Yahudi lahir hanya untuk melayani kita. Tanpa itu, mereka tidak memiliki tempat di dunia yang hanya melayani orang Israel," kata Yosef dalam khotbah malam mingguan Sabtu yang dikhususkan untuk undang-undang mengenai tindakan yang boleh dilakukan non-Yahudi pada hari Sabath.  Yosef juga dilaporkan mengatakan bahwa kehidupan non-Yahudi di Israel dipelihara oleh Tuhan dalam rangka untuk mencegah kerugian kepada orang Yahudi.  Yosef, secara luas dianggap sebagai ahli Taurat terkemuka dan memiliki wewenang pada penafsiran Talmud, sebuah kitab Yahudi, mengadakan perbandingan antara hewan pengangkut beban dan non-Yahudi.  "Di Israel, kematian tidak berkuasa atas mereka ... Dengan orang kafir, maka kematian akan menjadi sama seperti setiap orang, mereka harus mati, tetapi Tuhan akan memberi mereka umur panjang. Mengapa? Bayangkan jika keledai seseorang akan mati, mereka akan kehilangan uang mereka.  "Keledai ini adalah hambanya ... Itulah sebabnya dia mendapat umur panjang, untuk bekerja dengan baik untuk Yahudi."  Yosef lebih lanjut menguraikan ide-idenya tentang perbudakan "orang kafir" kepada orang Yahudi, bertanya "mengapa kaum kafir diperlukan? Mereka akan bekerja, mereka akan membajak, mereka akan menuai, dan kami akan duduk seperti seorang effendi dan makan?"  "Itu sebabnya orang kafir diciptakan."  Konsep orang kafir menjadi makhluk infra-manusia atau kuasi-hewan sudah terkenal dengan baik di kalangan Yudaisme Ortodoks.  Sebagai contoh, rabbi berafiliasi dengan gerakan Chabad, sekte Yahudi supremasis tapi berpengaruh, mengajar secara terbuka bahwa pada tingkat spiritual, non-Yahudi memiliki status binatang.  Abraham Kook, mentor keagamaan gerakan pemukim, dikutip mengatakan bahwa perbedaan antara seorang Yahudi dan non-Yahudi lebih besar dan lebih dalam dari perbedaan antara manusia dan hewan.  "Perbedaan antara jiwa jiwa Yahudi dan non-Yahudi - semua dari mereka pada semua tingkatan yang berbeda -. Lebih besar dan lebih dalam dari perbedaan antara jiwa manusia dan jiwa-jiwa ternak."  Beberapa ide rasis Kook diajarkan di perguruan tinggi Talmud, Merkaz H'arav, di Yerusalem. Perguruan tinggi ini dinamai Kook.  Dalam bukunya, "Sejarah Yahudi, Agama Yahudi: Beban dari Tiga Ribu Tahun," mendiang penulis dan intelektual Israel Shahak berpendapat bahwa setiap kali rabbi Ortodoks menggunakan kata "manusia," mereka biasanya tidak mengacu pada semua manusia, tetapi hanya untuk orang Yahudi, karena non-Yahudi tidak dianggap manusia menurut Halacha atau hukum Yahudi.  Beberapa tahun yang lalu, seorang anggota Knesset Israel, menghukum tentara Israel untuk "memperlakukan manusia seakan-akan mereka orang Arab." Anggota Knesset, Aryeh Eldad, yang mengomentari evakuasi oleh tentara Israel dari sebuah pos pemukim di Tepi Barat.  Dihadapkan dengan efek negatif dari Alkitab tertentu dan ajaran Talmud tentang hubungan antar-agama, beberapa pemimpin Kristen di Eropa telah menyerukan pembentukan agama Yahudi untuk mereformasi persepsi tradisional Halacha tentang non-Yahudi.  Namun, sementara sekte Konservatif dan Reformasi Yudaisme, telah menganggap secara positif seruan tersebut, sebagian besar orang Yahudi Ortodoks menolak panggilan itu, dengan alasan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang tidak dapat diubah dalam keadaan apapun.  Kitab mereka mengatakan bahwa non-Yahudi yang hidup di bawah pemerintahan Yahudi harus berfungsi sebagai "pembawa air dan pemotong kayu" untuk ras majikannya.  Dalam Yosua (9:27), ada kalimat yang berbunyi, "Pada hari itu, Yosua menjadikan orang-orang Gibeon menjadi tukang kayu dan pembawa air bagi masyarakat dan untuk altar TUhan di Tempat yang akan dipilih oleh Tuhan. Dan seperti itulah yang mereka sampai hari ini.. "  Di tempat lain dalam Alkitab, Israel diperintahkan untuk merawat "orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu" dengan manusiawi "Karena kamu sendiri adalah orang asing di Mesir.

Selasa, 19 Juli 2011

Taman Nasional Bantimurung Surga Kupu-kupu di Maros

Taman Nasional Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu tempat wisata yang paling digemari wisatawan, baik lokal, nasional maupun mancanegara.
“Taman Nasional Bantimurung yang mempunyai banyak keunikan menjadikannya sebagai salah satu tempat tujuan wisata maupun rekreasi,” kata petugas Taman Nasional Bantimurung, Abidin di Maros, Minggu (29/11).
Ia mengatakan, Taman Nasional Bantimurung merupakan taman wisata alam yang paling membanggakan masyarakat Sulawesi Selatan. Karena lokasinya terdapat di lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis.
Tidak heran, kawasan ini juga menjadi area pertambangan batu kapur sebagai bahan baku semen. Sayangnya, aktivitas seperti ini jika terus dilanjutkan akan sangat merusak alam dan potensi wisata itu sendiri.
Taman Alam Bantimurung juga terkenal dengan air terjun, gua, dan kupu-kupunya. Tempat ini hanya berjarak lebih kurang 30 kilometer (km) dari Kota Makassar.
Abidin menjelaskan, jenis kupu-kupu di museum kupu-kupu Bantimurung juga memliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus, Gua Batu, dan Gua Mimpi.


“Bantimurung dikenal sebagai surganya kupu-kupu karena semua spesiesnya ada di sini. Sedikitnya ada 20 spesies kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No 7/1999,” katanya.
Beberapa spesies unik hanya terdapat di Sulsel, yaitu Troides helena Linne, Troides hypolitus Cramer, Troides haliphron Boisduval, Papilo adamantius, dan Cethosia myrana.
Ia mengatakan, pada 1856-1857 Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di sini untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. “Wallace menyatakan Bantimurung merupakan ’The Kingdom of Butterfly’ (kerajaan kupu-kupu),” katanya.
“Karena itu, berdasarkan penelitian orang Inggris ada 150 spesies kupu-kupu di sini dan inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan,” ucapnya.

Sabtu, 18 Juni 2011

Asal-usul TANA TORAJA

Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).


Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Sejarah Aluk
Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua.
Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi' yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme' di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi' dirura.Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.
Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi' adalah pembawa aluk Sabda Saratu' yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.
Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "To Unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerah sebelahtimur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suku dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan", Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi'ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu', Parange menuju Buntao', Pasontik ke Pantilang, Pote'Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma'dandan ke Bala (Mangkendek), Sirrang ke Dangle.
Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan danMatahari". Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.
Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut.

 

Selasa, 31 Mei 2011

GUNUNG MIRIP VAGINA DI SULSEL


|
akhwan/tribun
pemandangan Buttu Kabobong atau Gunung Nona yang berada di Kabupaten Enrekang
ENREKANG- Tahukah anda jika di Kabupaten Enrekang, terdapat sebuah gunung yang dipandang masyarakat menyerupai alat kelamin wanita.

Masyarakat setempat menamai gunung tersebut dengan Buttu Kabobong, yang bermakna alamat kelamin wanita (vagina).

 Gunung yang dijadikan salah satu daya tarik wisata oleh Pemerintah Kabupaten Enrekang itu berlokasi tidak jauh dari Gunung Bambapuang dan bisa disaksikan langsung dari jalan poros.
Lebih indah dan nyaman terlihat di Villa Bambapuang. Cuaca disekitar gunung tersebut cukup sejuk, meski ditengah terik panasnya matahari. Banyak warga yang mendirikan rumah makan dengan mengandalkan pemandangan indah itu.(*)

 
Aplikasi dan Tutorial Tentang Gadget © 2012 | Designed by LogosDatabase.com, in collaboration with Credit Card Machines, Corporate Headquarters and Motivational Quotes