Kamis, 21 November 2013

MAKALAH SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DI SULAWESI






BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Masuknya Islam Di Sulawesi
Konon ketika Khatib Sulaiman tiba di Kerajaan Gowa Tallo pada awal abad ke-16 ia bersama Khatib Bungsu dan Khatib Tunggal yang berasal dari Minangkabau telah menyebarkan agama Islam pada penduduk setempat. Meski demikian ketiganya juga mencoba untuk mengislamkan kalangan kerajaan, utamanya raja Gowa dan Tallo. Namun mereka menemui kendala yang cukup besar. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari daerah atau kerajaan lain utuk menyebarkan agama Islam.
Sebelum ketiganya pergi, mereka teringat akan pesan dari raja di Pulau Kalimantan yang sempat mereka singgahi ketika menuju Pulau Celebes. Ketika itu sang raja menyarankan jika ingin menyebarkan agama Islam di jazirah Sulawesi, maka yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah mengislamkan raja Luwu. Karena menurut sang raja, Luwu merupakan kerajaan yang tertua dan yang disegani di jazirah Sulawesi.

Akhirnya mereka sepakat menuju ke Luwu bersama-sama. Datu Luwu yang berkuasa saat itu adalah La Pattiware Daeng Parabung (1587-1615). Mereka pun berlabuh di sebuah desa yang bernama Lapandoso, sesampainya di sana mereka lalu dipertemukan dengan Tandi Pau (Maddika Bua saat itu). Setelah melalui perbincangan yang panjang, akhirnya Maddika Bua mau menerima agama yang dibawa oleh ketiga Khatib tersebut asalkan tidak diketahui oleh sang Datu karena ia takut durhaka bila mendahului sang Datu.

Sebelum ketiganya berangkat ke Pattimang (pusat kerajaan Luwu waktu itu), ketiganya bersama masyarakat setempat membangun sebuah masjid di desa Tana Rigella. Setelah mengislamkan penduduk Bua waktu itu, ketiganya pun diantar oleh Maddika Bua menuju Pattimang menghadap kepada sang Datu. Sesampainya di sana, mereka pun dipertemukan dengan Datu dan memberitahukan maksud kedatangannya untuk menyebarkan agama Islam. Sang Datu pun meminta penjelasan kepada ketiga Khatib tersebut mengenai agama yang mereka bawa. Mendengar penuturan tamunya, Datu hanya tersenyum, ia memang sangat tetarik dengan agama yang diperkenalkan oleh ketiga Khatib itu. Apalagi konsep ketuhanannya hampir sama dengan konsep ketuhanan masyarakat Luwu..

Namun sang Datu tidak begitu saja mempercayainya. Datu Luwu pun bermaksud menguji kemampuan Khatib Sulaiman selaku pimpinan rombongan. Ia menganggap orang yang membawa agama yang besar pastilah memiliki kekuatan yang besar pula.. Datu Pattiware pun mengemukakan keinginannya tersebut kepada Khatib Sulaiman, sang khatib pun meluluskan keinginan sang Datu. Sesuai dengan kesepakatan, apa pun yang dilakukan sang Datu juga harus dilakukan oleh Khatib Sulaiman begitupun sebaliknya. Dan apabila Khatib Sulaiman sanggup melakukan semua yang dilakukan sang Datu, maka raja dan seluruh masyarakat Luwu akan memeluk agama Islam, namun jika tidak maka keduanya harus meninggalkan Tana Luwu.

Tibalah saatnya pertarungan kekuatan dilaksanakan, masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi lapangan dekat istana yang akan dijadikan sebagai arena pertarungan. Peralatan pertarungan pun telah disiapkan. Untuk pertarungan pertama, mereka diharuskan menyusun telur yang telah disiapkan sampai habis. Sesuai dengan kesepakatan, sang Datu lah yang terlebih dahulu maju. Dengan tenang, ia mengambil telur-telur tersebut dengan tangan kirinya dan meletakkan di tangan kanannya hingga melebihi tinggi pohon kelapa. Kini tiba giliran Khatib Sulaiman, dengan membaca basmalah ia mulai mengambil telur-telur itu dan menaruhnya di tangan kanannya seperti yang dilakukan oleh sang Datu. Rakyat Luwu yang menonton seolah tidak menyangka Khatib Sulaiman dapat melakukan hal yang sama dengan raja mereka. Bahkan sang Khatib menarik beberapa butir telur yang berada di tengah-tengah tanpa ada satupun telur yang jatuh. Melihat hal itu, sang Datu pun melakukan hal yang sama tanpa ada satu pun butir telur yang jatuh. Karena sang khatib mampu melakukan apa yang dilakukan oleh raja maka pertarungan kembali diteruskan.

Kali ini dua buah ember yang berisi air telah diletakkan di atas sebuah meja. Adu kekuatan kali ini adalah membalik ember tersebut tanpa menumpahkan isinya. Sang datu pun terlebih dahulu maju, dengan tenang ia pun membalik ember berisi air itu tanpa menumpahkan airnya sedikitpun. Tiba giliran Khatib Sulaiman untuk melakukan hal yang sama dengan terlebih dahulu meminta izin kepada sang raja. Dengan mengucapkan basmalah, ia pun dapat melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh sang Datu, bahkan ia dapat membelah air yang telah berbentuk cetakan itu dengan hati-hati. Melihat kejadian itu, sang Datu kembali maju dan melakukan hal yang sama.

Adu kekuatan diantara keduanya terus berlangsung dan seperi biasa diantara keduanya tidak ada yang kalah dan menang sampai matahari telah berada di atas kepala. Pertarungan pun dihentikan sejenak, ketiga Khatib itupun mengambil air wudhu dan melakukan shalat seraya berdoa memohon petunuk kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah melaksanakan shalat, Khatib Sulaiman menghampiri Datu Pattiware dan mengatakan kalau kekuatan mereka seimbang, diantara mereka tidak ada yang menang maupun kalah. Sang Datu pun bertanya, hal apa lagi yang bisa membuat ia percaya dan memeluk agama Islam?

Lantas sang khatib meminjam cincin raja Pattiware, ia lalu menuju dermaga sambil membawa cincin tersebut diikuti oleh raja dan masyarakat. Setibanya di dermaga, ia lalu melemparkan cincin tersebut dengan sekuat tenaga, wajah raja pun memerah namun Khatib Sulaiman mampu meredam kemarahan sang raja dan masyarakat. Sang Khatib lalu mengatakan kepada sang raja kalau cincin yang kini berada di laut insya Allah akan kembali dalam waktu satu purnama atau bahkan bisa lebih cepat.

Mendengar ucapan sang Khatib, Datu Pattiware benar-benar bingung, hal yang dialakukan oleh sang Khatib kali ini benar-benar tak sanggup dicerna oleh nalarnya. Ia lalu berkata kalau cincin itu benar-benar kembali, maka ia dan seluruh rakyat Luwu akan memeluk dan menjadikan Islam sebagai agama kerajaan, kalau tidak kepala mereka akan dipenggal karena telah berbuat lancang. Ketiganya kemudian ditahan sampai cincin itu kembali.

Waktu terus berlalu, hingga tiba-tiba ada laporan bahwa cincin itu telah kembali dan berada dalam perut ikan yang besar. Lantas sang raja pun pergi ke dapur kerajaan untuk melihat kejadian itu. Ia sungguh tidak menyangka kalau cincinnya yang pernah dibuang Khatib Sulaiman telah kembali dan berada di dalam perut ikan. Sang raja lalu menanyakan darimana ikan itu di dapat oleh sang juru masak.

Sang juru masak mengatakan kalau tadi pagi ada seorang nelayan yang memberikan ikan tersebut kepada raja sebagai ungkapan syukur karena hasil tangkapannya banyak.

Sang Raja lalu memanggil ketiga Khatib yang ditahan tersebut dan mengatakan kesediaannya untuk memeluk agama yang mereka bawa seperti janji yang telah ia katakan sebelumnya. Ketiga khatib tersebut sujud syukur karena telah melalui tantangan terbesar dalam mengislamkan jazirah Sulawesi.

Setelah mendapat izin dari raja, ketiganya lalu berangkat mengislamkan daerah lain di jazirah Sulawesi. Setelah melaksanakan tugasnya, Khatib Sulaiman kembali ke Tana Luwu dan menetap hingga akhir hayatnya dan diberi gelar Dato’ Pattimang karena ia dikuburkan di desa Pattimang, sedangkan Khatib Bungsu menetap di Bulukumba dan diberi gelar Dato’ ri Tiro dan Khatib Tunggal menetap di kerajaan Gowa dan Tallo dan diberi gelar Dato’ ri Bandang.

DAFTAR PUSTAKA

Beni Sjamsuddin Toni (Admin Wija To Luwu)
Disadur dari berbagai sumber















BAB II

PEMBAHASAN

 

A.SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI BEBERAPA KOTA DI SULAWESI


Makasar-Bugis
Dapat dipastikan bahwa pada tahun 1600 M, suku Makasar dan suku Bugis telah memeluk agama Isla, Suku Bugis dan suku Makasar ialah yang bertempat tinggal di bagian Selatan Barat Pulau Sulawesi. Orang-orang Bugis dan Makasar merupakan yang lebih maju dan terdiri dari pedagang yang kaya. Di samping itu, mereka terkenal sebagai pelaut yang ulung.

Bersamaan dengan masuknya Islam ke Sulawesi Selatan ini, orang Portugis datang pula ke sana sambil menyiarkan agama Kristen. Saling berebut pengaruh antara Islam dan Kristen, namun penduduk asli Bugis dan Makasar masuk ke dalam Islam.

Alifuru-Minahasa
Penduduk di Alifuru banyak yang menganut kepercayaan animisme. Kehidupan mereka masih agak terbelakang. Suku Alifuru merupakan masyarakat penduduk di bagian Utara kepulauan Sulawesi. Begitu pula orang Minahasa kebanyakan mereka menganut agama Katolik yang dibawa orang Portugis. Pemerintah Portugis melarang orang Islam menyiarkan agama di kalangan oraang Alifuru dan orang Minahasa. Setelah Portugis digantikan oleh penjajah Belanda, mereka mengizinkan berdakwah Islam di sana dengan dibatasi boleh hanya bagi orang pribumi di sana.

Pada jaman penjajahan Belanda, penganut Katolik banyak yang pindah kepada Protestan. Karena mendapat hambatan dan dipersulit oleh penjajah maka perkembagan penyebaran Islam di kalangan penduduk di Sulawesi bagian Utara itu tidaklah sesubur seperti di Sulawesi bagian Selatan.


Gowa
Berita tentang agama Islam yang dianut oleh suku Makasar telah menjadi pembicaraan di kalangan orang-orang Gowa. Mereka telah mendengar betapa indahnya pemujaan orang Islam terhadap Tuhan di waktu mengerjakan shalat. Di samping itu, sampai pula kepada mereka berita tentang kegiatan orang Kristen mengembangkan agama mereka yang dibantu dan ditunjang oleh orang Portugis.

Orang Gowa mengirimkan utusan ke Aceh meminta bantuan tenaga guru yang dapat mengajar dan menjelaskan tentang agama Islam bagi orang-orang Gowa. Tidak berapa lama datanglah serombongan mubaligh dari Aceh untuk mengIslamkan orang Gowa. Kemudian missionaris Kristen pun berusaha menyiarkan agama Kristen dengan jalan menjelek-jelekkan agama Islam. Penyiaran agama Islam di Gowa dimulai pada abad 17. Orang Gowa masuk Islam dan menjadi penganut Islam yang baik.

Bone
Raja Gowa telah memeluk agama Islam beserta rakyatnya, sedangkan raja Bone belum Islam. Raja Gowa beserta rakyatnya dengan semangat beragama yang menyala-nyala ingin menyebarkan agamanya ke daerah lain. Pada suatu waktu terjadi suatu perselisihan antara raja Gowa dengan raja Bone. Raja Gowa menyampaikan kepada raja Bone bahwa dia dipandang tidak setaraf dengan raja Gowa, kecuali kalau dia bersama rakyatnya masuk Islam dan mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu disampaikan oleh raja Bone kepada rakyatnya dan menurut rakyat Bone belum dapat mengakui kekalahan karena mereka belum pernah berperang.
Kemudian terjadi peperangan antara Gowa dan Bone. Gowa dapat mengalahkan kerajaan Bone. Dengan demikian raja Bone bersama rakyatnya masuk Islam. Bone diakui ibertaraf sama dengan kerajaan Gowa bersaudara karena seagama.

Tallo
Di sebelah Utara Gowa terletak daerah Tallo. Penyiar agama Islam di daerah Tallo tercatat seorang mubaligh yang bernama Khotib Tunggal pada tahun 1603 M.

Pengikut Khotib Tunggal ada dua macam, ada golongan yang benar-benar beriman dan mengharapkan kerajaan agama Islam dan sebagian lain mencari keuntungan keduniaan.












BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang.
Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka.
Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

B.       Perumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah masuknya Awal Islam Sulawesi
2.      Bagaimana Kerajaan Islam di Sulawesi
3.      Bagaimana Peninggalan sejarah islam di Sulawesi
4.      Bagaimana Kedatangan  Orang Melayu di Tanah Bugis Makassar

C.      Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui Sejarah masuknya Awal Islam Sulawesi
2.      Untuk mengetahui Kerajaan Islam di Sulawesi
3.      Untuk Mengetahui Peninggalan sejarah islam di Sulawesi
4.      Untuk mengetahui Bagaimana Kedatangan  Orang Melayu di Tanah Bugis Makassar



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Awal Islam Sulawesi
Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi. Menurut catatan company dagang Portugis yang datang pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah bisa ditemui pemukiman Muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu besar, namun jalan dakwah terus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa yang beribu negeri di Makassar.
Raja Goa pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Alaidin al Awwal dan Perdana Menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa pada tahun 1603. Sebelumnya, dakwah Islam telah sampai pula pada ayahanda Sultan Alaidin yang bernama Tonigallo dari Sultan Ternate yang lebih dulu memeluk Islam. Namun Tonigallo khawatir jika ia memeluk Islam, ia merasa kerajaannya akan di bawah pengaruh kerajaan Ternate.
Beberapa ulama Kerajaan Goa di masa Sultan Alaidin begitu terkenal karena pemahaman dan aktivitas dakwah mereka. Mereka adalah Khatib Tunggal, Datuk ri Bandang, datuk Patimang dan Datuk ri Tiro. Dapat diketahui dan dilacak dari nama para ulama di atas, yang bergelar datuk-datuk adalah para ulama dan mubaligh asal Minangkabau yang menyebarkan Islam ke Makassar.
Pusat-pusat dakwah yang dibangun oleh Kerajaan Goa inilah yang melanjutkan perjalanan ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bugis, Wajo Sopeng, Sidenreng, Tanette, Luwu dan Paloppo.



B.       Kerajaan Islam di Sulawesi
Pada abad ke 15 di Sulawesi berdiri beberapa kerajaan, diantaranya dari suku bangsa Makasar (Gowa dan Tallo) dan Bugis (Luwu, Bone, Soppeng dan Wajo). 2 kerajaan yang memiliki hubungan baik yaitu kerajaan Gowa dan Tallo. Ibu kota kerajaannya adalah Gowa yang sekarang menjadi Makasar. Kerajaan ini pada abad ke 16 sudah menjadi daerah islam. Masuk dan berkembangnya Islam di Makasar atas juga datuk Ribandang (Ulama adat Minangkabau). Secara resmi kerajaan Gowa Islam berdiri pada tahun 1605 M.
Raja-raja yang terkenal diantaranya :
1.    Sultan Alaudin (1605-1639 M) raja pertama Islam di Gowa-Tallo. Kerajaan ini adalah negara maritim yang terkenal dengan perahu-perahu layarnya dengan jenis Pinisi dan lImbo. Pada masa Sultan Alaudin berkuasa, Islam mengalami perkembangan pesat yang daerah kekuasaannya hampir mencakup seluruh daerah Sulawesi. Ia wafat pada tahun 1939 M, setelah menjadi raja selama 34 tahun dan digantikan putranya yang bernama Muhammad Said.
2.    Muhammad Said (1639-1653 M). Raja ini berkuasa selama 14 tahun.
3.    Sultan hasanuddin (1653-1669 M). Sultan ini sebagai pengganti dari Muhammad Saed. Pada masa Sultan hasanuddin berkuasa, Gowa – Tallo mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya sampai ke pulau Selayar, Butung, Sumbawa dan Lombok. Ia berkuasa selama 16 Tahun.

C.      Peninggalan sejarah islam di Sulawesi
1.      Batu Pelantikan Raja (Batu Pallantikang)
Batu petantikan raja (hatu pallantikang) terletak di sebelah tenggara kompleks makam Tamalate. Dahulu, setiap penguasa baru Gowa-Tallo di sumpah di atas batu ini (Wolhof dan Abdurrahim, tt : 67). Batu pallantikang sesungguhnya merupakan batu alami tanpa pem¬bentukan, terdiri dari satu batu andesit yang diapit 2 batu kapur. Batu andesit merupakan pusat pemujaan yang tetap disakralkan masyarakat sampai sekarang. Pe-mujaan penduduk terhadap ditandai dengan banyaknya sajian di atas batu ini. Mereka meyakini bahwa batu tersebut adalah batu dewa dari kayangan yang bertuah

2.      Mesjid Katangka
Mesjid Katangka didirikan pada tahun 1605 M. Sejak berdirinya telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran itu berturut-turut dilakukan oleh: [a] Sultan Mahmud (1818); [b] Kadi Ibrahim (1921); [c] Haji Mansur Daeng Limpo, Kadi Gowa (1948); dan [d] Andi Baso, Pabbicarabutta GoWa (1962) sangat sulit meng¬identifikasi bagian paling awal (asli) bangunan mesjid tertua Kerajaan Gowa ini.
Yang masih menarik adalah ukuran tebal tembok kurang lebih 90 cm, hiasan sulur-suluran dan bentuk mimbar yang terbuat dari kayu menyerupai singgasana dengan sandaran tangan. Hiasan makhuk di samarkan agar tidak tampak realistik. Pada ruang tengah terdapat empat tiang soko guru yang mendukung konstruksi bertingkat di atasnya. Mimbar dipasang permanen dan diplaster. Pada pintu masuk dan mihrab terdapat tulisan Arab dalam babasa Makassar yang menyebutkan pemugaran yang dilakukan Karaeng Katangka pada tahun 1300 Hijriah.

3.      Makam Syekh Yusuf
Kompleks makam ini terletak pada dataran rendah Lakiung di sebelah barat Mésjid Katangka. Di dalam kompleks ini terdapat 4 buah cungkup dan sejumlah makam biasa. Makam Syekh Yusuf terdapat di dalam cungkup terbesar, berbentuk bujur sangkar Pintu masuk terletak di sisi Selatan. Puncak cungkup berhias keramik. Makam ini merupakan makam kedua. Ketika wafat di pengasingan, Kaap, tanggal 23 Mei 1699, beliau di¬makamkan untuk pertama kalinya di Faure, Afrika Selatan. Raja Gowa meminta kepada pemerintah Belanda agar jasad Syekh Yusuf dipulangkan dan dimakamkan di Gowa. Lima tahun sesudah wafat (1704) baru per¬mintaan tersebut dikabulkan. Jasadnya dibawa pulang bersama keluarga dengan kapal de Spiegel yang berlayar langsung dan Kaap ke Gowa. Pada tanggal 6 April 1705, tulang kerangka Syekh Yusuf dimakamkan dengan upacara adat pemakaman bangsawan di Lakiung. Di atas makamnya dibangun kubah yang disebut kobbanga oleh orang Makassar.
Makam Syekh Yusuf mempunyai dua nisan tipe Makassar, terbuat dari batu alam yang permukaannya sangat mengkilap. Hal ini dapat terjadi karena para peziarah selalu menyiramnya dengan minyak kelapa atau semacamnya. Sampai sekarang peziarah masih sangat ramai mengunjungi tokoh ulama (panrita)dan intelektual (tulnangngasseng) yang banyak berperan dalam perkembangan dan kejayaan kerajaan Gowa-Tallo abad pertengahan.
Dalam lontarak "Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa7, Syekh Yusuf dianggap Nabi Kaidir (Abu Hamid, 1994: 85). la tokoh yang memiliki keistimewaan, seperti berjalan tanpa berpijak di tanah. Dalam usia belia ia sudah tamat mempelajari kitab fiqih dan tauhid. Guru tarekat Naqsabandiayah, Syattariyah, Ba'alaniiyah, dan Qa¬driyah. Wawasan sufistiknya tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fanzuri yang me-ngembangkan ajaran Wujudiyah dan Syekh Nuruddin ar-Raniri.
4.      Benteng Tallo
Benteng Tallo terletak di muara sungai Tallo. Benteng dibangun dengan menggunakan bahan batu bata, batu padas/batu pasir, dan batu kurang. Luas benteng diper¬kirakan 2 kilometer Bardasarkan temuan fondasi dan susunan benteng yang masih tersisa, tebal dinding benteng diperkirakan mencapai 260 cm.

Akibat perjanjian Bongaya (1667) benteng dihancurkan. Sekarang, sisa-sisa benteng dan bekas aktivitas berserakan. Beberapa bekas fondasi, sudut benteng (bas¬tion) dan batu merah yang tersisa sering dimanfaatkan penduduk untuk berbagai keperluan darurat, sehingga tidak tampak lagi bentuk aslinya. Fondasi itu mengelilingi pemukiman dan makam raja-raja Tallo.



D.      Kedatangan  Orang Melayu di Tanah Bugis Makassar
Bardasarkan sumber-sumber yang telah ditemukan, dapat dikatakan bahwa  gelombang  emigran  orang-orang Bugis Makassar  ke Semenangjung Melayu melalui tiga priode. , Pertama  berlangsung pada masa  sebelum  kawasan Sulawesi Selatan memasuki  proses Islamisasi. Mereka itu sudah tersebar di berbagai tempat semenangjung  Sumatra, Malaka dan Kalimantan yang menghubungkan kawasan-kawasan itu dengan rute  perdagangan dengan Pusat Melaka, Kelompok Bugis pada masa itu belum membentuk dirinya dalam suatu kekuatan militer, mereka umumnya masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil  sebagai pedagang antar pulau dan sebagai nelayan. Itulah sebabnya mereka pada umumnya tinggal di kawasan pantai  mereka dapat dikatakan kelompok  the sea men atau orang laut.
Gelombang  kedua terjadi padamasa proses Islamisasi  sedang berlangsung di Sulawesi Selatan. Masa berlangsung Islamisasi itu berkaitan erat  dengan gerakan politik yang si lancarkan Kerajaan Gowa  dan sekutu-sekutunya untuk menundukkan  kwasan-kawasan yang belum masuk Islam  dan sampai Islam diterima masyarakat setempat  konflik politik juga masih berlangsung.
Gelombang ketiga berlangsung setelah  kerajaan Gowa dan Wajo jatuh di tangan VOC . Masa inilah merupakan periode yang paling  banyak terjadi perpindahan orang-orang Bugis Makassar kesemenagjung Melayu.  Perpindahan yang terjadi dalam gelombang ini  berbentuk kelompok yang besar . Mereka tidak saja terdiri dari  masyarakat lapisan bawah  tatapi apat dikatakan terdiri dari  smua lapisan sosial
Dari ketiga gelombang yang disebutkan di atas,  gelombang terkhir inilah yang paling menarik,  masalahnya adalah karena faktor pemindahan  berkaitan erat dengan  akibat langsung peperangan  yang terjadi di kawasan Sulawesi Selatan. Orang-orang Bugis Makassar  yang termasuk ke dalam  gelombang yang terakhir ini  dipimpin langsung oleh kelompok bangsawan. Dengan sisa-sisa kekuatan militer  dan kekayaan yang mereka miliki  kelompok bangsawan ini mengikuti pengikut pengikutnya  atau rakyat yang meninggalkan  kampung halamannya untuk merantau dengan tujuan  utamanya untuk melanjutkan  perjuangan melawan kekuasaan Belanda.Perjuangan dalam melawan kekuasaan Belanda  itu dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan melakukan gangguan pada rute perdagangan atau  pelayaran Belanda di Selat Makassar, pantai Ambon dan di Selat Malaka  pantau Kaliman tan yang starategis dan Kepulauan Riau. Tindakan mereka dikaitkan dengan  “bajak laut”
Sejak kedatangan orang-orang Melayu di kerajaan Makassar (Kerajaan Gowa) peranannya tidak hanya dalam perdagangan dan penyebaran agama, tetapi juga dalam kegiatan sosial budaya. Peranan orang-orang Melayu di Kerajaan  Gowa misalnya, menyebabkan Raja Gowa ke XII, Mangarai Daeng Pamatte Karaeng Tunijallo membangun sebuah Mesjid di Kampung Mangallekana untuk kepentingan para saudagar Melayu agar mereka betah tinggal di Makassar, sekalipun ia sendiri belum beragama Islam. Adanya perkampungan para saudagara Melayu itu  membuat struktur kekuasaan Kerajaan Gowa  dibantu juga oleh orang-orang Melayu dan  memegang peranan penting di Istana Kerajaan Gowa. Hal itu dapat ditemukan dalam untaian kalimat  sebagai berikut:
‘Kamilah orang-orang Melayu yang mengajar anak negeri duduk berhadap hadapan dalam pertemuan adat, mengajar menggunakan keris panjang yang disebut tatarapang, tata cara berpakaian dan berbagai hiasan untuk para anak bangsawan
Dalam periode tahun .1546-1565 pada masa raja Gowa ke 10, seorang keturunan Melayu berdarah campuran Bajo yang amat terkemuka bernama I Mangambari Kare Mangaweang, yang juga dikenal dengan nama I Daeng Ri Mangallekana diangkat sebagai sahbandar ke II Kerajaan Gowa, sejak saat itu secara turun temurun jabatan Sahbandar berturut-turut dipegang oleh orang Melayu sampai dengan Sahbandar Ince Husein, Sahbandar terakhir th 1669 ketika kerajaan Gowa mengalami kekalahan perang melawan VOC.
           Jabatan penting lainnya ialah juru tulis istana dijabat pula oleh orang-orang Melayu Incik Amin, juru tulis istana di zaman Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI (1653-1669) adalah juru tulis istana yang terakhir dan amat terkenal di zaman kebesaran Kerajaan Gowa. Sebuah karya tulisnya yang amat indah berjudul : Syair Perang Makassar” mengisahkan saat-saat terakhir kerajaan Gowa tahun 1669.
Salah satu sumbangan utama orang-orang Melayu di Indonesia Timur, khususnya di Sulawesi ialah upayanya dalam menyebarkan Agama Islam dan penyebaran  dan penyebaran Kebudayaan Melayu di Sulawesi. Pada tahun 1632 Rombongan Migran Melayu dari Patani tiba di Makassar. Rombongan besar ini dipimpin oleh seorang bangsawan Melayu dari Patani bernama Datuk Maharajalela  Turut serta dengannya kemanakannya suami istri yang bergelar
Datuk Paduka Raja bersama istrinya yang bergelar Putri Senapati, Raja Gowa memberinya tempat di sebelah selatan Somba Opu, Ibu Kota Kerajaan Gowa, karena disana telah berdiri Perkampungan Melayu asal Patani. Sejak saat itu Salajo diganti menjadi kampung Patani, hingga sekarang.

DAFTRAR PUSTAKA

Drs. Suwardi. 2006. LKS Merpati. Karanganyar : Graha Multi Grafika.
Siti Waridah Q, Dra. 2001. Sejarah Nasional dan Umum. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Nico Thamiend R.M.P.B. Manus. 2000. Sejarah. Jakarta : Yudhistira.

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Sejarah ini dapat terselesaikan.
Dengan mempelajari sejarah, manusia akan memperoleh banyak manfaat sehingga menjadi lebih arif dan bijak. Oleh karena itu, sejarah harus disusun secara jujur, obyektif, dan tidak direkayasa.
Dalam makalah disebutkan bahwa tujuan pelajaran sejarah nasional dan umum dimaksudkan untuk menanamkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat masa lampau hingga masa kini, menumbuhkan rasa kebangsaan, cinta tanah air, bangga sebagai warna negara Indonesia, serta memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa.
Makalah ini dimaksudkan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dari berbagai lapisan dalam mendalami, memahami sejarah nasional dan umum.
Kami sampaikan ucapan terima kasih kepada guru pembimbing dan semua pihak yang telah membantu, sehingga makalah sejarah ini dapat terselesaikan dan dimanfaatkan.
Kami juga menyadari atas kekurangsempurnaan makalah ini. Suatu kehormatan apabila para pembaca yang budiman memberi masukan yang membangun. Terima kasih.


Pengakalan,    Nopember 2012


Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B.  Perumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
A.  Sejarah Awal Islam Sulawesi
B.  Kerajaan Islam di Sulawesi
C.   Peninggalan sejarah islam di Sulawesi
D.  Kedatangan  Orang Melayu di Tanah Bugis Makassar

DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan Islam di Sulawesi menarik untuk dibahas, karena akan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas. Dengan membahas proses masuk dan berkembangnya Islam di Sulawesi kita dapat mengetahui kerajaan-kerajaan dan raja yang berpengaruh terhadap perkembangan Islam, tradisi dan bukti perkembangan Islam di Sulawesi, beserta cara agama Islam masuk ke Sulawesi. Perkembangan agama Islam di Sulawesi tidak sepesat perkembangan agama Islam di Jawa dan Sumatera. Sebab pertentangan Islam terhadap kerajaan yang belum menganut agama Islam dilakukan demi kepentingan politik. Bersamaan dengan perkembangan agama Islam maka berdirilah kerajaan Islam di Indonesia yaitu Demak, Pajang, Mataram, Banten, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. 
Pada dasarnya secara geografis dan kondisi alam wilayah Sulawesi lebih bersahabat dibandingkan wilayah Klaimantan, karena wilayah Sulawesi hampir sama seperti kondisi Jawa. Meskipun hubungan antar suku di wilayah Sulawesi kurang harmonis, namun dakwah tetap berkembang baik di wilayah Sulawesi Selatan. Kubu yang terkadang bertentangan adalah Bosowa atau Bone Soppeng, Wajo dengan suku Makasar. Perkembangan Islam di wilayah Sulawesi selain Sulawesi Selatan seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara masih perlu ditingkatkan.

B.Rumusan Masalah
saDari latar belakang yang disebutkan di atas, dapatlah ditetapkan rumusan masal
sebagai berikut:
1. Bagaimana keadaan masyarakat Sulawesi sebelum dan sesudah datangnya Islam?
2.Bagaimana proses masuknya Islam di Sulawesi?
3Apa saja bukti-bukti peninggalan sejarah Islam di Sulawesi?
C.Pendekatan yang dilakukan
Jenis pendekatan  yang digunakan adalah :
·         Pendekatan Historis
Pendekatan historis merupakan pendekatan yang dilakukan melalui sisi sejarahnya. Pendekatan historis dalam  makalah ini melihat bagaimana Islam masuk di daerah Sulawesi. Dan proses perkembangannya.
·         Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan feonomenoligis merupakan pendekatan yang dilakukan dengan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.
D.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui keadaan  masyarakat Sulawesi sebelum dan sesudah datangnya Islam.
2.      Untuk mengetahui proses masuknya Islam di Sulawesi.
3.      Untuk mengetahui bukti-bukti peninggalan sejarah Islam di Sulawesi.   
E.       Kegunaan
Ø  Makalah ini diharapkan mampu menambah bahan mata kuliah bagi mahasiswa Ushuludin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam khususnya mahasiswa jurusan Perbandingan Agama.
Ø  Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi mahasiswa tentang masuk dan berkembangnya Islam di Sulawesi.
Ø  Makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi  mahasiswa khususnya dalam mata kuliah Sejarah Islam Indonesia.
F.    Kajian Pustaka
Tulisan ini dihadirkan dengan sedikit berbeda dari tulisan yang lain. Dalam tulisan lain hanya berfokus pada awal masuknya saja. Namun dalam hal ini ditambahkan beberapa peninggalan sejarah.
Metode yang dilakukan dalam menyusun makalah ini adalah dengan metode Librarian Research (Penelitian Perpustakaan). Hal ini dimungkinkan karena menyangkut sejarah. Persamaan tulisan ini dengan tulisan lain adalah mengenai awal dan berkembangnya Islam di Sulawesi.
Posisi pemakalah dalam tulisan ini adalah sebagai peneliti dengan mengangkat tema sejarah. Tulisan ini hadir berdasarkan perbedaan dengan penulis lain. Namun ada juga hal baru. Sehingga diharapkan mampu menyempurnakan tulisan yang lain.
G.   Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri atas lima bab, yaitu:
BAB  I: PENDAHULUAN
-          Latar Belakang Masalah
-          Rumusan Masalah
-          Pendekatan yang Dilakukan
-          Tujuan
-          Kegunaan
-          Kajian Pustaka
-          Sistematika Penulisan
BAB II: KEADAAN MASYARAKAT SULAWESI SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA  ISLAM
-          Keadaan masyarakat Bone
-          Keadaan masyarakat Buton
BAB III: PROSES MASUKNYA ISLAM
-          Proses masuknya Islam di Bone
-          Proses masuknya Islam di Buton
BAB IV: BUKTI-BUKTI PENINGGALAN SEJARAH ISLAM DI SULAWESI
Bukti-bukti peninggalan sejarah islam yang ada di Sulawesi diantaranya adalah masjid Hila, batu karang berbentuk bukit karang kecil di tengah pantai Semboang, obyek tinggalan arkeologi Islam yang berada di kota Manado dan lainnya.
BAB V: PENUTUP
-          Kesimpulan
-          Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA



BAB II
KEADAAN MASYARAKAT SULAWESI SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM
a.    Keadaan Masyarakat Sulawesi sebelum hadirnya Islam
Kronologis keberadaan Islam sebagai bukti sejarah, Islam di Sulsel masih  membutuhkan pengkajian yang mendalam supaya sejarahnya lebih objektif.  Kehadiran budaya Islam pertama kali di Kerajaan Gowa jauh sebelum diterimanya  agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. Agama Islam dibawa oleh para  pedagang Muslim dari Arab, Parsia, India, Cina, dan Melayu ke Ibu Kota Kerajaan Gow, Somba Opu.

Di Mangallekana
Pada abad ke-15, yaitu pada masa pemerintahan Raja Gowa ke- 12 bernama I Monggorai Dg Mammeta Karaeng Bonto Langkasa Tunijallo (1565-1590) dialah yang memberikan fasilitas bagi para pedagang-pedagang Muslim untuk bermukim di sekitar istana kerajaan. Para pedagang juga diberi kemudahan untuk mendirikan masjid di Kampung Mangallekana. Ini merupakan masjid tertua yang pernah berdiri di Sulsel.

Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi. Menurut catatan company dagang Portugis yang datang pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah bisa ditemui pemukiman Muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu besar, namun jalan dakwah terus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa yang beribu negeri di Makassar.
Beberapa ulama Kerajaan Goa di masa Sultan Alaidin begitu terkenal karena pemahaman dan aktivitas dakwah mereka. Mereka adalah Khatib Tunggal, Datuk ri Bandang, datuk Patimang dan Datuk ri Tiro. Dapat diketahui dan dilacak dari nama para ulama di atas, yang bergelar datuk-datuk adalah para ulama dan mubaligh asal Minangkabau yang menyebarkan Islam ke Makassar.
Pusat-pusat dakwah yang dibangun oleh Kerajaan Goa inilah yang melanjutkan perjalanan ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bugis, Wajo Sopeng, Sidenreng, Tanette, Luwu dan Paloppo.
Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang dikuasai oleh satu wangsa Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka. Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17.
Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan saudaranya
Memerintah pada awal abad ke-16, di Kerajaan Gowa bertakhta Karaeng (Penguasa) Gowa ke-9, bernama Tumapa'risi' Kallonna. Pada masa itu salah seorang penjelajah Portugis berkomentar bahwa "daerah yang disebut Makassar sangatlah kecil". Dengan melakukan perombakan besar-besaran di kerajaan, Tumapa'risi' Kallonna mengubah daerah Makassar dari sebuah konfederasi antar-komunitas yang longgar menjadi sebuah negara kesatuan Gowa. Dia juga mengatur penyatuan Gowa dan Tallo kemudian merekatkannya dengan sebuah sumpah yang menyatakan bahwa apa saja yang mencoba membuat mereka saling melawan (ampasiewai) akan mendapat hukuman Dewata. Sebuah perundang-undangan dan aturan-aturan peperangan dibuat, dan sebuah sistem pengumpulan pajak dan bea dilembagakan di bawah seorang syahbandar untuk mendanai kerajaan. Begitu dikenangnya raja ini sehingga dalam cerita pendahulu Gowa, masa pemerintahannya dipuji sebagai sebuah masa ketika panen bagus dan penangkapan ikan banyak.
Dalam sejumlah penyerangan militer yang sukses penguasa Gowa ini mengalahkan negara tetangganya, termasuk Siang dan menciptakan sebuah pola ambisi imperial yang kemudian berusaha ditandingi oleh penguasa-penguasa setelahnya di abadl ke-16 dan ke-17. Kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan oleh Tumapa'risi' Kallonna diantaranya adalah Kerajaan Siang, serta Kerajaan Bone, walaupun ada yang menyebutkan bahwa Bone ditaklukkan oleh Tunipalangga.
Kesultanan Buton terletak di Pulau Buton Propinsi Sulawesi tenggara, di bagian tenggara Pulau Sulawesi . Pada zaman dahulu memiliki kerajaan sendiri yang bernama kerajaan Buton dan berubah menjadi bentuk kesultanan yang dikenal dengan nama Kesultanan Buton. Nama Pulau buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit, Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton.
Mpu Prapanca juga menyebut nama Pulau Buton di dalam bukunya, Negara Kartagama. Sejarah yang umum diketahui orang, bahwa Kerajaan Bone di Sulawesi lebih dulu menerima agama Islam yang dibawa oleh Datuk ri Bandang yang berasal dari Minangkabau sekitar tahun 1605 M. Sebenarnya Sayid Jamaluddin al-Kubra lebih dulu sampai di Pulau Buton, yaitu pada tahun 815 H/1412 M. Ulama tersebut diundang oleh Raja Mulae Sangia i-Gola dan baginda langsung memeluk agama Islam. Lebih kurang seratus tahun kemudian, dilanjutkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang dikatakan datang dari Johor. Ia berhasil mengislamkan Raja Buton yang ke-6 sekitar tahun 948 H/ 1538 M.
Riwayat lain mengatakan tahun 1564 M. Walau bagaimana pun masih banyak pertikaian pendapat mengenai tahun kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton. Dalam masa yang sama dengan kedatangan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al- Fathani, diriwayatkan bahwa di Callasusung (Kalensusu), salah sebuah daerah kekuasaan Kerajaan Buton, didapati semua penduduknya beragama Islam.
Selain pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Johor, ada pula pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Ternate. Dipercayai orang-orang Melayu dari berbagai daerah telah lama sampai di Pulau Buton. Mengenainya dapat dibuktikan bahwa walau pun Bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton ialah bahasa Wolio, namun dalam masa yang sama digunakan Bahasa Melayu, terutama bahasa Melayu yang dipakai di Malaka, Johor dan Patani. Orang-orang Melayu tinggal di Pulau Buton, sebaliknya orang-orang Buton pula termasuk kaum yang pandai belayar seperti orang Bugis juga.
Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Kerajaan Buton secara resminya menjadi sebuah kerajaan Islam pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6, iaitu Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo. Bagindalah yang diislamkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor. Menurut beberapa riwayat bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara (Nusa Tenggara Timur). Kemudian beliau sekeluarga berhijrah pula ke Pulau Batu atas yang termasuk dalam pemerintahan Buton.
Di Pulau Batu atas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). Imam Pasai menganjurkan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton, menghadap Raja Buton. Syeikh Abdul Wahid setuju dengan anjuran yang baik itu. Setelah Raja Buton memeluk Islam, Baginda langsung ditabalkan menjadi Sultan Buton oleh Syeikh Abdul Wahid pada tahun 948 H/1538 M.
Walau bagaimanapun. Mengenai tahun tersebut, masih dipertikaikan karena daripada sumber yang lain disebutkan bahawa Syeikh Abdul Wahid merantau dari Patani-Johor ke Buton pada tahun 1564 M. Sultan Halu Oleo dianggap sebagai Sultan Buton pertama, bergelar Sultan atau Ulil Amri dan menggunakan gelar yang khusus iaitu Sultan Qaimuddin. Maksud perkataan ini ialah Kuasa Pendiri Agama Islam.
Dalam riwayat yang lain menyebut bahawa yang melantik Sultan Buton yang pertama memeluk Islam, bukan Syeikh Abdul Wahid tetapi guru beliau yang sengaja didatangkan dari Patani. Raja Halu Oleo setelah ditabalkan sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, dinamakan Sultan Murhum.
Ketika diadakan Simposium Pernaskahan Nusantara Internasional IV, 18 - 20 Julai 2000 di Pekan Baru, Riau, salah satu kertas kerja membicarakan beberapa aspek tentang Buton, yang dibentang oleh La Niampe, yang berasal dari Buton. Maklumat lain, kertas kerja Susanto Zuhdi berjudul Kabanti Kanturuna Mohelana Sebagai Sumber Sejarah Buton, menyebut bahawa Sultan Murhum, Sultan Buton yang pertama memerintah dalam lingkungan tahun 1491 M - 1537 M. Menurut Maia Papara Putra dalam bukunya, Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki Dalam Lembaga Kitabullah, bahawa ``Kesultanan Buton menegakkan syariat Islam ialah tahun 1538 Miladiyah.
Jika kita bandingkan tahun yang saya sebutkan (1564 M), dengan tahun yang disebutkan oleh La Niampe (948 H/1541 M) dan tahun yang disebutkan oleh Susanto Zuhdi (1537 M), bererti dalam tahun 948 H/1541 M dan tahun 1564 M, Sultan Murhum tidak menjadi Sultan Buton lagi kerana masa beliau telah berakhir pada tahun 1537 M. Setelah meninjau pelbagai aspek, nampaknya kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton dua kali (tahun 933 H/1526 M dan tahun 948 H/1541 M) yang diberikan oleh La Niampe adalah lebih meyakinkan.
Yang menarik pula untuk dibahas ialah keterangan La Niampe yang menyebut bahawa ``Kedatangan Syeikh Abdul Wahid yang kedua kali di Buton pada tahun 948 H/1541 M itu bersama Imam Fathani mengislamkan lingkungan Istana Buton, sekali gus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton yang pertama. Kampung Parit Murhum berdekatan dengan Kerisik, iaitu pusat seluruh aktiviti Kesultanan Fathani Darus Salam pada zaman dahulu. Semua yang tersebut itu sukar untuk dijawab. Apakah semuanya ini secara kebetulan saja atau pun memang telah terjalin sejarah antara Patani dan Buton sejak lama, yang memang belum diketahui oleh para penyelidik.
Namun walau bagaimanapun jauh sebelum ini telah ada orang yang menulis bahawa ada hubungan antara Patani dengan Ternate. Dan cukup terkenal legenda bahawa orang Buton sembahyang Jumaat di Ternate.
Jika kita bandingkan dengan semua sistem pemerintahan, sama ada yang bercorak Islam mahu pun sekular, terdapat perbezaan yang sangat ketara dengan pemerintahan Islam Buton. Kerajaan Islam Buton berdasarkan Martabat Tujuh. Daripada kenyataan ini dapat diambil kesimpulan bahawa kerajaan Islam Buton lebih mengutamakan ajaran tasawuf daripada ajaran yang bercorak zahiri. Walau bagaimanapun ajaran syariat tidak diabaikan.
Semua perundangan ditulis dalam bahasa Walio menggunakan huruf Arab, yang dinamakan Buru Wolio seperti kerajaan-kerajaan Melayu menggunakan bahasa Melayu tulisan Melayu/Jawi. Huruf dan bahasa tersebut selain digunakan untuk perundangan, juga digunakan dalam penulisan salasilah kesultanan, naskhah-naskhah dan lain-lain. Tulisan tersebut mulai tidak berfungsi lagi menjelang kemerdekaan Indonesia 1945.
Pemerintahan
Kerajaan Buton berdiri tahun 1332 M. Awal pemerintahan dipimpin seorang perempuan bergelar Ratu Wa Kaa Kaa. Kemudian raja kedua pun perempuan yaitu Ratu Bulawambona. Setelah dua raja perempuan, dilanjutkan raja Bataraguru, raja Tuarade, raja Rajamulae, dan terakhir raja Murhum. Ketika Buton memeluk agama Islam, maka raja Murhum bergelar Sultan Murhum.
Kerajaan Buton didirikan atas kesepakatan tiga kelompok atau rombongan yang datang secara bergelombang. Gelombang pertama berasal dari kerajaan Sriwijaya. Kelompok berikutnya berasal dari Kekaisaran Cina dan menetap di Buton. Kelompok ketiga berasal dari Kerajaan Majapahit. Sistem kekuasaan di Buton ini bisa dibilang menarik karena konsep kekuasaannya tidak serupa dengan konsep kekuasaan di kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Struktur kekuasaan kesultanan ditopang dua golongan bangsawan: golongan Kaomu dan Walaka. Wewenang pemilihan dan pengangkatan sultan berada di tangan golongan Walaka, namun yang menjadi sultan harus dari golongan Kaomu. Jadi bisa dikatakan kalau seorang raja dipilih bukan berdasarkan keturunan, tetapi berdasarkan pilihan di antara yang terbaik.
Kelompok Walaka yang merupakan keturunan dari Si Panjonga memiliki tugas untuk mengumpulkan bibit-bibit unggul untuk dilatih dan dididik sedemikian rupa sehingga para calon raja memiliki bekal yang cukup ketika berkuasa nanti. Berdasarkan penelitian, RatuWaa Kaa Kaa adalah proyek percobaan pertama kelompok Walaka ini Selain sistem pemilihan raja yang unik, sistem pemerintahannya juga bisa dikatakan lebih maju dari jamannya. Sistem pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton dibagi dalam tiga bentuk kekuasaan. Sara Pangka sebagai lembaga eksekutif, Sara Gau sebagai lembaga legislatif, dan Sara Bhitara sebagai lembaga yudikatif. Beberapa ahli berani melakukan klaim kalau sistem ini sudah muncul seratus tahun sebelum Montesquieu mencetuskan konsep trias politica Peraturan hukum diterapkan tanpa diskriminasi, berlaku sama bagi rakyat jelata hingga sultan. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya diganjar hukuman karena melanggar sumpah jabatan. Dan hukumannya termasuk hukuman mati majelis rakyat kesultanan buton adalah lambang demokrasi kesultanan buton. di sini dirumuskan berbagai program kesultanan dan juga tempat untuk melaksanakan proses pemilihan sultan berdasarkan aspirasi masyarakat Buton.
Politik
Masa pemerintahan Kerajaan Buton mengalami kemajuan terutama bidang Politik Pemerintahan dengan bertambah luasnya wilayah kerajaan serta mulai menjalin hubungan Politik dengan Kerajaan Majapahit, Luwu, Konawe dan Muna. Demikian juga bidang ekonomi mulai diberlakukan alat tukar dengan menggunakan uang yang disebut Kampua (terbuat dari kapas yang dipintal menjadi benang kemudian ditenun secara tradisional menjadi kain). Memasuki masa Pemerintahan Kesultanan juga terjadi perkembangan diberbagai aspek kehidupan antara lain bidang politik dan pemerintahan dengan ditetapkannya Undang-Undang Dasar Kesultanan Buton yaitu “Murtabat Tujuh” yang di dalamnya mengatur fungsi, tugas dan kedudukan perangkat kesultanan dalam melaksanakan pemerintahan serta ditetapkannya Sistem Desentralisasi (otonomi daerah) dengan membentuk 72 Kadie (Wilayah Kecil).
Masyarakat
Masyarakat Buton terdiri dari berbagai suku bangsa. Mereka mampu mengambil nilai-nilai yang menurut mereka baik untuk diformulasikan menjadi sebuah adat baru yang dilaksanakan di dalam pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton itu sendiri. Berbagai kelompok adat dan suku bangsa diakui di dalam masyarakat Buton. Berbagai kebudayaan tersebut diinkorporasikan ke dalam budaya mereka. Kelompok yang berasal dari Tiongkok diakui dalam adat mereka. Kelompok yang berasal dari Jawa juga diakui oleh masyarakat Buton. Di sana terdapat Desa Majapahit, dan dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa para penghuni desa tersebut memang berasal dari Majapahit. Mereka sampai di sana karena perdagangan rempah-rempah. Dengan membuat pemukiman di sana, mereka dapat mempermudah akses dalam memperolah dan memperdagangkan rempah-rempah ke pulau Jawa. Beberapa peninggalan mereka adalah berupa gamelan yang sangat mirip dengan gamelan yang terdapat di Jawa.
Imam-imam yang menjabat di dalam dewan agama juga dipercaya merupakan keturunan Arab. Mereka dengan pengetahuan agamanya diterima oleh masyarakat Buton dan dipercaya sebagai pemimpin di dalam bidang agama. Berbagai suku dan adat tersebut mampu bersatu secara baik di dalam kerajaan/kesultanan Buton. Apabila kita melihat kerajaan/kesultanan lain, perbedaan itu seringkali memunculkan konflik yang berujung kepada perang saudara, bahkan perang agama. Sedangkan di Buton sendiri tercatat tidak pernah terjadi perang antara satu kelompok dengan kelompok lain, terutama bila menyangkut masalah suku dan agama.
Dapat dikatakan bahwa seluruh golongan di buton merupakan pendatang. Mereka menerapkan sistem yang berdasarkan musyawarah. Para perumus sistem kekuasaan atau sistem adat di Buton juga berasal dari berbagai kelompok suku dan agama. Ada yang berasal dari semenanjung Malaysia, Si Tamanajo yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung. Ada pula yang berasal dari Jawa yaitu Sri Batara dan Raden Jutubun yang merupakan putra dari Jayanegara.
Seluruh golongan tersebut berasal dari kerajaan yang otoriter dan menerapkan sistem putera mahkota. Hampir semua peralihan kekuasaan tersebut dilakukan dengan kudeta. Di kerajaan Buton hal tersebut tidak pernah terjadi. Asumsinya, berdasarkan pengalaman pahit dalam jatuh-bangunnya pemerintahan tersebut, maka mereka yang berkumpul di tanah Buton tersebut merumuskan suatu sistem yang mampu melakukan peralihan kekuasaan tanpa harus melalui pahitnya kudeta maupun perang saudara.
Mereka berkumpul di tanah Buton sejak Gajah Mada mengumumkan sumpah palapa-nya. Pada masa itu Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Begitu juga Kerajaan Singosari. Seluruh raja-raja dan panglima yang tidak takluk pada Kerajaan Majapahit akan dijadikan budak. Pilihan mereka adalah dengan melarikan diri menuju tempat yang aman. Pulau Buton menjadi salah satu lokasi dimana beberapa pelarian tersebut singgah dan menetap.
Perekonomian
Pedagang dari India, Arab, Eropa maupun Cina lebih memilih untuk melalui jalur selatan Kalimantan untuk mencapai kepulauan rempah-rempah di Maluku. Bila melalui Utara Sulawesi dan selatan kepulauan Filipina, para pedagang akan berhadapan dengan bajak laut yang banyak berkeliaran di sana. Selain itu, angin di selatan Kalimantan lebih kencang daripada di sebelah utara Sulawesi. Masyarakat Buton telah menggunakan alat tukar uang yang disebut Kampua. Kampua Sehelai kain tenun dengan ukuran 17,5 kali 8 sentimeter. Pajak juga telah diterapkan di negeri ini. Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif).
Hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton, 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu di antaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli.
Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata (Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).
.
Kesultanan Bone atau sering pula dikenal dengan Kesultanan Bugis, merupakan kesultanan yang terletak di Sulawesi bagian barat daya atau tepatnya di daerah Provinsi Sulawesi Selatan sekarang ini. Menguasai areal sekitar 2600 km2.
Sejak berakhirnya kekuasaan Gowa, Bone menjadi penguasa utama di bawah pengaruh Belanda di Sulawesi Selatan dan sekitarnya pada tahun 1666. Bone berada di bawah kontrol Belanda sampai tahun 1814 ketika Inggris berkuasa sementara di daerah ini, tetapi dikembalikan lagi ke Belanda pada 1816 setelah perjanjian di Eropa akibat kejatuhan Napoleon Bonaparte.
Pengaruh Belanda ini kemudian menyebabkan meningkatnya perlawanan Bone terhadap Belanda, namun Belanda-pun mengirim sekian banyak ekspedisi untuk meredam perlawanan sampai akhirnya Bone menjadi bagian dari Indonesia pada saat proklamasi. Di Bone, para raja bergelar Arumponé.
BAB III
PROSES MASUKNYA ISLAM DI SULAWESI

A. Melalui Pedagang
Kalau kita melihat dari sumber sejarah, bahwa penyebaran Islam di
Indonesia khususnya di Sulsel dilakukan oleh parah saudagar Muslim yang
mengadakan kontak dagang antarpulau baik dengan pedagang dalam negeri maupun
dengan dagang antarnegara. Dapatlah dipahami bahwa yang mula-mula membawa agama
Islam ke Sulsel adalah pelaut-pelaut dari Arab, kemudian saudagar-saudagar
India, dan Iran. Selanjutnya Islam disiarkan oleh pedagang-pedagang dari Melayu
dan dari Jawa. Berdasarkan kajian sejarah Islam sudah berpengaruh di Jawa
sekitar tahun 1500-1550 M yaitu pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.
Pengaruh Islam semakin kuat setelah Malaka direbut oleh Portugis pada
tahun 1511 M. Setelah jatuhnya Malaka ketangan Portugis, semakin banyak
kerajaan Islam di Pulau Jawa dan sekitarnya. Kerajaan di pesisir pantai di
Pulau Jawa, Kalimantan, Sulsel dan Maluku mulai berinteraksi dengan
pedagang-pedagang Melayu yang beragama Islam. Berdirinya kerajaan-kerajaan di
pesisir Pulau Jawa sekitar tahun 1500-1550 M berlangsung secara bertahap dan
didahului oleh proses islamisasi yang berkesinambungan di kalangan masyarakat.

B. Pengaruh Tionghoa
Sebagaimana dicatat dalam sumber sejarah bahwa, Islam di Jawa juga
disiarkan oleh seorang pelancong Tionghoa Muslim bernama Ma Huan. Ma Huan yang
membawa seorang pembesar Tiongkok, kala itu, mengunjungi Tuban, Gresik, dan
Surabaya, daerah di pesisir utara Pulau Jawa. Sebangian besar orang Tionghoa di
wilayah pesisir utara Pulau Jawa pada tahun 855 M telah memeluk Islam dan
orang-orang pribumi yang penyembah berhala ikut memeluk Islam seperti orang
Tionggoa itu. Kesadaran orang-orang Melayu memeluk Islam tumbuh dan berkembang
di Sulsel tidak lepas dari aktivitas perdagangan yang berlangsung sampai ke
kepulauan nusantara terutama di Maluku.

Seorang Muslim dari Persi yang pernah mengunjungi belahan timur Indonesia
memberikan informasi tentang masuknya Islam di Sulsel. Ia mengatakan bahwa di
Sula (Sulawesi) terdapat orang-orang Islam pada waktu itu kira-kira pada akhir
abad ke-2 Hijriah. Dia juga yang mengabarkan tentang kehadiran Islam di
kalangan masyarakat Sulsel. Menurut dia, Islam di Sulsel juga dibawa sayyid
Jamaluddin Akbar Al-Husaini yang datang dari Aceh lewat Jawa (Pajajaran).
Sayyid Jamaluddin datang atas undangan raja yang masih beragama Budha, Prabu
Wijaya yang memerintah Pajajaran pada tahun 1293-1309. Sayyid Jamaluddin Akbar
Al Husaini melanjutkan perjalanan ke Sulsel bersama rombongannya 15 orang.
Mereka masuk ke daerah Bugis dan menetap di Ibu Kota Tosorawajo dan meninggal
di sana sekitar tahun 1320 M. Inilah suatu bukti bahwa jauh sebelum Islam
diterima secara resmi sebagai agama kerajaan di Sulsel pemahaman Islam sudah
ada di masyarakat lewat interaksi sosial dan hubungan dagang antar individu
maupun berkelompok.

Hak Istimewa
Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-10, di Sulsel pernah menetap seorang
dari Jawa bernama Anakoda Bonang yang membawa saudagar melayu Muslim yang
memimpin perdagangan dari Pahang, Patani, Johor, Campa, dan Minangkabau.
Rombongan Anakoda Bonang ini diberi hak istimewa oleh raja. Pada masa itu
Sulsel sudah menjalin hubungan dengan berbagai daerah di Sumatera, Jawa,
Malaka, dan Hindia. Di Makassar, pada masa itu, sudah ada koloni dagang
orang-orang asing dari daerah itu. Sehubungan dengan strategi orang-orang Melayu yang mendirikan
kerajaan-kerajaan yang berpaham Islam di sekitar Pulau Jawa, dalam lontara di
jelaskan, Raja Gowa ke-12, I Manggorai Daeng Mammeta Tunijallo (1565-1590)
bersahabat baik dengan raja-raja di Pulau Jawa bagian barat. Raja Gowa
memberikan fasilitas kepada para saudagar Muslim untuk menetap di sekitar
Istana Kerajaan Gowa.
Islam di Sulsel mencapai puncak keemasannya sekitar awal abad ke-18 yang
ditandai dengan berlakunya syariat Islam dalam berinteraksi sosial.

BAB IV
BUKTI-BUKTI PENINGGALAN SEJARAH ISLAM
Banyak terdapat bukti-bukti peninggalan sejarah Islam di Sulawesi, dan berikut di antrara bukti-bukti tersebut:
1.      Dalam catatan Lontara Bilang tertulis bahwa raja pertama  yang memeluk agama Islam tahun 1603 adalah Kanjeng Matoaya, Raja ke-4 dari Kerajaan Tallo. Penyiar agama Islam di daerah ini berasal dari Demak, Tuban, dan Gresik. Oleh karena itu Islam masuk melalui Raja dan masyarakat Gowa Tallo.
2.      Masjid Hila yaitu masjid pertama Datuk Tiro di Kabupaten Bulukumba yang didirikan oleh Al-Maulana Khotib Bungsu atau Datuk Tiro. Setelah Luru Daeng Biasa masuk Islam, maka Datuk Tiro membuat masjid Hila.
3.      Batu karang berbentuk bukit karang kecil di tengah pantai Semboang dengan tinggi 15 meter, adalah makam Karaeng Sapo Batu, karena Raja Tiro pertama bernama Karaeng Raja Daeng Malaja.
4.      Obyek tinggalan arkeologi Islam yang berada di kota Manado berupa makam tua yang terdapat di kmpleks pekuburan Islam Tuminting. Secara umum bangunan makam memiliki tiga unsur yang menjadi kelengkapan satu dengan lainnya, yaitu:
-          Kijing  (jirat), dasar yang berbentuk persegi panjang  dengan berbagai bentuk variasi.
-          Nisan, berupa tanda yang terbuat dari kayu, batu atau logam yang diletakkan di atas kijing. Nisan ada yang dipasang  pada bagian kepala saja, atau kepala dan kaki.
-          Cungkup, berupa bangunan  pelindung beratap untuk melindungi makam dari hujan.
5.      Benda bersejarah yang berkaitan dengan masuknya agama Islam di Lembah Palu, Sulawesi Tengah, tidak hanya berupa Al-Qur’an kuno saja. Ada sejumlah naskah yang hadir di tengah masyarakat lembah Palu bersamaan dengan masuknya Islam. Naskah tersebut di antaranya berupa naskah Kutika dan Naskah Lontara.
  1. Masjid di Mangallekana Kabupaten Gowa dan pelaksanaan Islam sebelum abad 16.  
BAB V
PENUTUP
    1. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah:
      1. Sebelum hadirnya Islam, masyarakat di Sulawesi telah menganut agama Katholik, Kristen, Hindu, dan Budha, serta animism. Kaya tradisi dan kebudayaan kuno. Kemudian setelah hadirnya Islam di Sulawesi terjadilah perubahan yang cukup signifikan dalal segi hubungan social antar penduduk serta perdagangan, tetapi tidak menghapus tradisi yang ada.
      2. Islam dating di Sulawesi dan menyebar secara damai dan santun. Pertama hadir pada abad ke-15 Masehi di Kerajaan Gowa di Daerah Mangalekana,  yang dibawa oleh para pedagang muslim dari Arab, Persia, India, Cina, dan Melayu ke Ibukota Kerajaan Gowa, Somba Opu.kemudian disebarkan oleh tiga Datuk dari Sumatera yaitu: Datuk Ri Tiro, Datuk Patimang, dan Datuk Ri Bandang. Aliran atau corak yang dibawa adalah sufistik dan tasauf. Karena selain selain mereka ahli dalam bidang sufistik dan tasauf, hal ini pun sesuai dengan masyarakat yang lebih mmenyukai hal-hal yang bersifat kebatinan. Setelah Islam berkembang di Sulawesi  Selatan lambat laun terus menyebar ke seluruh daerah di pulau Sulawesi.
    1. Saran-saran
Untuk lebih menambah wawasan dan memperbaiki makalah ini perlulah kiranya saran yang membangun dari para teman-teman maupun dari kalangan yang berkomitmen terhadap Sejarah  Islam Indonesia.


Daftar Pustaka
http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/08/09/sejarah-awal-islam-sulawesi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Buton
http://dadank22.blogspot.com/2008/11/menelusuri-awal-masuknya-islam-di.html
yatim, Badri .1993.Sejarah Peradaban Islam : Dirasah Islamiyah II.Jakarta:Raja Grafindo Persada
Abdullah, Taufik. 1990. Sejarah Lokal di Indonesia.Yogyakarta:Gama University Press
Harun, Yahya. 1995. Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI dan XVII / M.Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera






Rabu, 20 November 2013

SMA Negeri 1 Amali Boyong Juara I Umum Green School

 

SMA NEGERI 1 AMALI

Alamat: Jalan Poros Waempubbu-Taccipi Km.2 Bululaju Bone  Kota: Bone  Propinsi: Sulawesi Selatan,

 

SMA Negeri 1 Amali Boyong Juara I Umum Green School

 

 

ama SMAN 1 Amali NPSN 40310705 Tipe Negeri Alamat Waempubbu Propinsi Sulawesi Selatan Kab/Ktmdy Kab. Bone Jenjang SMA - See more at: http://www.kesekolah.com/direktori/sekolah/sman-1-amali-bone-sulawesi-selatan.html#sthash.ZJa9SSk0.dpuf

 

Data Sma di kabupaten Bone


Nama Sekolah Kecamatan Status
SMAN 1 AJANGALE NPSN : 40302661 / NSS : 4294967295 AJANGALE Alamat: POMPANUA Negeri
SMAN 1 AMALI NPSN : 40310705 / NSS : 4294967295 AMALI Alamat: BULULAJU Negeri
SMAN 1 AWANGPONE NPSN : 40310706 / NSS : 4294967295 AWANGPONE Alamat: PACCING Negeri
SMAN 1 BENGO NPSN : 40318190 / NSS : 4294967295 BENGO Alamat: BENGO Negeri
SMAN 1 BONTOCANI NPSN : 40310707 / NSS : 4294967295 BONTOCANI Alamat: PAMMUSURENG Negeri
SMAS AL JAMEAH PATTUKU NPSN : 40319179 / NSS : 4294967295 BONTOCANI Alamat: PATTUKU Swasta
SMAN 1 CENRANA NPSN : 40310708 / NSS : 4294967295 CENRANA Alamat: NAGAULENG Negeri
SMAN 2 CENRANA NPSN : 0 / NSS : 4294967295 CENRANAN Alamat: Negeri
SMAN 1 CINA NPSN : 40302662 / NSS : 4294967295 CINA Alamat: BULU DUA Negeri
SMAN 1 DUA BOCCOE NPSN : 40318126 / NSS : 4294967295 DUA BOCCOE Alamat: PATTIRO Negeri
SMAN 1 KAHU NPSN : 40302663 / NSS : 4294967295 KAHU Alamat: PALATTAE Negeri
SMAS DARUL ABRAR NPSN : 40310713 / NSS : 4294967295 KAHU Alamat: BALLE Swasta
SMAN 1 KAJUARA NPSN : 40302664 / NSS : 4294967295 KAJUARA Alamat: BOJO Negeri
SMAN 1 LAMURU NPSN : 40302665 / NSS : 4294967295 LAMURU Alamat: LALEBATA Negeri
SMAN 1 LAPPARIAJA NPSN : 40302667 / NSS : 4294967295 LAPPARIAJA Alamat: LEPANGENG Negeri
SMAN 1 LIBURENG NPSN : 40310709 / NSS : 4294967295 LIBURENG Alamat: CAMMING Negeri
SMAN 2 LIBURENG NPSN : 40310712 / NSS : 4294967295 LIBURENG Alamat: TANABATUE Negeri
SMAN 1 MARE NPSN : 40302668 / NSS : 4294967295 MARE Alamat: KADAI Negeri
SMAS PP AL MANAWARAH NPSN : 40319180 / NSS : 4294967295 PALAKKA Alamat: DESA PANYILI Swasta
SMAN 1 PATIMPENG NPSN : 40310710 / NSS : 4294967295 PATIMPENG Alamat: MASAGO Negeri
SMAN 1SALOMEKKO NPSN : 40310711 / NSS : 4294967295 SALOMEKKO Alamat: PANCAITANA Negeri
SMAN 1 SIBULUE NPSN : 40302669 / NSS : 4294967295 SIBULUE Alamat: PATTIRO Negeri
SMAN 2 WATAMPONE NPSN : 40302553 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG Alamat: JL.GATOT SUBROTO Negeri
SMAS AMIR ISLAM NPSN : 40302659 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG Alamat: JL.S.KAPUAS Swasta
SMAN 1 WATAMPONE NPSN : 40302552 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG BARAT Alamat: JL.TERNATE Negeri
SMAN 3 WATAMPONE NPSN : 40302554 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG BARAT Alamat: JL.BULU TEMPE Negeri
SMAN 4 WATAMPONE NPSN : 40302556 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG BARAT Alamat: JL.HOS.COKROAMINOTO Negeri
SMAS PGRI WATAMPONE NPSN : 40302660 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG BARAT Alamat: JL.HOS.COKROAMINOTO Swasta
SMAS PEMBAHARUAN NPSN : 40310714 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG BARAT Alamat: JL.LAPAWAWOI KR SIGERI Swasta
SMAN 5 WATAMPONE NPSN : 40302557 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG TIMUR Alamat: LONRAE Negeri
SMA ISLAM ATHIRAH NPSN : 0 / NSS : 4294967295 TANETE RIATTANG TIMUR Alamat: KEL. PANYULA Swasta
SMAN 1 TELLU SIATTINGE NPSN : 40302691 / NSS : 4294967295 TELLU SIATINGE Alamat: TOKASENG Negeri
SMAN 1 TONRA NPSN : 40302530 / NSS : 4294967295 TONRA Alamat: GARECING Negeri
SMAN 1 ULAWENG NPSN : 40302551 / NSS : 4294967295 ULAWENG Alamat: TACCIPI

 

Kamis, 14 November 2013

PENGERTIAN TALAQ, FASAKH, KHULU', TA'LIQ, LI'AN, ILA' & ZIHAR

TALAQ PENGERTIAN TALAQ

Talaq dari segi bahasa bererti melepaskan ikatan. Dari segi syara‘ ialah melepaskan ikatan perkahwinan dengan menggunakan lafaz talaq atau seumpamanya.

Talaq : Perceraian yang dilakukan oleh suami dengan lafaz talak satu, dua atau tiga sama ada secara nyata atau kiasan.

Maka sesudah berlaku talak tiga, rujuk atau kahwin semula tidak boleh dilakukan lagi antara suami isteri tersebut. Perkahwinan semula antara keduanya hanya dibenarkan jika isteri yang diceraikan itu telah berkahwin dengan lelaki lain dan telah melakukan persetubuhan dengan suaminya yang kedua dan selepas suami yang kedua itu dengan kerelaan sendiri menceraikan isterinya itu.

Ini merujuk kepada firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesudah (diceraikan dua kali) itu, jika diceraikan pula (bagi kali yang ketiga) maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sesudah itu, sehingga ia berkahwin dengan suami yang lain. Setelah itu jika ia diceraikan (oleh Suami yang baru dan habis ‘iddahnya) maka mereka berdua (bekas suami dan bekas isteri) tidaklah berdosa untuk kembali (berkahwin semula) jika mereka benar-benar yakin dapat menegakkan aturan hukum Allah. Dan itulah aturan-aturan hukum Allah, diterangkan kepada kaum yang (mahu) mengetahui dan memahaminya.” (al-Baqarah: 230).

DALIL HARUS TALAQ

Firman Allah subhanahu wata‘ala, Maksudnya: “Cerai (talaq) itu dua kali, selepas itu peganglah isteri kamu (ruju‘ dan kekallah) dengan cara yang baik atau lepaskanlah dengan cara yang baik.” (Surah Al-Baqarah, 2:229)

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anh yang bermaksud: “Rasulullah SAW telah menceraikan isterinya Hafsah kemudian Baginda meruju`nya semula.” (Riwayat Abu Daud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)


RUKUN DAN SYARAT TALAQ

1.    Suami. Syarat-syarat suami ialah:

  1. Mestilah seorang lelaki itu telah menjadi suami melalui perkahwinan yang sah, tidak jatuh talaq jika belum berkahwin atau setelah bercerai dan habis ‘iddah.

  2. Hendaklah dalam keadaan sedar, tidak jatuh talaq jika sekiranya gila,  pengsan, mengigau dan pitam kecuali mabuk yang disebabkan meminum minuman keras dengan sengaja.

  3. Baligh.

  4. Dengan rela hati dan tidak dipaksa, tidak jatuh talaq jika diugut menceraikan isteri.

2.    Isteri. Syarat-syarat isteri:

  1. Perempuan yang diceraikan hendaklah menjadi isteri yang sah semasa diceraikan.

  2. Talaq akan bertambah lagi jika suami mentalaqkan isteri yang di dalam ‘iddah perceraian talaq satu.


3.    Sighah (lafaz). Sighah talaq terbahagi kepada dua:

  1. Lafaz sarih (terang), iaitu yang diucapkan dengan terang dan jelas. Lafaz sarih ini terbahagi kepada tiga ucapan seperti berkata: “Aku ceraikan engkau talaq satu”,  “Aku lepaskan kau” dan “Aku talaqkan kau”. Talaq dengan lafaz yang seperti ini akan jatuh talaqnya walaupun tanpa niat.

  2. Lafaz kinayah (lafaz kiasan), iaitu cerai yang dilafazkan menggunakan bahasa sindiran seperti berkata: “Engkau haram atas diriku” atau “Pergilah balik ke rumah emak bapak kamu”. Lafaz kinayah ini akan jatuh talaq jika suami berniat menceraikan isterinya.


4.    Qasad (niat).


HUKUM TALAQ

Hukum menjatuhkan talaq pada asalnya diharuskan dalam Islam, tetapi ia akan berubah menjadi:

  1. Wajib: Setelah rumahtangga itu gagal diperbaiki dengan keputusan hakim atau suami telah bersumpah untuk menceraikan isterinya.

  2. Haram: Menceraikan isteri semasa isteri di dalam waktu haidh atau ketika suci tetapi baru disetubuhi.

  3. Sunat: Jika suami tidak dapat menyempurnakan nafkah batin.

  4. Makruh: Boleh menjadi haram jika menceraikan isteri tanpa sebab yang munasabah.


Islam menetapkan hanya suami sahaja yang mempunyai kuasa untuk menjatuhkan talaq. Walaubagaimanapun, isteri juga diberikan hak untuk memohon cerai dengan cara fasakh atau khulu‘ (tebus talaq).


PEMBAHAGIAN TALAQ

Talaq terbahagi kepada dua jenis iaitu:

  1. Talaq Raj‘i, iaitu talaq yang boleh diruju‘ kembali tanpa perlu akad nikah iaitu ketika isteri dalam waktu ‘iddah (sebelum tiga kali suci daripada haidh).

  2. Talaq Ba’in, ia terbahagi kepada dua:

  • Ba’in sughra ialah talaq yang tidak boleh diruju‘ oleh suami kecuali diadakan akad nikah semula iaitu perceraian sama ada melalui fasakh, khulu‘ atau talaq isteri yang belum disetubuhi.

  • Ba’in kubra ialah talaq yang tidak boleh diruju‘ kembali dengan cara biasa melainkan setelah syarat berikut dipenuhi:

  1. Setelah selesai ‘iddah si isteri.

  2. Bekas isteri berkahwin dengan suami lain.

  3. Suami lain menyetubuhi bekas isteri itu dan berlaku perceraian.

  4. Selesai ‘iddah dari suami yang lain itu.



FASAKH

PENGERTIAN FASAKH

Fasakh ialah membatalkan atau pembubaran akad nikah disebabkan oleh kecacatan yang berlaku pada waktu akad atau kecacatan yang mendatang selepas berlakunya akad nikah yang menghalang kekalnya perkahwinan.

SEBAB FASAKH

Antara sebab yang boleh menyebabkan berlakunya fasakh yang menghalang perkahwinan tersebut diteruskan seperti

1. Sebab yang merosakkan akad.

  1. Perkahwinan antara muhrim, sama ada sebab keturunan, susuan atau persemendaan.

  2. Isteri orang, atau isteri yang dalam tempoh ‘iddah talaq suami pertamanya. 

  3. Pernikahan yang dilakukan semasa belum baligh (kecil) dan apabila baligh minta difasakhkan akad itu. 

  4. Wali fasiq atau 

  5. Saksi fasiq (akad tidak sah sejak diadakan), 

  6. Murtad salah seorang daripada keduanya (akad terbatal)


2. Sebab yang mendatang selepas pernikahan.

  1. Salah seorang daripada suami atau isteri itu murtad 

  2. Pasangan suami isteri bukan Islam semasa bernikah dan salah seorang memeluk Islam. 

  3. Akad Nikah sah tetapi difasakhkan oleh qadhi atas tuntutan isteri sama ada kerana suami berpenyakit (dalam kes ini perkahwinan tidak boleh dibubarkan selagi tidak dibicarakan dan diputuskan oleh qadhi atau hakim Mahkamah Syariah), 

  4. Tidak kufu’, 

  5. Suami tidak mampu membayar mahar (pemberian wajib daripada suami kepada isteri) atau 

  6. Suami tak mampu beri nafkah (mengeluarkan belanja kepada mereka yang berada di dalam tanggungan) atau 

  7. Berlaku kesukaran di pihak isteri kerana suami hilang, suami dipenjara, suami menyakiti isteri secara keterlaluan (penderaan fizikal dan mental) atau sebagainya. 

  8. Suami telah melakukan salah satu perkara yang diharamkan sebab persemendaan seperti berzina dengan ibu mertua 


Enakmen Undang-Undang Keluarga Islam [Negeri Melaka 2002, Seksyen 53] menambah lagi sebab-sebab yang menyebabkan berlakunya fasakh seperti di bawah ini:

  1. Tempat di mana beradanya suami telah tidak diketahui selama tempoh lebih dari setahun.

  2. Suami cuai atau telah tidak mengadakan peruntukan nafkah bagi nafkahnya selama tempoh tiga bulan.

  3. Suami telah dihukum penjara selama tempoh tiga tahun atau lebih.

  4. Suami telah tidak menunaikan tanpa sebab yang munasabah nafkah batin selama tempoh satu tahun.

  5. Suami mati pucuk pada masa perkahwinan dan masih lagi sedemikian dan isteri tidak tahu pada masa perkahwinan bahawa suami mati pucuk.

  6. Suami telah gila selama tempoh dua tahun, sedang mengidap penyakit kusta atau sedang mengidap penyakit kelamin yang boleh berjangkit.

  7. Isteri telah dikahwinkan oleh bapa atau datuknya sebelum dia mencapai umur enam belas (16) tahun, menolak perkahwinan itu sebelum mencapai umur lapan belas (18) tahun dan dia belum disetubuhi oleh suaminya itu.

  8. Walaupun empat bulan berlalu perkahwinan itu belum disatukan kerana suami atau isteri bersengaja enggan bersetubuh.

  9. Isteri tidak izin akan perkahwinan itu atau izinnya tidak sah sama ada dengan sebab paksaan, kesilapan, ketidak sempurnaan akal atau lain-lain hal yang diakui oleh hukum syara‘.

  10. Suami atau isteri menganiayai isteri atau suaminya, iaitu antaranya:


  • 1. Lazim menyakiti atau menjadikan kehidupannya menderita disebabkan  kelakuan aniaya.
  • 2. Berkawan dengan perempuan-perempuan atau lelaki yang berperangai jahat atau hidup keji mengikut pandangan hukum syara‘.
  • 3. Cuba memaksa isteri hidup secara lucah.
  • 4. Melupuskan harta isteri atau suami atau melarang isteri atau suami itu daripada menggunakan hak-haknya di sisi undang-undang terhadap harta itu.
  • 5. Menghalang isteri atau suami daripada menunaikan atau menjalankan kewajipan atau amalan agamanya.
  • 6. Jika suami mempunyai isteri lebih daripada seorang, dia tidak melayani isterinya secara adil mengikut kehendak-kehendak hukum syara‘.


  • HIKMAH FASAKH

    1. Untuk menjamin hak dan perlindungan kepada kaum wanita sekiranya mereka teraniaya.

  • Menyedarkan kaum suami bahawa perceraian bukan hanya dimiliki secara mutlak oleh suami sahaja.
  • Menunjukkan keunggulan syari‘at Allah subhanahu wata‘ala yang Maha Mengetahui akan keperluan hambaNya.


  • KHULU’ (Tebus Talaq)

    PENGERTIAN KHULU‘


    Khulu‘ dari segi bahasa bererti melepas atau menanggalkan. Manakala dari segi syara‘ pula ialah perceraian daripada suami ke atas isteri dengan tebusan yang diterima oleh suami.


    Contohnya suami berkata “Aku talaqkan kamu dengan bayaran sekian banyak” atau isteri berkata: “Aku menebus talaq ke atas diriku dengan bayaran sekian banyak”.


    Khulu’ : Ia juga dikenali sebagai ‘Tebus Talaq’ yang bermaksud pembubaran perkahwinan yang diperolehi oleh seorang isteri dengan membayar kepada suaminya dengan sesuatu benda yang berharga di mana kadar benda tersebut adalah berdasarkan persetujuan antara suami dan isteri berkenaan atau berdasarkan kepada keputusan qadhi. Ini dikira sebagai ganti rugi-kepada suami berkenaan.


    Hal ini adalah berdasarkan pengertian yang diambil dari sebuah hadis Rasulullah SAW yang bermaksud: Dari Ibnu Abbas RA bahawa isteri Thabit bin Qais telah datang berjumpa Rasulullah SAW lantas berkata “wahai Rasulullah, saya hendak meminta cerai dari suami saya dan tidak ada cacian terhadapnya tentang perangainya dan keagamaannya tetapi saya bencikan sifat kekufuran yang ada padanya sedangkan saya seorang Islam.” Maka sabda Rasulullah SAW “Adakah engkau bersedia mengembalikan kebunnya yang telah diberikan kepada kamu sebagai mas kahwin?” Jawabnya: “Ya saya bersedia.” Lalu baginda menyuruh Thabit bin Qais menerima kembali kebunnya dan menceraikan isterinya. Maka Thabit menerima perintah baginda dan diceraikan isterinya. (Bukhari dan an-Nasa’i)

    Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan tidak halal bagi kamu mengambil balik sesuatu dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka (isteri-isteri yang diceraikan itu) kecuali jika keduanya (suami dan isteri) takut tidak dapat menegakkan peraturan hukum Allah, maka tidaklah mereka berdosa mengenai bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya (dan mengenai pengambilan suami tentang bayaran itu). Itulah peraturanperaturan hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya; dan sesiapa yang melanggar peraturan-peraturan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)

    Secara umumnya apa sahaja yang boleh dijadikan mahar (mas kahwin) boleh dijadikan bayaran khulu’. Iaitu setiap barang yang bernilai atau mempunyai manfaat dan ditentukan secara pasti tentang benda dan faedah yang hendak digunakan sebagai bayaran khulu’ tersebut.

    Nafkah yang wajib ke atas suami kepada isterinya atau nafkah anak kecil yang berada di bawah jagaan ibu atau bayaran susuan dan jagaan anak dengan ditentukan jangka waktunya juga boleh dijadikan bayaran khulu’ dari isteri. Dengan ini nafkah yang wajib dibayar oleh suami tidak perlu lagi dibayar dan ia ditanggung sendiri oleh isteri.

    Di antara kesan khulu’ ialah bekas suami tidak boleh rujuk kepada bekas isterinya, bekas suami tidak boleh menambah talaq ke atas bekas isterinya, bekas suami tidak boleh menambah talaq ke atas bekas isterinya dalam waktu ‘iddah dan suami juga tidak boleh berkahwin dengan bekas isterinya kecuali dengan akad dan mas kahwin yang baru.

    Iddah bagi isteri yang dikhulu’ adalah sekali haidh dan pembubaran menerusi khulu’ ini boleh dilakukan pada bila-bila masa iaitu waktu suci atau waktu isteri sedang haidh.

    Maka berdasarkan khulu’ ini inisiatif untuk perceraian datang dari pihak isteri sendiri dan alasan yang boleh diterima oleh syarak. Namun dalam hal ini mana-mana suami adalah dilarang menggunakan kesempatan untuk bertindak menimbulkan kesukaran kepada isterinya bagi mendapat khulu’ daripadanya kerana dalam kes begini ahli feqah berpendapat khulu’ adalah batal dan bayaran tebus talaq dipulangkan kepada si isteri semula.

    DALIL PENSYARI‘ATAN KHULU‘

    Firman Allah subhanahu wata‘ala, maksudnya: “Talaq (yang boleh diruju‘ kembali) hanya dua kali. Sesudah itu peganglah (ruju‘) atau lepaskan (cerai) dengan cara yang baik. Dan tidak halal bagi kamu mengambil balik sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka (isteri yang kamu ceraikan) kecuali jika keduanya takut tidak dapat menegakkan peraturan-peraturan hukum Allah. Oleh itu, kalau kedua-kedua kamu khuatir maka tidaklah berdosa tentang bayaran balik (tebus talaq) yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (Surah Al-Baqarah, 2:229)

    SYARAT SAH KHULU‘

    1. Suami: Baligh, berakal, mukhtar (bebas) melakukan khulu‘ bukan dipaksa.

    2. Isteri: Hendaklah seorang yang boleh menguruskan harta dan mukallaf.

    3. Lafaz khulu‘: Hendaklah disebut dengan terang.

    4. Bayaran khulu‘: Hendaklah dijelaskan dengan jumlah yang tertentu.


    Peringatan:
    Walaupun isteri mempunyai hak untuk memohon fasakh dan khulu‘, tetapi Rasulullah SAW menuntut agar ia tidak dilakukan dengan sewenang-wenangnya.

    Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Mana-mana perempuan yang memohon cerai daripada suaminya tanpa sebab yang munasabah maka haram ke atasnya bau syurga. (Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Ahmad)


    TA’LIQ

    PENGERTIAN TA‘LIQ


    Ta‘liq ialah lafaz yang diucapkan sebagai syarat untuk membatalkan pernikahan jika berlakunya sesuatu yang bertentangan dengan ta‘liq tersebut.

    Ta’liq : iaitu menggantungkan perceraian kepada sesuatu masa atau sesuatu perbuatan seperti kata suami kepada isterinya: “Sekiranya kau pergi ke tempat tertentu maka kau tertalaq.”

    Perceraian tidak berlaku semasa suami melafazkan ta’liq tetapi hanya berlaku sekiranya syarat yang disebut dalam lafaz ta’liq tersebut dilanggar.

    Di Malaysia cerai ta’liq ini adalah suatu bentuk perceraian yang biasa diamalkan. Selepas akad nikah seseorang suami dikehendaki melafazkan ucapan ta’liq dan menandatangani surat ta’liq di hadapan juru nikah.

    Contohnya seperti di Wilayah Persekutuan, lafaz ta’liq tersebut adalah: 


    “Bahawa adalah saya mengaku apabila tinggalkan isteri saya (nama) selama empat bulan Hijrah berturut-turut atau lebih dengan sengaja atau paksaan dan saya atau wakil saya tidak memberi nafkah kepadanya selama masa yang tersebut pada hal atau saya melakukan sebarang mudharat kepada tubuh badannya kemudian ia mengadu kepada Mahkamah Syariah dan memberi kepada Mahkamah Syariah yang menerima bagi pihak saya satu ringgit maka pada ketika itu tertalak ia dengan cara talak khulu” 

    [Akta Undang-undang Keluarga Islam (Wilayah Persekutuan) 1984, Kaedah-kaedah Keluarga Islam (borang dan Fee) 1985 (seksyen 134(3)]

    SYARAT TA‘LIQ

    1. Suami - Hendaklah mempunyai keahlian menjatuhkan cerai dengan melafazkan kata-kata ta‘liq.

    2. Belum berlaku - Hendaklah ta‘liq ke atas perkara yang belum berlaku atas perkara yang mungkin berlaku.

    3. Isteri - Hendaklah menjadi ahli cerai (masih menjadi isteri yang sah).


    Contohnya suami berkata kepada isteri: “Jika engkau keluar dari rumah ini sepanjang ketiadaan aku, jatuhlah talaq engkau” atau “Apabila engkau pergi ke rumah si anu, jatuhlah talaq” atau “Manakala engkau pergi ke sana tanpa izinku jatuh talaq” atau sebagainya.

    Apabila berlakunya perkara yang bertentangan dengan syarat yang dilafazkan, maka terjatuhlah talaq menurut hukum syara‘.

    PERUNTUKAN UNDANG-UNDANG MENGENAI TA‘LIQ

    Berdasarkan Enakmen Undang-Undang Keluarga Islam (Negeri Melaka) 2002, Seksyen 50, seseorang perempuan yang bersuami boleh jika berhak memohon penceraian menurut syarat-syarat ta‘liq yang dibuat selepas akad nikah. Kandungan lafaz ta‘liq tersebut :

    1. Meninggalkan isteri selama empat bulan berturut-turut.

    2. Tidak memberi nafkah yang wajib selama empat bulan berturut-turut.

    3. Menyakiti tubuh badan isteri.

    4. Suami tidak mempedulikan isteri selama tempoh empat bulan berturut- turut.



    LI’AN

    PENGERTIAN LI‘AN

    Li‘an berlaku apabila terjadinya qazaf iaitu suami menuduh isterinya berlaku zina atau menafikan anak yang dikandungkan oleh isterinya sebagai anak.

    Li‘an ialah sumpah seorang suami apabila dia menuduh isterinya berzina tanpa mempunyai empat orang saksi kecuali dirinya sahaja, maka hendaklah dia bersumpah empat kali “bahawa dia adalah orang yang benar” dan pada kali kelimanya “bahawa dia akan dilaknati Allah jika dia berdusta”.

    Sekiranya isteri menolak tuduhan tersebut, maka hendaklah dia bersumpah sebanyak empat kali “bahawa suaminya itu berdusta” dan pada kali kelimanya “bahawa dia akan dilaknati Allah jika suaminya benar”.

    Li’an : Ianya berlaku apabila seseorang suami bersumpah menuduh isterinya melakukan zina dan isterinya juga bersumpah menafikan tuduhan suaminya itu.

    Firman Allah subhanahu wata‘ala: “Adapun orang yang menuduh isterinya berzina sedangkan mereka tidak ada saksi (empat orang) kecuali hanya dirinya sahaja maka persaksian bagi orang yang menuduh itu hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak empat kali bahawa sesungguhnya dia adalah orang yang benar. Dan sumpahan yang kelima bahawa laknat Allah akan menimpanya jika dia berdusta. Dan untuk menghindarkan seksa terhadap isteri yang tertuduh itu hendaklah si isteri bersumpah dengan nama Allah sebanyak empat kali bahawa sumpahan yang kelima hendaklah dia berkata kemungkaran Allah akan menimpa dirinya.” (Surah An-Nur, 24:6-9)

    KESAN LI‘AN

    Berdasarkan Seksyen 51 Enakmen Undang-undang Keluarga Islam (Negeri Melaka) 2002 menegaskan bahawa: “Jika pihak-pihak kepada sesuatu perkahwinan telah mengangkat sumpah dengan cara li‘an mengikut hukum syara‘ di hadapan seorang hakim syar‘i, atas penghakiman, maka hakim syar‘i itu hendaklah memerintahkan mereka difaraqkan dan dipisahkan dan hidup berasingan selama-lamanya.”

    Mengikut peruntukan hukum syara‘, sekiranya yang menuduh (suami) enggan bersumpah, maka dia akan dikenakan hukuman qazaf dengan sebatan sebanyak 80 kali rotan. Manakala jika isteri yang dituduh pula tidak menolak tuduhan suaminya, maka dia akan dikenakan hukuman sebagaimana orang yang berzina kecuali kedua-dua mereka bersumpah dan melakukan li‘an.

    Apabila kedua-duanya bersumpah dan melakukan li‘an, maka ikatan perkahwinan mereka suami isteri akan terputus sama sekali dan mereka diharamkan berkahwin semula buat selama-lamanya.

    Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah telah bersabda yang bermaksud: “Suami isteri yang melakukan li‘an apabila mereka berdua berpisah, kedua-dua mereka tidak boleh berkumpul (berkahwin) untuk selama-lamanya.(Riwayat Daruqutni)


    ILA’

    Iaitu apabila seseorang suami bersumpah dengan nama Allah SWT atau dengan menyebut sifat Allah SWT untuk tidak bersetubuh dengan isterinya selama empat bulan atau lebih atau dengan tidak menyebut tempoh masa. Tujuannya untuk bagi isteri merana dan susah. Perbuatan ini haram kerana menyeksa jiwa manusia.

    Firman Allah SWT yang maksudnya: “Kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan mencampuri isteri mereka, diberikan tempoh untuk empat bulan. Setelah itu jika mereka kembali (mencampurinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani. Dan jika mereka berazam hendak menjatuhkan talaq (menceraikan isteri), maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 226-227)

    Saidina Ali radiyaLlahu 'anhu berkata : Apabila seorang lelaki melakukan ila' terhadap isterinya, talaknya tidak jatuh walaupun telah berlalunya empat bulan selagi si suami belum memutuskan samada menceraikan isterinya atau dia menarik balik sumpahnya (iaitu dengan rujuk kepada isterinya dan menyelesaikan kafarahnya) (Riwayat Malik rahimahuLlah dalam al Muwatta' dalam kitab talak, bab ila' nombor 2/556. Hadis yang seumpama ini juga diriwayatkan daripada Ibnu Umar radiyaLlahu 'anhu.

    Hukum Ila'

    Jika suami bersumpah tidak akan bersetubuh dengan isterinya secara mutlak atau selama lebih daripada empat bulan, beliau telah melakukan ila' terhadap isterinya. Terdapat beberapa hukum syarak berkaitan dengan ila' tersebut :

    Hakim hendaklah memberi peluang selama 4 bulan kepada suami bermula dari hari ia bersumpah. Ini akan memberi peluang kepada suami untuk menarik balik sumpahnya dan membayar kafarah sumpah atau menceraikan isterinya

    Jika dia tidak mahu rujuk dan tidak mahu membayar kafarah sumpah, hingga tempoh 4 bulan tadi tamat, dan suami tetap dengan sumpahnya, maka ketika itu, hakim berhak mengambil salah satu tindakan berikut :

    1. Memaksa suami menarik balik sumpahnya dan kembali menyetubuhi isterinya serta membayar kafarah sumpah, jika dia bersumpah dengan nama Allah atau bersumpah dengan salah satu sifat Allah. Jika dia bersumpah untuk melakukan sesuatu atau bersedekah dengan sesuatu, dia hendaklah melakukannya.

    2. Memaksa suami menceraikan isterinya jika dia enggan menarik balik sumpahnya dan tetap berpegang dengan sumpahnya.


    Sekiranya suami enggan melakukan salah satu daripada perkara di atas, maka hakim berhak menjatuhkan talaq satu bagi pihaknya. Itu adalah hak hakim untuk mengelakkan kemudaratan berlaku kepada orang lain dan tidak ada cara lain melainkan dengan hakim menjatuhkan menjatuhkan talak bagi pihaknya. Ketika itu hakim menggantikan tempat suami dalam menjatuhkan talak. Masalah ini sama dengan masalah membayar hutang dan menjelaskan hak-hak yang berbentuk harta.

    Tindakan tersebut dilakukan jika suami tidak mempunyai keuzuran yang menghalangnya daripada melakukan persetubuhan. Jika suami mempunyai keuzuran seperti sakit atau sebagainya, dia hendaklah diminta menarik balik sumpahnya dengan lidahnya sendiri seperti ia berkata : "Jika aku mampu bersetubuh aku akan menarik balik pendirianku dan sumpahku"

    KIFARAH SUMPAH

    1. Merdekakan seorang hamba yang mukmin, atau

    2. Memberi makan kepada 10 orang fakirmiskin sehingga kenyang, atau

    3. Memberi pakaian kepada 10 orang fakirmiskin, jika tidak mampu

    4. Berpuasa tiga hari.


    Sila rujuk ayat 89 surah al maaidah yang bermaksud : ...maka kafaratnya ialah Memberi makan sepuluh orang miskin dari jenis makanan yang sederhana yang kamu (biasa) berikan kepada keluarga kamu, Atau memberi pakaian untuk mereka, Atau memerdekakan seorang hamba. Kemudian sesiapa yang tidak dapat (menunaikan tiga pilihan kafarat di atas), maka hendaklah dia berpuasa tiga hari. Yang demikian itu ialah kafarat penebus sumpah kamu...

    Setiap orang miskin (yang 10 orang tu) mesti diberikan secupak beras (3/4 cupak Malaysia). Mesti diserahkan kepada setiap orang fakir atau miskin. Tidak boleh bawa mereka belanja makan di kedai, juga tidak boleh ditukarkan kepada wang.


    ZIHAR

    Iaitu apabila seseorang suami itu menyamakan belakang isterinya dengan belakang ibunya (atau orang yang diharamkan berkahwin dengannya). 


    Maksudnya menyamakan isteri dengan emaknya sendiri tentang haram disetubuhi (macam sudah cerai). 


    Maka jika selepas dia berkata demikian tiba-tiba dia diam tidak diringi dengan talaq atau cerai dalam masa kira-kira sempat berbuat demikian, nescaya dinamakan Zihar.

    Hal ini dijelaskan di dalam al-Quran yang bermaksud: “Orang-orang yang ziharkan isterinya dari kalangan kamu (adalah orang-orang yang bersalah, kerana) isteri-isteri mereka bukanlah ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka (dengan melakukan yang demikian) memperkatakan suatu perkara yang mungkar dan dusta. Dan (ingatlah) Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (al-Mujadalah: 2)


    RUKUN ZIHAR

    1.     Suami
    2.     Isteri
    3.     Perkara yang diserupakan
    4.     Lafaz zihar

    Untuk mensabitkan rukun ini, beberapa syarat berikut mesti difahami. Syarat yang disepakati oleh jumhur ulama :-

    1. Anggota-anggota yang haram dilihat oleh sesama mahram.

      • Contoh punggung, perut, kemaluan, tangan, kepala, kaki, rambut, dan  lain-lain . 


      • Demikian pandangan kebanyakan ulama, Ulama Hanbali dan Maliki mensabitkan seluruh anggota sama ada haram dilihat mahupun tidak, semuanya boleh mensabitkan zihar (Al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu, 9/7173) Pandangan yang rajih adalah pandangan jumhur.

    2. Mestilah anggota-anggota ini daripada wanita yang diharamkan 
      berkahwin dengan si lelaki samaada tahrim secara berkekalan (muabbad) atau keturunan (nasab) atau susuan dan musoharah. Seperti Ibu, Anak, Adik beradik, Pak cik, Mak cik dan lain-lain yang berkaitan.



    Inilah pandangan mazhab utama, juga pandangan Hasan al-Basri, Ato Abi Rabah, As-Syabi, An-Nakhaie, Al-Awzaie, at-Thawry, Ishak Rahawaih, Abu Ubaid, Abu Thaur.

    Pandangan Imam Syafie dalam 'Qawl Qadim': Tidak jatuh zihar terhadap semua wanita kecuali ibu dan nenek sahaja kerana ayat berkenaan zihar itu ditujukan khas untuk ibu. Tetapi 'Qawl Jadid' Imam Syafie meminda ijtihadnya dengan mengatakan jatuh zihar kerana wanita yang diharamkan tadi menyerupai pengharaman ibu (al-Muhazzab, As-Syirazi dan al-Majmu, 19/45)

    Manakala yang tidak muabbad seperti wanita asing, adik beradik perempuan bagi isteri dan lain-lain. Tidaklah penyerupaan dengan mereka dianggap zihar. (Lihat Al-Fiqh ala al-Mazahib al-Arbaah 4/500; Ad-Dusuqi ala syarh al-Kabir 2/439; Ashal al-Madarik 2/169; Kifayatul akhyar 2/71)

    Ulama Maliki menambah bahawa binatang juga termasuk dalam kategori yang tidak boleh disamakan. Kerana asalnya manusia tidak boleh berhubungan jenis dengan binatang.

    Ulama Maliki juga mensabitkan zihar kiranya menyamakan rambut isteri dengan rambut ibu. Manakala jumhur tidak berpandangan sekian. (Ad-Dusuqi ala syah al-Kabir, 2/439)

    Syarat yang diperselisihkan :- 

    Mestilah diserupakan dengan anggota wanita.

    1. Kiranya ditasybihkan dengan lelaki seperti Belakang atau Punggung kamu seperti belakang atau punggung bapaku. Ulama Hanafi dan Syafie mengatakan TIDAK JATUH ZIHAR.

    2. Bagaimanapun Ulama Hanbali dan Maliki mengatakan JATUH ZIHAR DENGAN SYARAT MENYAMAKAN DENGAN ANGGOTA YANG TIDAK HALAL DILIHAT SEPERTI PERUT, PEHA, KEMALUAN, PUNGGUNG dan lain-lain yang seerti.

    3. Kiranya menyamakan dengan kepala bapa, rambut, hidung dan lain-lain, TIDAKLAH DIANGGAP ZIHAR (Lihat ashal al-Madarik 2/170; Juga al-Fiqh ala al-Mazahib al-Arbaah, 4/499). Semua mazhab mempunyai dalil masing-masing.


    Ulama Syafiiyyah mengatakan kiranya tasybih itu bukan pada bahagian haram dilihat tadi, ia bergantung kepada niat, kiranya ia berniat memuliakan, bangga maka tidaklah jatuh zihar, jika sebaliknya maka jatuh zihar. (Kifayatul akhyar, 2/70)

    4.   Sighah (Lafaz Zihar), Syarat lafaz untuk untuk sabit zihar adalah :-

    a. Perlu kepada niat, jika ianya dibuat secara Kinayah (tidak jelas).

    • Sighah Sorihah (terang, jelas) seperti: Punggung Dinda benar-benar seperti punggung bonda Kanda. Lafaz seperti di atas tidak perlu kepada niat, bahkan jatuh zihar apabila didengari.

    • Sighah Kinayah (tidak jelas) pula adalah lafaz-lafaz yang boleh diandaikan bermaksud zihar tapi mungkin juga tidak seperti: Dinda ni seperti bondaku. Lafaz seperti ini kemungkinan bermaksud zihar kemungkinan juga bermaksud memuliakan, hormat, penghargaan dan lain-lain. Maka ia bergantung kepada niat si suami.

    Lafaz ini telah ijma di kalangan ulama tentang sabit zihar. Demikian menurut Ibn Munzir ( Lihat al-Majmu Imam Nawawi yang dilengkapkan oleh Syeikh Najib al-Mutie, 19/44)

    b. Tidak disyaratkan untuk sabit zihar, mesti menggunakan lafaz yang

    memberi pengertian semasa.

    • Zihar jatuh dengan lafaz yang membawa pengertian semasa seperti : Punggung Dinda benar-benar seperti punggung bonda Kanda

    • Juga jatuh kiranya diikat dengan waktu tertentu seperti : Kiranya dinda masuk ke rumah itu maka Perut Dinda seperti perut bondaku

    • Jatuh zihar juga kiranya disandarkan ke zaman akan datang seperti :  Awal tahun depan Punggung Dinda mesti macam seperti bonda kanda atau Kanda yakin perut Dinda memboyot seperti perut bonda Kanda dalam masa sebulan.     


    Semua lafaz tadi cukup untuk menjatuhkan hukum zihar. (Rujuk Al-Bidayah al-Mujtahid 2/117; Matolib Uli An-Nuha 5/507 )
      


    c. Mestilah lafaz tadi disandarkan kepada anggota tubuh wanita samada secara juzu atau sepenuhnya. (Bahagian yang diharamkan lihat tadi tanpa boleh di ihtimal lagi). ( Lihat BadaI as-Sanai , 5/2129 )



    HUKUM SETELAH JATUH ZIHAR

    Setelah cukup syarat dan sabit jatuh zihar maka beberapa hukum berikut sabit

    1.    Haram menyetubuhi isterinya (yang diziharkan) kecuali setelah dibayar Kifarah. Ini adalah pandangan jumhur. Menurut tertibnya KIFARAH ZIHAR adalah


    1. Membebaskan seorang hamba yang mukmin, jika tak mampu..

    2. Puasa 2 bulan berturut-turut, jika tak mampu..

    3. Memberikan makanan yang mengenyangkan kepada 60 orang fakir atau miskin, setiap orang 1 cupak makanan,..

    4. jika tak mampu juga makan tetaplah kifarah itu tertanggung keatas dirinya, bila ada kemampuan wajiblah dia sempurnakan seberapa yang terupaya.

           Dalilnya adalah daripada Firman Allah SWT surah al-Mujadalah ayat 58.

    2.    Tidak dibenarkan  istimta (bersedap-sedap, berseronok-seronok), 
    sentuh dengan syahwat sebelum membayar kifarah juga tidak dibenarkan (Tahrim Wasail) di sisi ulama Hanafi dan Maliki ( BadaI as-SanaI, 5/2132; Ashal al-Madarik 2/170) Tetapi ianya harus di sisi ulama Syafie (Lihat Rawdah at-Tolibin 8/270; Fath al-Jawad 2/187; Ianah at-Tolibin 4/37)

    Pandangan yang rajih adalah tidak dibenarkan dengan tahrim wasail, kerana dibimbangi akan tergelincir ke persetubuhan. Pandangan lebih selamat bagi fatwa untuk orang awam. Kiranya sangat yakin tidak akan tergelincir dan tidak dapat menahan kesabaran hingga dibimbangi memudaratkan, maka ketika itu ia menjadi rukhshoh.

    Kesimpulan Jawapan Terhadap Soalan (Mengambil Pandangan yang Rajih)

    1. Hanya jatuh (sabit) Zihar sekiranya menyamakan isteri dengan ibu,
      1. nenek, anak dan semua wanita yang diharamkan suami berkahwin 
      dengannya secara kekal sama ada secara Keturunan, Susuan mahupun Musoharah.

    2. Penyamaan anggota tertentu sahaja yang menyebabkan sabit zihar iaitu Seluruh atau juzuk dari anggota yang haram dilihat semasa mahram. Penyamaan dengan anggota selain itu tidaklah sabit zihar. 

    3. Tidak sabit zihar, kiranya menyamakan anggota isteri dengan mana-mana lelaki. Hanya penyamaan dengan wanita sahaja sabit. Begitu juga menyamakan suara, rupa dan sebagainya.

    4. Istimta dengan isteri yang telah dizihar sebelum membayar kifarah adalah tidak dibenarkan dengan tahrim wasail. Dibimbangi akan terlanjur. 

    JUSTERU, MENYAMAKAN RUPA, HIDUNG ISTERI DENGAN RUPA DAN HIDUNG ANAK TIDAKLAH JATUH ZIHAR,

    BAGIAMANAPUN MENYAMAKAN PUNGGUNG ISTERI DENGAN PUNGGUNG ANAK PEREMPUANNYA, SABIT JATUH ZIHAR. Walaupun si suami tidak berniat.

    Masalah Kejahilan tentang hukum ini,mempunyai perbincangan yang lain yang agak panjang, 

    Rabu, 13 November 2013

    Cara Mengetahui Kunci Kode Pengaturan Awal Telpon Yg Sdh diubah

    Cara Mengetahui Kunci Kode Pengaturan Awal Telpon Yg Sdh diubah


    Jika Anda lupa kode keamanan (Kode kunci), Kini tidak perlu repot-repot tentang hal itu. post kali akan menampilkan kode untuk membuka Kode Keamanan ponsel Anda. Kode Stndrt Pngaturan Awal untk Nokia adlh 12345 ,tp trkadang kode tsb ada yg sdh diubah oleh pmilik hp. Tp sblmnya Anda hrs Mengetahui no IMEI hp Anda. Untk Mngetahui no IMEI Silahkan Ktik dilayar kosong *#06# dan Untk Mngetahui Kode Pngaturan awal telp Silahkan Klik dibwh ini...

    comot.jpg


    Jika Cara diatas Mengalami Kegagalan ,Silahkan pake cara yang ke dua.
    Langsung Aja Silahkan...

    i37.pngKLIK diSINI


    Atau bisa juga
    KLIK diSINI


    »Masukkn nomr IMEI
    »Klik GET/G0

    Cara ketiga
    Cara Paling Mudah dngn memakai..

    Aplikasi kode kunci HP:

    untk s60v2
    Download UnlockMe.sis


    Untk hp s60v3/v5 silahkan Ambil aja dibwh ini:
    Unlockmev3-v5.sisx


    cara pake Aplikasi unlockMe s60v2:
    =>Buka aplikasi unlockMe
    =>Tunggu beberapa saat kode angka yg akan muncul
    =>Masukkan Kode ke 'Pengaturan Awal Telpon'

    Trik Reset 3Jari Symbian v2,v3,v5

    KLIK diSINI


    Catatan:
    Cara ini Hanya untuk hp Nokia aja
    Selamat Mencoba.....!
     

    Kumpulan Aplikasi Lengkap Komputer,Handphone dan Pengetahuan Pendidikan Published @ 2014 by Ipietoon